
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa hari sudah mulai sore. Matahari sudah mulai turun dan langit berubah menjadi warna jingga. Jalanan ibukota kembali ramai sebab sudah waktunya pulang kerja.
Nara melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Kemudian tatapannya beralih pada dua sosok kecil yang ternyata sedang tertidur.
Nara tidak menyadari kalau ternyata hari sudah sore dan dia juga tidak melihat kapan kedua anaknya itu tertidur. Nara membereskan meja kerjanya dan dia mempersiapkan semua yang dia butuhkan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Nara berdiri, meregangkan kedua tangannya dan berjalan menuju sofa yang sudah di jadikan sebuah kasur. Nara mengguncang tubuh putri dan putranya, berniat membangunkan mereka dan mengajak mereka pulang.
Nessa yang tidurnya merasa terganggu itu pun lantas membuka kedua matanya. Tangannya terulur mengucek mata agar bisa melihat semuanya dengan jelas. Begitu juga dengan Nevan, dia menguap sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Bun.. aku masih ngantuk." Ucap Nessa dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Tidurnya di lanjutin di rumah aja. Sekarang udah sore, sebentar lagi butik tutup. Mendingan kita pulang aja. Bunda juga pengen mandi, badan Bunda udah lengket banget."
Nara berbicara sambil mengipas-ngipasi pakaian depannya dan mencium aroma tubuhnya sendiri. Nessa tidak menjawab juga tidak menolak, dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mencuci muka, Nessa keluar dan giliran Nevan yang memasuki kamar mandi. Mereka bertiga menuruni anak tangga, Nara menyuruh Nessa dan Nevan untuk jalan lebih dulu ke tempat motornya berada.
"Indi, nanti seperti biasa. Kamu yang kunci pintu, tapi besok juga buka nya harus tepat waktu"
"Siap, Mbak!"
Indi memberi hormat, layaknya seorang pemimpin upacara sekolah. Dia sudah terbiasa memegang kunci butik, dan hal itu membuatnya senang. Kalau ternyata Nara sangat mempercayai dirinya.
Nara mengambil motor di parkiran, menyuruh kedua anaknya untuk segera naik. Motor melaju melewati banyaknya kendaraan yang masih padat di jalanan. Angin sore berhembus, udaranya segar walaupun polusi tetap bertebaran.
Rasa gerah hilang saat motor Nara sudah memasuki jalanan yang lumayan lenggang. Mereka menikmati suasana sore yang cerah, langit sudah berubah warna jingga. Matahari sudah berada di ufuk barat.
"Bunda berhenti... "
__ADS_1
Dengan segera, Nara menghentikan motornya. Dia melihat Nessa yang sedang meminta sesuatu, tangan Nessa menunjuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Di tempatnya berhenti, memang banyak pedagang kaki lima atau warung makan.
Nara turun dari motornya dan berjalan mengikuti kemana Nessa akan membawanya. Di sana, mereka membeli banyak makanan dan camilan. Saat sudah cukup banyak, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"Kalian langsung mandi, habis itu kita makan makanan yang kita beli tadi."
Keduanya mengangguk, dan berjalan menuju kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh. Setelah selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga dan menyetel televisi sebagai hiburan di malam hari.
Sesudah makan malam, waktunya memakan camilan sambil bersantai. Dan tak terasa malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam.
Nara membawa kedua anaknya yang memang sudah mulai mengantuk ke kamar. Menidurkan mereka dengan membacakan sebuah cerita. Kemudian barulah Nara pergi ke kamarnya sendiri dan memasuki alam mimpi.
.
.
.
Tapi lelah di tubuhnya yang kini terasa. Istirahat adalah pilihan yang tepat. Kakinya melangkah memasuki rumah tiga lantai tersebut, dia menaiki tangga menuju lantai dua. Membuka pintu ruang kerja untuk menaruh tas kerjanya.
Gavin keluar lagi, dia berjalan menuju kamar. Saat membuka pintu ternyata sang istri sudah menunggu dengan duduk santai sambil bermain ponsel. Tidak peduli, Gavin langsung memasuki kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat, menghilangkan sisa keringat yang terasa lengket.
Handuk melilit di pinggangnya, dia berjalan keluar dan menuju ke tempat lemari pakaian. Saat baru saja keluar, dia melihat istrinya sudah berubah posisi dan berganti pakaian dengan pakaian yang terlihat seksi.
Jovanka terlihat sudah melupakan kejadian tadi siang. Pertengkaran kecil mereka tampaknya sudah di lupakan oleh Jovanka. Seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.
Gavin yang tidak tertarik itu pun melewati jovanka tanpa menoleh, membuat emosi Jovanka naik. Saat baru saja ingin mengambil pakaian, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Gavin berhenti dan dia langsung menepis kedua tangan tersebut.
"Aku sedang lelah, jadi berhenti berbuat ulah!" Ujarnya lalu dia berbalik. Hendak masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tapi sepertinya Jovanka tidak mendengar perkataannya, dia kembali memeluk Gavin dari belakang. Masih menahan emosi yang ada di hatinya.
"Kamu kenapa, sih? Kita udah dua tahun nikah tapi kenapa kamu masih nggak mau nyentuh aku?"
Rasa kesal, emosi, sedih bercampur menjadi satu. Mereka berdua tinggal sekamar selama dua tahun menjalin ikatan pernikahan tapi Gavin sama sekali belum menyentuhnya.
Jovanka tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Gavin, padahal dirinya sangat cantik, ****, dan tidak ada yang kurang. Bisa di katakan sempurna, tapi kenapa Gavin sama sekali tidak tertarik padanya?
Gavin memijat pelipisnya yang terasa pusing, "aku lelah dan ingin istirahat. Jadi jangan sampai kembali berdebat."
Gavin kembali menepis kedua lengan Jovanka, tanpa berbalik Gavin langsung memasuki kamar mandi dan berganti pakaian. Sepuluh menit berlalu dan Gavin baru keluar, tapi Jovanka masih setia berdiri dan tidak berpindah posisi.
Gavin berjalan melewatinya, menuju tempat tidur. Rasa kantuk mendera efek kelelahan. Baru saja ingin ingin naik ke ranjang tangan kanannya di tahan oleh Jovanka. Dia berbalik, menatap Jovanka yang menunduk tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Kamu tau? Aku udah nahan kesabaran selama dua tahun. Aku ngikutin semua keinginan kamu. Tapi kamu masih nggak cinta sama aku dan nggak pernah nyentuh aku.. "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jovanka mengangkat kepalanya dan melangkah maju. Membuat dirinya semakin dekat dengan Gavin. Kedua kakinya berjinjit. Dengan cepat Jovanka menempelkan Bibirnya dengan Bibir Gavin.
Gavin terpaku, dia diam dan tidak membalas ciuman Jovanka. Mulutnya tertutup rapat sehingga Jovanka tak mampu berbuat apa-apa. Tiba-tiba, ingatan Gavin kembali pada saat kejadian penculikan itu.
Dengan cepat, Gavin mendorong Jovanka, mengelap bibirnya yang sudah terasa basah.
"Apa yang kamu lakukan?!!"
Beruntung kamar yang dia tempati kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar teriakan Gavin.
Jovanka yang sudah terduduk di ranjang itu mengepalkan tangannya. Kesabarannya ada batasnya, dia tidak pernah tidak mendapat apa yang dia inginkan termasuk Gavin. Rasa cintanya kini sudah menjadi obsesi.
Sudah tidak bisa menahan emosinya, Jovanka berdiri dan berteriak pada Gavin. Mengeluarkan semua kata-kata yang selama ini dia pendam. Kembali menyalahkan wanita masa lalu Gavin.
__ADS_1
Pertengkaran itu berlanjut, Gavin pun sudah tidak tahan dan kepalanya semakin pusing. Dengan emosi Gavin keluar dari kamar dan membanting pintu. Berjalan menuju kamar tamu agar bisa tidur nyenyak.