Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Berempat


__ADS_3

Gavin membawa Nara menuju lantai dua, Nara berjalan sambil mengamati. Di lantai dua ini ada empat kamar sedangkan di lantai tiga Nara belum tahu apa isinya.


Gavin berhenti di depan pintu kamar bercat putih, Gavin membuka pintu itu. Nara melihat sebuah kamar dengan ukuran yang besar, lebih luas tiga kali lipat dari kamar di rumahnya.


“Ini kamar yang akan kita tempati,” kata Gavin, seketika Nara menghentikan langkahnya. Ia diam mengamati seisi kamar ini.


“Kenapa? Apa ada yang kurang?” Gavin ikut berhenti, ia menatap Nara bingung.


“Apa kamar ini yang kamu dan Jovanka tempati?” tanya Nara lirih, ia sendiri merasa tak enak karena menanyakan hal ini. Tapi, begitu mengingatnya Nara jadi kepikiran.


Gavin tersentak, buru-buru ia menggeleng. “Kamu tenang saja, ini kamar belum pernah di pakai orang lain kecuali saat aku ingin sendiri. Aku dan Jovanka tinggal di kamar sebelah sana,” tunjuk Gavin pada sebuah kamar yang ada di sebelah kamar anak-anak.


Nara bernapas lega, lalu ia melanjutkan langkahnya. Masuk ke dalam kamar barunya dan akan ia tempati bersama Gavin sebagai suami. Kamar ini luas, ada ranjang kingsize dan walk in closet di sebelah kamar mandi. Kamar bernuansa putih dan abu-abu tampak lebih luas saat ada balkon di sisi sebelah kiri ranjang.


“Besok kita pergi ke rumahmu untuk mengemas pakaian kamu dan anak-anak, untuk sementara Mamah sudah nyiapin beberapa baju di dalam walk in closet, jadi kamu nggak perlu khawatir karena takut nggak punya baju,” jelas Gavin, Nara mengangguk paham. Ia masih menatap kagum seluruh isi kamar ini.


“Oh ya, sekalian aku mau kasih kamu ini,” Gavin mengambil dompet di saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam yang membuat Nara melotot kaget.


“Buat apa?” Nara masih terkejut melihat kartu itu.


“Buat kamu, sekarang kamu sudah jadi istri aku. Jadi, sudah kewajiban aku untuk nafkahi kamu. Kamu bisa bebas pakai kartu ini dan jangan takut limitnya habis. Karena, uangku banyak," ucap Gavin.


Nara masih sedikit ragu untuk menerima kartu itu, tapi Gavin langsung mengambil tangannya dan memberikan kartu hitam tanpa limit. Nara jadi gemetaran karena baru kali ini ia memegang sebuah black card.


"Yahh ... Mbak Nara di kasih kartu yang no limit, masa kita berdua enggak!" celetuk Bina yang tiba-tiba sudah ada di sebelah mereka berdua.


“Hantu emang sukanya gentayangan,” cibir Gavin.


“Sembarangan ngatain aku hantu, aku ini cantik. Masa ada hantu cantik," protes Bina dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


“Hmm ... Kalian berdua mau apa ke sini?” tanya Gavin mengalihkan topik..


"Mau lihat kalian yang lagi romantisan. Aduhh, ih jadi pengen nikah," Bina terkikik geli.


"Belajar dulu, lo itu masih di bawah umur ... " Ghiska menoyor kepala Bina, membuat gadis itu meringis pelan.


“Ihhh kamu ya, aku kan cuma becanda,” keluh Bina.


“Mendingan keluar kalau kalian nggak ada urusan.”


“Adaa ... Kita berdua mau kasih ini, tadi lupa waktu di bawah,” Bina dan Ghiska memberikan sebuah kado pada Nara.


“Masih ingat juga, aku pikir kalian datang dengan tangan kosong,” Gavin pun menggiring kedua sepupunya untuk segera keluar dari kamar.


“Aku bisa jalan sendiri, Mas!!” Bina melotot kesal.


“Jangan lupa pakai, ya Mbak. Hadiah aku bagus banget tau,” Bina terkekeh di susul cubutan keras di lengan kanannya oleh Ghiska.


“Lo nakal banget sihh,” kata Ghiska.


“Nakal sekali-kali nggak apa-apa kalik,” pungkas Bina.


.


.


.


Malam telah tiba, semua orang sudah menyelesaikan makan malam mereka. Bina dan Ghiska usai makan langsung menonton televisi dan berebut remot. Mereka tidak peduli kalau mereka sudah besar dan bukan anak kecil lagi, sedangkan Nara kini bersiap untuk menemani anak-anaknya untuk tidur.

__ADS_1


Dua jam setelah makan malam Nara langsung mengajak Nessa dan Nevan ke kamar, setibanya di kamar Nara pun terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Kamar anak-anak sudah di tata rapi dengan dua ranjang kecil berbeda warna.


Satu kamar ada dua warna cat dinding. Satu biru dan satu merah muda. Di bagian milik Nevan berisi buku-buku serta mainan kesukaan putra Nara. Di bagian milik Nessa berisi boneka-boneka cantik kesukaan putri Nara.


“Bunda nanti tidur dimana?” tanya Nessa yang sudah berbaring di ranjang.


“Di kamar,” jawab Nara.


“Ngga di sini?”


“Nggak lah sayang, kalau Bunda tidur di sini nanti nggak muat, dong.”


“Kalau gitu malam ini Nessa mau sama Bunda,” pinta Nessa, Nara berpikir sejenak.


Mengingat malam ini ia hanya tidur berdua dengan Gavin, Nara pun menyetujui permintaan Nessa.


“Hayu lah kita tidur berempat sama ayah ... ” ucap Nara ikut bersemangat.


“Biasanya juga tidur sendiri,” celetuk Nevan, Nessa menjulurkan lidah.


Nara langsung beranjak, menggandeng tangan Nessa dan Nevan untuk pergi ke kamarnya dan Gavin. Setibanya di kamar, sudah ada Gavin yang telah berganti pakaian dan memakai piyama.


“Lho? Ayah pikir kalian udah tidur,” kata Gavin begitu melihat istri dan kedua anaknya masuk kamar.


“Mau tidur bareng Bunda sama Ayah,” ujar Nessa.


“Berempat?” Gavin memastikan.


Nessa mengangguk semangat, ia menjawab, “Iya, berempat. Aku, Ade, Ayah sama Bunda.”

__ADS_1


__ADS_2