Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Demi Nevan


__ADS_3

POV Nara


Malam ini, malam pertama kami kembali pulang kerumah setelah tiga minggu berada di rumah sakit. Akhirnya aku bisa kembali tidur dikasur yang empuk.


Pemandangan pertama yang kulihat saat baru saja masuk adalah rumah yang cukup berantakan. Aku hanya bisa menghela napas pasrah, terakhir aku pulang ke sini adalah satu minggu yang lalu, pantas saja rumah sudah berdebu dan banyak daun yang jatuh di halaman.


Setelah di antar pulang oleh tante Helen tadi siang, sebenarnya beliau ingin mampir tapi aku menahannya. Bukan tidak ingin tante Helen main ke rumah, tapi kondisi rumah saat ini sedang tidak mungkin untuk menerima tamu.


Mungkin besok baru akan aku bersihkan, untuk sekarang lebih baik menyapu saja. Walaupun aku tidak melakukan banyak pekerjaan, tapi tubuh juga terasa lelah. Bahkan hanya untuk pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan rasanya malas sekali.


Tapi jika tidak pergi, anak-anak akan makan apa?


“Bunda, buburnya keluar,” kata Nessa yang saat ini sedang duduk di kursi, aku tersentak, baru menyadari kalau sejak tadi terus melamun.


Melihat ke arah bubur yang sedang aku masak, segera ku matikan kompor, yang ampun, bisa-bisanya aku tidak sadar begini. Untung ada Nessa yang sedang mengingatkan.


“Emm ... Nessa mau makan di sini apa bareng sama Nevan di kamar?” tanyaku pada Nessa, bubur adalah masakan terakhir. Untuk Nessa sudah aku siapkan lebih awal, dan makanan khusus untuk Nevan saat ini adalah bubur.


Setelah dokter kembali mengecek kondisi Nevan, beliau juga memberitahu makanan apa saja yang boleh Nevan makan, atau makanan yang belum boleh di makan.


Dokter juga bilang kalau seminggu sekali akan ada perawat yang mengecek kondisi Nevan selama tiga bulan kedepan. Aku hanya manggut-manggut mengerti, asalkan Nevan sembuh maka aku akan melakukan apa saja.

__ADS_1


Bahkan saat aku memberi tahu Gavin tentang Nevan sesungguhnya aku merasa masih belum siap. Sakitnya Nevan terlalu mendadak, aku belum memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


Rasa sakit yang kurasakan lima tahun lalu masih membekas, hanya dengan melihat wajah Gavin rasanya luka lama kembali terbuka. Tapi aku berusaha agar bisa bersikap biasa saja di hadapannya. Mau bagaimana lagi? Aku membutuhkan dirinya agar bisa menyembuhkan Nevan.


Setelah operasi selesai, setiap hari aku melihat wajahnya. Sesak rasanya, apalagi saat Gavin tahu kalau dia punya anak dari hasil kelakuan bejatnya, tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan kata maaf untukku.


Seperti tidak ada rasa bersalah saat dia melihatku. Padahal aku hanya berharap dia minta maaf, itu saja. Tapi Gavin tetap diam, malahan sikapnya biasa saja.


Hal itu membuatku sadar, seperti kata orang, kalau orang kaya itu tidak akan pernah minta maaf, atau mengakui kesalahannya. Menyesali perbuatannya pun tidak, mungkin Gavin salah satunya.


Aku memang tidak membencinya, saat tahu kalau pria itu lumayan baik. Bahkan dengan tingkah lakunya yang menurutku lucu kadang membuatku sedikit terhibur.


Hanya demi Nevan aku mau bertahan dan hidup dalam satu ruangan bersama dengan Gavin selama seminggu lebih. Yakinlah, sesungguhnya aku tidak terlalu kuat menahan sesak di dada karena melihat wajah Gavin setiap hari.


Dan setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku bisa pulang dan tidak lagi melihat wajah menyebalkan itu namun sangat berjasa karena membantu Nevan.


“Makannya di kamar aja ya, Bun,” aku mengangguk, kemudian mulai mengambil nasi dan sayur untuk Nessa. Satu mangkuk bubur untuk Nevan, tidak lupa dengan air putih dan segelas susu.


Nessa berjalan lebih dulu, aku mengikutinya dari belakang. Membawa nampan cukup besar. Sebenarnya aku masih bingung, bagaimana kehidupan kami kedepannya.


Anak-anak memang sudah mengetahui siapa ayah kandung mereka. Aku tahu pasti kalau anak-anak sangat senang, mereka pun pasti ingin tinggal dengan Gavin. Tapi keinginan itu masih terlihat abu-abu untuk dikabulkan.

__ADS_1


Saat ini, aku hanya bisa menjalaninya seperti air mengalir. Belum punya rencana untuk kedepannya. Biarkan takdir yang membawaku menemui tujuan hidup yang sebenarnya.


____________☘☘☘☘☘_____________


“Abang, waktunya makan,” menaruh nampan di atas nakas, Nara mengambil semangkuk bubur. Lalu duduk di pinggir tempat tidur.


“Masih kenyang, Bunda,” Nevan menahan tangan Nara yang sudah menyodorkan satu sendok bubur. Ia memalingkan wajah, tanda tidak ingin makan.


“Eh, kok gitu? walaupun masih kenyang tapi 'kan Abang harus tetep makan. Inget nggak apa kata dokter?” Nevan menganggukkan kepalanya.


“Nah, kalau Abang mau cepet sembuh, Abang harus banyak makan. Biar perutnya ada isi, nggak kosong, kalau kosong entar tambah sakit, emangnya Abang mau masuk rumah sakit lagi?” Nevan menggeleng cepat, hampir satu bulan berada di rumah sakit membuatnya sedikit trauma.


Bau obat-obatan yang menyengat sungguh mengusik indera penciumannya. Nevan tidak mau kembali ke rumah sakit, kedepannya pun tidak mau. Salah satu tangannya yang di infus pun masih terasa sakit sampai sekarang, bahkan jarum yang sudah pernah menusuk kulitnya sampai ke daging itu ada lebih dari satu.


Pertama kali mau di infus sudah mendapatkan tiga suntikan karena posisinya tidak pas. Lalu dua hari kemudian mendapat suntikan lagi, dan terakhir adalah saat mau melakukan operasi. Entah berapa kali dokter menyuntik, Nevan tidak bisa menghitungnya.


Yang pasti ia sudah merasa kenyang dengan rasa suntikan. Cukup trauma juga, lain kali ia tidak mau di suntik lagi. Rasanya cukup sakit dan sedikit nyeri, Nevan sempat meringis saat itu tapi tidak menangis.


Dengan malas Nevan membuka mulut, membiarkan Nara menyuapi dirinya. Senyum tipis terbit di wajah Nara, ancamannya ternyata cukup berguna. Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat sekali waktu jatuh juga, seperti itu Nevan sekarang.


Sepandai-pandainya anak kecil, tetaplah anak kecil. Bisa di tipu juga. Apalagi yang usianya belum genap lima tahun, gampang kena tipu.

__ADS_1


__ADS_2