Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Perampokan


__ADS_3

Jovanka memasuki ruangan Gavin tanpa permisi, di ikuti oleh sekretaris Gavin yang sedang ketakutan. Sudah melarang Jovanka untuk masuk tapi dia malah di marahi dan bilang kalau dia akan di pecat.


Tapi bagi sekretaris Gavin yang bernama Fifi itu, atasannya adalah Gavin dan bukan istrinya. Jadi yang berhak memecatnya adalah Gavin, Fifi masih mencoba menghalangi Jovanka, bilang kalau di dalam Gavin sedang ada tamu.


Tak peduli dengan omongan sekretaris suaminya, Jovanka tetap kekeh dan ingin masuk. Dengan langkah angkuhnya dia membuka pintu, memang benar kalau suaminya sedang ada tamu.


Saat melihat tatapan terkejut dari Gavin dan gurat kemarahan di wajahnya, sudah pasti kalau Gavin menahan emosi. Terus berjalan sampai Jovanka baru sadar akan adanya dua anak kecil.


Menatap mereka tidak suka, di balas dengan hal yang sama. Nessa dan Nevan yang melihat Jovanka itu langsung mengecap buruk Jovanka. Walaupun cantik, tapi kesombongan yang dimiliki Jovanka terlihat sangat jelas.


Mereka masih tidak tahu kalau Jovanka adalah istri Gavin. Berdiri dari duduknya, Gavin menatap istrinya dengan tatapan kemarahan.


"Apa kamu tidak tau kalau aku lagi ada tamu?!!"


"Kenapa? Aku istrimu jadi aku bebas mau masuk kemana aja."


Malas berdebat, akhirnya Gavin menyudahi pembicaraan dengan Fahmi. Karena memang urusannya saat ini sudah selesai.


"Kalau gitu, saya sama anak-anak pamit. Kita bisa ngobrol lagi lain kali." Mereka berdua berjabat tangan.


"Iya, senang juga bisa bekerja sama dengan Anda."


"Anak-anak, kita pulang."


Mendengar perintah dari Fahmi lantas kedua anak itu turun dari sofa dan menghampiri Fahmi, melewati Jovanka yang sedang menatap mereka tidak suka.


Nessa yang jahil tiba-tiba menjulurkan lidahnya pada Jovanka, setelah itu dia berlari menyusul Nevan dan Fahmi yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan Gavin.


"Dadah Om Gavin..." teriak Nessa sebelum benar-benar keluar. Senyum terbit di wajah Gavin, amarahnya hilang seketika melihat Nessa yang jahil dengan Jovanka.


"Dasar anak-anak tidak tahu sopan santun!!!" Kesal Jovanka, entah kenapa dia merasa sangat tidak suka melihat keberadaan Nessa dan Nevan.


Melangkahkan kakinya mendekati Gavin, "sebenarnya apa sih mau kamu? sudah kubilang Jangan menggangguku di jam kerja!!"

__ADS_1


Senyum yang terbit seketika hilang, kembali pada wajah semula.


"Apanya yang mengganggumu? Sekarang 'kan sudah waktunya makan siang. Aku ingin mengajakmu makan di tempat restoran kesukaan kita."


Tangannya menelusuri wajah Gavin, turun ke leher dan berhenti tepat di jakun Gavin. Berniat menggoda tapi sayangnya Gavin tidak tergoda. Menepis kasar tangan istrinya, Gavin menghembuskan nafas lelah.


Daripada berdebat lebih jauh, akhirnya Gavin menuruti keinginan Jovanka.


*****


Di tempat lain, Setelah turun dari lift Fahmi, Nessa dan Nevan menuju tempat parkir, masuk ke dalam mobil.


"Kita langsung ke tempat bunda Nara, ya." Ajak Fahmi.


"Iya, Om." Jawab dua anak itu serentak.


Mobil melaju meninggalkan kantor Gavin, berbagai cerita mereka katakan. Kadang tertawa kadang biasa saja. Kedekatan mereka bertiga terlihat seperti ayah dan anak.


Tapi bukan itu sebenarnya, menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Orang asing yang datang tiba-tiba kini menjadi bagian dalam kehidupan yang awalnya terasa hampa.


Sejak awal, dia memang berniat membantu Nara. Menyimpan rahasia besar di keluarga, Fahmi masih orang yang misterius. Kebenaran yang mungkin akan terungkap suatu saat. Tapi bukan sekarang.


.


.


.


Pekerjaan yang banyak, membuat Nara tidak berpindah tempat. Sejak pagi yang dia pegang adalah kain, pensil, kertas, atau benang. Lupa akan waktu sudah biasa Nara alami.


"Mbak Nara, gaunnya mewah banget. Emang cukup waktu dua minggu buat bikin ini?" Menunjuk sebuah gambar, Indi menatap kagum dengan hasil karya Nara.


"Nggak tau juga, kayaknya sih nggak cukup. Tapi kita harus berusaha, lembur nggak apa-apa asal hasilnya bisa maksimal."

__ADS_1


"Iya, Mbak. Jangan mau kalah sama pelanggan yang nggak tau terimakasih itu." Celetuk Lidya, salah satu karyawan Nara.


Merasa tidak terima saat Jovanka bilang kalau gaun yang mereka buat tidak sesuai dengan keinginannya. Walaupun bukan semua Nara yang membuat, tapi menurut mereka hasilnya sangat memuaskan.


Hasil kerja keras mereka selama hampir tiga bulan di tolak mentah-mentah. Ingin memarahi tapi tidak bisa sebab Jovanka adalah seorang pelanggan. Mereka juga tidak punya hak, hanya Nara yang boleh memarahi Jovanka.


"Ada yang bilang kalau pembeli adalah raja, tapi kalau menurut aku pembeli kayak dia itu nggak pantes di bilang raja. Apalagi di layanin."


Indi memukul lantai, tidak peduli dengan tangannya yang terasa sakit. Kemarahannya pada Jovanka membuatnya tidak merasakan apa-apa.


Nara terkekeh, melihat dua karyawannya yang marah-marah itu lucu. Padahal awalnya mereka takut, tapi setelah lewat beberapa hari baru mereka berani memaki pembelinya.


Saat melihat ke arah jam, ternyata sudah waktunya makan siang. Nara menyudahi pekerjaannya, menyuruh kedua karyawannya untuk istirahat.


"Kita istirahat dulu, nanti di lanjutin lagi. Jangan lupa makan, biar ada tenaga buat lembur."


"Siap, Mbak... " Indi dan Lidya memberi hormat pada Nara. Mereka membereskan barang-barang yang berserakan, waktu makan siang yang di tunggu akhirnya datang.


Perut yang kelaparan sudah berbunyi dan harus segera di isi. Dengan cepat mereka membersihkan dan membuang sampah.


Menuruni anak tangga, Nara menuju lantai bawah. Berniat membeli makanan, sampai lupa untuk menghubungi Fahmi dan tidak menanyakan dimana keberadaan mereka.


Dua bungkus plastik berisi makanan dia bawa. Setelah membayar Nara langsung pergi meninggalkan tempat jualan. Berniat kembali ke butik, menikmati makan siang yang sudah menggoda lidah dan perutnya sejak tadi.


Baru setengah perjalanan, Nara mendengar suara teriakan minta tolong. Langkahnya terhenti, melihat sekeliling dan mencari asal suara.


Semakin dekat, Nara semakin maju. Suara teriakan semakin jelas terdengar. Tepat di gang kecil Nara melihat seorang wanita yang seumuran dengan ibu Mira sedang di rampok.


Nara segera meletakkan bungkus plastik yang berisi makanan dan langsung berlari menuju lokasi. Tidak jauh, dia langsung menghajar dua preman yang hanya bisa merampok seorang wanita tua.


Sedikit info, Bukan Nara yang sok jago bela diri. Tapi setelah kejadian penculikan lima tahun yang lalu Nara menjadi lebih berhati-hati.


Takut akan kejadian lama terulang kembali, setelah melahirkan Nara mulai belajar bela diri. Dengan dukungan orang-orang terdekat, akhirnya Nara bisa menguasai dari teknik yang dasar sampai yang tingkat tinggi.

__ADS_1


Butuh waktu lama untuknya menguasai itu semua. Tapi tidak sia-sia. Memberi pelajaran pada dua preman kecil yang hanya bisa merampok tidak sulit bagi Nara.


__ADS_2