Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tetangga Baru


__ADS_3

Siang itu, Nara sedang bersantai di rumah, menikmati hari liburnya tanpa anak-anak, karena mereka berdua sedang jalan-jalan bersama ayahnya. Bersantai bukan berarti hanya duduk diam rebahan saja, dari pagi Nara sibuk membereskan rumah.


Setelah seluruh rumah hampir bersih, Nara memutuskan untuk menyiram tanaman di halaman rumah, walaupun Nara termasuk orang yang sibuk karena mengurus anak dan butik, tapi Nara tidak lupa untuk menanam bunga atau tanaman yang lain agar rumahnya terlihat jauh lebih indah.


Saat sedang asik menyiram bunga mawar yang belum mekar, tiba-tiba ada mobil truck lewat, kening Nara berkerut dalam, "Tumben ada truck lewat, aku baru pertama lihat, itu siapa ya?"


Sesaat Nara berhenti menyiram, ia meletakkan gembor di dekat rumah, lalu dari jauh ia mengamati truck yang lewat barusan dan ternyata berhenti di depan rumah kosong yang berada di sebelah rumah Nara.


Tak lama setelah itu, ada tetangga yang juga rumahnya ada di sebelah kiri rumah Nara keluar untuk melihat, Nara mendekati tetangganya dan bertanya.


"Bu Susi tahu itu siapa yang datang?" tanya Nara.


Wanita yang di panggil bu Susi itu menoleh, "Katanya ada tetangga baru, hari ini mau pindahan."


"Wah, kok saya nggak tau ya?" tanya Nara heran, tangannya mengusap dagu terlihat seperti sedang berpikir.


"Gimana mau tahu? Kamu juga jarang keluar rumah, apalagi bersosialisasi sama tetangga sebelah, saya sampai heran sama kamu, kamu tuh emang nggak betah di sini atau nggak betah sama tetangga?"


"Bukannya itu sama aja?"


"Hehehe ... Maklum lah Bu, saya kan banyak kerjaan, belum lagi harus ngurus anak-anak, saya di rumah pun kalau lagi libur seperti ini juga jarang keluar karena lelah," ucap Nara sambil menghela napas, bukannya tidak mau bersosialisasi dengan tetangga sekitar, tapi memang kesibukan Nara yang membuatnya tidak bisa ikut nggibah bareng tetangga.


"Makanya nikah! Biar kamu nggak perlu kerja lagi, anak udah gede tapi gk pernah mikir buat nikah."


Ucapan Bu Susi tajam juga, sampai menusuk tepat di jantung Nara. "Belum kepikiran, Bu. Lagian saya nggak punya calonnya."


"Lho? Bukannya udah ada? Terus siapa itu laki-laki yang ganteng yang sering datang ke sini buat jemput anak-anak?"

__ADS_1


"Kak Fahmi?" tebak Nara.


"Bukan, ada lho satu lagi laki-laki ganteng, saya sering lihat dia ke rumah kamu terus belakangan ini. Kalau Fahmi, saya sudah bosan lihat dia, hampir tiap hari ke sini," ucap Ibu tiga anak itu.


"Oh... Maksudnya Ibu mas Gavin?"


"Eh, namanya Gavin?" Nara mengangguk, "Wah bagus namanya, sama kayak mukanya. Dia siapanya kamu?"


Nara diam, ia bingung ingin menjawab apa, entah bagaimana reaksi bu Susi kalau tau Gavin adalah ayah dari kedua anaknya.


"Cuma temen, Bu. Baru kenal sebulan belakangan," Nara nyengir sambil menggaruk belakangan kepalanya.


"Alah, nggak usah bohong kamu... "


Eh, Nara langsung menegang, tiba-tiba ia menjadi gugup.


Nara menghela napas lega sembari mengusap dada. Bu Susi bikin jantungan saja.


"Saya belum kepikiran sampai sana, Bu."


"Terus kepikirannya kapan? Dari tadi bilangnya belum kepikiran."


"Oh ya, Bu. Yang mau pindahan itu laki-laki atau perempuan?" Nara lebih baik mengalihkan perhatian, jika tidak entah kapan akan habis pembicaraan ini.


"Saya dengar dari RT katanya laki-laki, masih single, kalau Gavin nggak cocok kamu bisa tuh sama dia." ucapnya setengah berbisik.


"Ah, Ibu. Ada-ada aja, kenal juga belum."

__ADS_1


"Kan udah jadi tetangga, tinggal kamu deketin, tanyain namanya, umur berapa, bekerja dimana, gajinya perbulan berapa," Nara mendelik, kalau mendengar saran dari bu Susi sudah positif akan langsung di tolak.


Nggak ada basa-basinya sama sekali, langsung to the point.


"Mana ada baru kenal langsung tanya begitu, Bu. Yang ada nanti dia malah curiga, terus malah menjauh, nggak! Saya nggak mau! Saya juga belum ada rencana mau nikah."


"Ya udah, kalau begitu sama Gavin saja. Pusing banget rasanya kalau jadi kamu!" dengus bu Susi.


"Eh, Bu. Dia keluar ... " Lagi-lagi Nara harus mengalihkan perhatian bu Susi.


Jarang-jarang mereka mengobrol panjang seperti ini, tapi sekalinya mengobrol langsung kemana-mana. Tapi rasanya seneng juga punya temen ngobrol begini selain Kiki.


"Wah iya, ganteng, Ra. Kayaknya kamu masih harus pikir-pikir lagi kalau milih suami. Ada dua calon, satu Gavin satunya laki-laki ganteng yang ini, ah, saya belum tau namanya."


"Ihh ... Ibu dari tadi bahasnya calon suami melulu. Udah lah, saya udah nggak penasaran. Saya mau masuk, bentar lagi makan siang, anak-anak juga udah mau pulang, saya masuk dulu ya, Bu," ucapnya lalu berbalik pergi masuk ke dalam rumah.


"Sekalian, Ra. Kasih satu rantang buat tetangga baru, biar dia nyicip masakan kamu!!" teriak bu Susi, Nara memutar bola matanya lalu langsung menutup pintu.


.


.


.


bersambung


ngilang lama lagi ya? 😄 mon maaf bgt, makasih yang udah mau mampir 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2