
Gavin duduk termenung di kursinya dengan gelisah, beberapa kali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir seperti sebuah setrikaan. Sudah hampir tiga jam ia menunggu Rafli yang sedang menyelidiki siapa sebenarnya yang menculik kedua anaknya.
Sedangkan Nara yang tadi pingsan pun sudah di bawa pulang oleh Fahmi. Fahmi pun bilang kalau dia juga akan ikut untuk mencari Nevan dan Nessa setelah mengantarkan Nara.
Tak lama kemudian pintu terbuka, orang yang sudah Gavin tunggu akhirnya datang. Rafli sudah membawa hasil yang Gavin inginkan.
“Tuan, maaf menunggu lama. Saya baru saja mendapatkan hasilnya,” ujar pria itu sambil membungkukkan badannya.
“Sudahlah, tak apa. Lalu bagaimana? siapa yang menculik Anak-anak ku?” tanya Gavin tidak sabaran.
Rafli pun duduk di hadapan Gavin, ia memberikan sebuah rekaman video melalui ponsel. Yang di dalamnya berisi hasil rekaman CCTV sekolah. Jelas di sana terlihat kalau ada seorang pria paruh baya yang keluar dari mobil itu.
Pria itu mendekati kedua anaknya yang baru keluar dari sekolah, tapi yang membuat Gavin terkejut adalah kalau anak-anaknya ternyata mau mengikuti pria itu.
Tapi Gavin baru ingat, bukankah tadi satpam bilang kalau tidak ada siapapun yang keluar dari mobil hitam itu.
“Apa hanya ini yang kamu temukan?” Gavin merasa tidak puas walaupun memang sedikit ada petunjuk.
“Maaf Tuan, untuk sementara memang hanya ini yang berhasil kami selidiki, kami sudah berusaha. Tapi saya juga sudah mencurigai satu orang yang kemungkinan besar adalah dalang dari penculikan kedua anak anda,” jelas Rafli merasa bersalah.
Gavin sudah menunggu lama, tapi hanya sedikit petunjuk yang ia temukan.
“Siapa?”
“Nyonya Jovanka, Tuan,” jawab Rafli tanpa ragu.
__ADS_1
“Jovanka?” Gavin terkejut.
“Saya memang tidak tahu apakah benar atau tidak, tapi kalau bukan nyonya Jovanka lalu siapa lagi? Siang ini pun saya dapat kabar dari salah satu anak buah yang mengikuti nyonya Jovanka, bilang kalau nyonya pergi dengan buru-buru. Sayangnya mereka kehilangan jejak.”
Rupanya Rafli sudah merasa curiga sejak awal, tanpa memberitahu Gavin ia sudah menyuruh beberapa salah satu anak buahnya untuk mengikuti kemana pun Jovanka pergi.
“Lalu apakah sekarang Jovanka belum kembali?”
“Saya juga belum tahu, Tuan. Tapi tadi mereka bilang kalau mereka telah menaruh alat pelacak di mobil nyonya. Kita tinggal menunggu hasilnya.”
Setelah itu Rafli pamit pergi, ia akan menyelidiki lebih lanjut tentang Jovanka. Selepas kepergian Rafli, Gavin pun segera menelpon Fahmi.
Memberi tahu Fahmi apa yang di dapatkan Rafli juga kecurigaan mereka terhadap Jovanka. Tak lama kemudian sambungan telepon terputus.
Gavin mendudukkan dirinya di kursi, bersandar dan memijit pangkal hidungnya. Ia mengepalkan tangan, geram dengan tindakan Jovanka yang nekat.
“Arghh ... Sial!!!”
*****
Sore hari itu, Gavin bersama dengan Rafli dan Fahmi sibuk mencari keberadaan Jovanka dan kemana dia pergi seharian ini.
Anak buah ayahnya Fahmi pun ikut membantu, lewat alat pelacak yang ada di mobil Jovanka, akhirnya mereka berhasil menemukan dimana Jovanka berada dan dari mana saja wanita itu pergi hari ini.
Sejak mengetahui hal itu, Gavin tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Tangannya mengepal dan menggertakkan gigi, dalam pikiran tidak menyangka kalau benar-benar Jovanka lah yang menculik kedua anaknya.
__ADS_1
Tempat itu jauh dari sini, di sebuah pegunungan, tempat yang terpencil. Dalam hutan yang lebat, tidak bisa dibayangkan betapa takutnya Nessa dan Nevan di tempat seseram itu.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka bertiga segera pergi menggunakan satu mobil yang sama. Tidak lupa Gavin juga menelpon polisi, agar saat mereka sampai, Jovanka serta anak buah wanita itu bisa langsung di tangkap.
***
Di tempat lainnya, seorang ibu yang kehilangan kedua anaknya sedang menangis sesegukan di dalam pelukan seorang sahabat.
Sejak sadar dari pingsan satu jam yang lalu, Nara terus menangis. Memaki dirinya sendiri sebagai ibu yang tidak bisa melindungi kedua anaknya, sampai membuat Kiki juga ikut menangis.
Kiki terus menenangkan Nara, tidak pernah pergi dari rumah Nara satu langkah pun. Ia juga tak menghubungi ibu Mira, takut wanita paruh baya itu merasa sedih juga.
“Ki, anak-anakku di mana? Mereka kemana?” Nara terus meracau tidak jelas, Kiki menghela napas, ia kembali mengompres dahi Nara yang panas.
Setelah bangun dari pingsan, badan Nara panas. Sudah Kiki tebak kalau itu terjadi karena Nara tidak sarapan pagi dan makan siang pun belum. Perutnya kosong, belum lagi Nara terus menangis selama satu jam.
“Aih, kalau tahu bakalan ada hari ini aku harusnya jadi dokter, biar aku bisa ngobatin kamu dan langsung sembuh. Kalau kayak gini 'kan aku juga bingung kamunya mau di apain. Makan nggak mau, minum obat nggak mau,”
“Udahlah, mendingan mati aja. Pusing bener hidup!!” kesal Kiki mulai bicara ngawur, tapi air matanya terus mengalir saat melihat kondisi sahabatnya yang kurang baik.
.
.
.
__ADS_1
bersambung
maaf kalau banyak typo, nanti aku revisi. makasih yang udah mampir 🥺