
Waktu seakan berjalan dengan cepat, tanpa terasa seminggu sudah berlalu. Hari yang ditunggu akhirnya datang, dengan semangat Nara membereskan barang-barang untuk di bawa pulang.
Pagi ini, Nara terus tersenyum bahagia. Setelah dokter memberitahu kalau Gavin dan Nevan sudah boleh pulang, dalam hatinya ia terus mengucapkan syukur. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada hari ini.
Setelah tiga minggu berada di rumah sakit, akhirnya ia dan kedua anaknya bisa menghirup udah luar. Tidak akan lagi mencium bau obat-obatan di rumah sakit.
“Kondisi Nevan sudah lebih baik, dalam beberapa hari terakhir dia tidak menunjukkan gejala yang berlebihan, walaupun efek setelah operasi masih bisa saja terjadi. Tapi saya lihat Nevan sudah tidak pucat lagi, sekarang dia terlihat segar”
“Jadi hari ini Nevan sudah boleh pulang, tapi ingat ya, jangan dulu melakukan aktivasi yang berlebihan, proses penyembuhan pasca operasi membutuhkan waktu tiga bulan. Dan jika sudah berjalan selama satu tahun, Nevan tidak mengalami efek samping, maka bisa dikatakan Nevan sudah sembuh total,” jelas dokter tadi pagi, yang mana langsung membuat Nara tersenyum senang.
“Oh ya, untuk Gavin juga sama seperti Nevan, sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi tetap harus banyak beristirahat. Kalau ada efek samping lain bisa langsung dibawa ke rumah sakit atau telepon dokternya saja,” sambung dokter, lalu ia pergi meninggalkan ruangan.
Di dalam, ada Nara dan tante Helen, keduanya sama-sama senang.
“Akhirnya Gavin udah boleh pulang, jadi Mamah nggak perlu pusing lagi mikirin Jovanka yang terus nanyain Gavin,” ekspresi tante Helen seperti ingin menangis haru, tiba-tiba Nara menjadi merasa bersalah.
“Ah, Tante ... maafin Nara ya kalau udah ngerepotin Tante. Kalau Nevan nggak sakit kan nggak mungkin Tante jadi kerepotan begini.”
Nara ingat, selama beberapa hari terakhir tante Helen juga tidak terlalu sering pergi ke rumah sakit, saat tante bercerita, ia selalu mengeluh karena Jovanka terus bertanya dimana Gavin berada, kenapa tidak pulang-pulang.
“Apaan sih kamu ini, yang jelas nggak ngerepotin kok, Tante malah seneng bisa bantu cucu Tante sendiri, Jovanka cuma masalah kecil, Tante masih bisa ngurusinnya,” tante Helen tertawa hambar, ia pun beranjak untuk membereskan barang-barang milik Gavin.
__ADS_1
“Jangan lupa, Mah. Yang bantu Nevan cepet sembuh itu aku bukan Mamah,” celetuk Gavin yang saat ini sedang duduk dipinggir ranjang pasien. Tangannya sudah tidak di infus lagi, Gavin juga sudah bisa berdiri sendiri dan jalan dengan lancar.
Gavin mendengus dan memutar bola matanya jengah.
“Iya Mamah tau, tapi kan kalau bukan karena bantuan Mamah, nggak mungkin kamu masih aman sampai sekarang. Kalau nggak ada Mamah, kamu pasti udah dapet semprotan dari si Anka!” tangannya terus membereskan koper kecil milik Gavin.
“Huh!” Gavin sudah malas meladeni mamanya, ia berdiri dari duduknya, menghampiri Nevan yang sedang duduk bersandar pada bantal.
Hubungannya dengan Nevan pun sudah semakin akrab, walaupun Nevan tahu kalau Gavin adalah ayah kandungnya tapi Nevan masih belum mau memanggil Gavin Ayah.
Hal itu membuat Gavin sedih, lain halnya dengan Nessa, gadis kecil itu bahkan sangat senang saat tahu kalau Gavin adalah ayah kandungnya. Setiap malam, Nessa terus menempel pada Gavin.
Saat ini Nessa sedang bersekolah, sebentar lagi akan pulang, Nara mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Fahmi. Sebelumnya Fahmi bilang kalau dia akan menjemput Nessa, jadi Nara ingin mengingatkan Fahmi agar mengantar Nessa langsung pulang ke rumah.
“Ra, nanti kamu pulangnya bareng Tante sama Gavin aja, ya,” tante Helen menghampiri Nara setelah selesai membereskan barang-barang Gavin. Ia duduk di sofa dekat dengan Nara.
“Eh, nggak usah Tante, aku sama Nevan pulangnya naik taksi aja.”
“Lho, kok gitu? Kamu nggak kasian sama Nevan? Dokter tadi bilangnya kan Nevan harus banyak istirahat, jangan kecapean. Nanti kalau pulangnya naik taksi kamu juga bakal kesusahan buat bawa barang-barang Nevan, Nevan juga masih harus di papah jalannya.”
Nara diam, ia berpikir kembali. Benar juga apa kata tante Helen. Barang-barangnya saja ada dua koper kecil. Belum lagi Nevan yang baru sembuh, ia masih sedikit sulit untuk berjalan.
__ADS_1
“Iya, Tan. Sekali lagi makasih, ya. Kalau nggak ada Tante sama Mas Gavin aku nggak tau lagi harus gimana buat ngurusin semuanya,” bagi Nara, saat ini tante Helen dan Gavin sangat berjasa.
Mau membantu dengan senang hati, jika saja ia belum mengetahui siapa ayah kandung Nevan, entah bagaimana dia akan mencari pendonor yang cocok untuk Nevan.
Tapi, masih ada satu hal yang selalu mengganjal di hati Nara. Karena mereka sudah mengetahui kalau Nevan dan Nessa adalah anak dari Gavin, Nara menjadi takut kalau suatu hari nanti mereka akan mengambil Nevan dan Nessa dari dirinya.
Lalu, jika kedua anaknya di ambil, bagaimana dengan dirinya?
Pikiran-pikiran aneh ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi selama Nevan sakit, Nara tidak terlalu memikirkannya. Dan sekarang Nevan sudah sembuh, ia sudah bisa bernapas dengan lega, juga pikiran anehnya mulai kembali merasuki.
.
.
.
.
bersambung
judul pulang ada dua🌝
__ADS_1
jangan lupa like sama komennya ya🤧