
Perjalanan kembali ke rumah sakit, Gavin dan Nessa terjebak macet sehingga membutuhkan waktu lama untuk sampai. Di tambah cuaca hari ini yang terasa panas, membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit pengap.
Alunan musik menemani perjalanan mereka, setelah pertemuan dengan Jovanka, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Tapi sebelum kembali, Gavin mengajak Nessa membeli makanan untuk di bawa ke rumah sakit.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai, Gavin memarkirkan mobil. Membuka pintu dan menggandeng tangan Nessa. Tangan yang lainnya memegang kantung plastik yang berisi makanan.
Selama perjalanan, wajah Nessa tidak pernah berhenti untuk tidak tersenyum. Suasana hatinya sangat senang, di jemput sekolah oleh om kesayangan, di ajak makan makanan enak.
Di bawa ke tempat bermain, dan bisa bermain sepuasnya. Di belikan ice cream serta melihat wajah kesal milik Jovanka. Tidak ada hari yang lebih menyenangkan dari pada hari ini.
Mereka berjalan santai, maniki lift menuju lantai tiga. Membuka pintu ruang perawatan yang di tempati Nevan. Kaki kecilnya segera berlari saat melihat Nara sedang mengobrol. Melepaskan genggaman tangan Gavin
Dan binar bahagia bertambah, ia melihat ada nenek yang datang. Nenek Mira yang sudah cukup lama tidak bertemu. Ia sangat merindukannya.
"Bunda ... " Suaranya cukup keras, siapapun yang berada di dekatnya harus menutup telinga. Nessa duduk di pangkuan Nara tanpa tahu kalau saat ini bunda-nya sedang terkejut.
"Nessa? Kenapa baru pulang?" Sejak tadi ia sudah merasa khawatir, Nessa seharusnya sudah pulang sekolah sejak jam sebelas tadi tapi sekarang malahan sudah jam setengah dua siang.
"Tadi om Gavin dari ngajakin aku makan dulu, terus main di mall. Seru Bunda, lain kali kita main bareng, ya."
Ternyata sejak tadi mereka bersenang-senang, Nara sudah khawatir berlebihan. Ia hanya menganggukan kepala pada Nessa tanpa berkata. Kemudian tatapan ke arah Gavin, menatap pria itu tajam.
Kenapa tidak bilang dulu padanya jika ingin membawa Nessa jalan-jalan, arti dari tatapan Nara yang Gavin lihat. Ia menelan salivanya dengan susah, bukankah tadi sebelum pergi ia sudah bilang pada Nara?
Cukup menyeramkan bagi Gavin, segera ia memalingkan wajah. Lebih baik mengobrol dengan Nevan dari pada diam saja dan hanya berdiri tanpa melakukan apapun.
"Jadi Nessa udah makan?"
"Udah, om Gavin juga beliin makanan buat Bunda." Tunjuk-nya pada beberapa kantung plastik di atas meja, Gavin menaruhnya di sana sebelum pergi ke tempat Nevan.
"Bunda tau nggak? Tadi aku sama om Gavin ketemu sama tante jahat di mall. Dia juga marah-marah, terus aku di ajak pulang deh. Padahal masih mau main." Bisiknya di telinga Nara, ia takut terdengar oleh Gavin.
__ADS_1
"Apa?" refleks Nara menolehkan kepalanya, lagi-lagi di buat terkejut.
"Hu'um," mengangguk cepat.
.
.
.
Sore harinya, di rumah sakit. Nevan tertidur karena obat yang diberikan dokter. Tidak berbeda dengan Nessa, anak itupun sudah tertidur di sofa karena kelelahan.
Suasana di ruangan terlihat sepi, Gavin sudah kembali ke rumahnya sendiri. Hanya ada Nara dan ibu Mira. Keduanya sedang duduk diam, belum ada yang bicara.
"Ra ... " Ibu yang memulai, satu kata yang membuat Nara menolehkan kepalanya.
"Kenapa Gavin ada di sini?" tanyanya dengan heran, sejak tadi ia diam karena menunggu pria itu pergi. Sempat muncul beberapa pertanyaan di benaknya.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyakan pertanyaan yang sudah ia tahan sejak tadi. Berharap bahwa Nara akan menjawabnya dengan jujur.
"Ah, itu ... "
"Nggak apa-apa kalau kamu belum mau menjawab sekarang."
"Eh, bukan gitu, Bu. Sebenernya ... " Menelan ludah lebih dulu, ia sedikit takut untuk bicara jujur. Tapi juga tidak ingin ibunya salah paham karena tidak memberitahu kebenarannya.
Ibu Mira juga sempat marah tadi saat baru saja datang ke rumah sakit. Mengomeli Nara karena tidak memberitahu dirinya tentang Nevan yang sedang sakit.
Bukan niat Nara untuk menyembunyikan kalau Nevan sedang sakit, tapi ia sungguh lupa. Karena masih merasa khawatir dengan Nevan. Ia bahkan sudah hampir melupakan butiknya sendiri.
Semuanya ia serahkan pada Indi, karyawan yang paling ia percaya. Dalam hati berjanji jika Nevan sudah sembuh maka Indi akan ia beri imbalan, bonus tambahan gaji.
__ADS_1
Sebagai rasa terimakasih karena mau mengurus butik yang ia tinggalkan sementara. Pasti Indi tidak akan menolak.
Jujur nggak ya, jujur nggak ya. Nara meremas jarinya gugup. Lebih baik ia bicara jujur jika tidak ia takut kalau masalah akan bertambah panjang.
"Sebenernya, mas Gavin ... mas Gavin itu ayah kandungnya Nessa sama Nevan, Bu."
"Apa?!!" Menutup mulutnya dengan tangan, raut wajah terkejut tidak bisa di sembunyikan. Antara percaya dan tidak, tapi lebih besar tidak percaya.
"Gimana bisa?"
"Ya bisalah, Bu."
"Bukan gitu maksud Ibu." Memukul lengan Nara, di saat seperti ini masih saja bisa bercanda, ia sedang serius, bagaimana bisa Gavin yang menjadi ayah kandung anak kembar Nara?
Sebenarnya apa yang terjadi saat itu, kejadiannya masih teka-teki. Nara sebagai korban lalu Gavin juga korban, tidak tahu siapa pelaku yang sebenarnya.
"Coba ceritain, kamu tau dari mana kalau Gavin ayahnya anak-anak!"
Sudah mendapat perintah, Nara akhirnya menceritakan kembali bagaimana ia bisa mengenali Gavin. Tanpa ada yang di sembunyikan, ibu menjadi pendengar yang baik.
.
.
.
bersambung
maaf ya kalau part ini nggak bagus, otakku lagi nggak bisa buat mikir, rasanya udah mentok, jadi bingung mau bikin kalimatnya gimana🤧🤧
heppy reding🤧💕
__ADS_1