
Seperti kata dokter, Nevan dan Gavin akan dipindahkan ke ruang perawatan lebih dulu baru boleh di temui. Setelah menunggu beberapa saat, barulah Nara bisa melihat putranya.
Masih di ruang perawatan yang sama seperti saat sebelum operasi, tapi kini di dalam bukan hanya ada Nevan yang sedang terbaring, tapi juga Gavin. Mereka diletakkan dalam ruangan yang sama.
Nevan masih belum sadar karena obat bius masih bekerja, dokter terus memeriksa keadaan Nevan juga Gavin. Setelah dirasa pemeriksaan ulang sudah selesai, dokter dan satu perawat akhirnya pergi.
"Sekarang mereka baik-baik saja, tapi kami masih akan terus memantau perkembangan kesembuhan Nevan. Dan jika dalam satu minggu Nevan tidak mengalami demam tinggi maka Nevan sudah diperbolehkan untuk pulang"
"Untuk pak Gavin sendiri, jika dia tidak mengalami gejala seperti demam atau yang lainnya pasca operasi, sama seperti Nevan, setelah satu minggu sudah diperbolehkan untuk pulang." Ucap dokter sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
Nara dan yang lainnya bisa bernapas dengan lega, setelah beberapa hari ia merasa sangat cemas dan khawatir akhirnya semua sudah berakhir. Nevan akan sembuh dalam beberapa minggu ini, hanya tinggal menunggu luka setelah operasi mengering.
Nara duduk di sebelah ranjang Nevan, mengusap lembut wajah yang saat ini tengah tertidur lelapoq karena obat bius. Ia berkali-kali mencium wajah tampan putranya, meski masih terlihat pucat.
Lalu matanya beralih pada sosok laki-laki yang sudah menolong putranya, dia sedang tertidur sama seperti Nevan. Tepat berada di samping ranjang yang ditempati Nevam, hanya berjarak kurang lebih satu meter.
"Terimakasih ... " hanya kata itu yang bisa ia ucapkan untuk Gavin, jika bukan karena Gavin Nara tidak tahu lagi harus mencari pendonor untuk Nevan.
"Ra, aku keluar dulu ya, mau cari makan. Udah laper, kamu mau nitip nggak?" tanya Kiki yang saat ini sudah berada di dekat Nara, menunggu selama hampir empat jam membuat perutnya terasa lapar.
"Aku ikut kamu aja lah," Nara sedang tidak ingin memilih makanan, kalau di belikan akan ia makan kalau tidak Kiki keterlaluan.
__ADS_1
"Tante ... Aku ikut dong," berlari ke arah Kiki, Nessa memeluk kaki Kiki.
"Yok lah, kita cari makanan enak. Keponakan Tante yang paling cantik, kita jalan-jalan. Bisa jamuran kalau nunggu di rumah sakit terus."
"Ra, Kakak juga mau pergi dulu. Ada urusan mendadak, nggak apa-apa 'kan di tinggal?" ucap Fahmi seraya mendekati Nara, ia terlihat buru-buru.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa."
"Cuma sebentar, nggak lama. Kalau urusan Kakak udah selesai, Kakak langsung balik kesini lagi," Fahmi mengusap kepala Nara, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Ra, Tante juga tiba-tiba ada urusan, sebenernya Tante masih mau di sini tapi barusan Tante dapet telepon," ucap Tante Helen tiba-tiba, Nara hanya melongo.
"Tante mau pergi juga?" kenapa tiba-tiba semua orang yang ada di dalam ruangan pergi, bahkan memiliki urusan mendadak secara bersamaan.
"Eh, Tante pergi aja, nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja tiba-tiba semua orang punya urusan mendadak kayak gini," tersenyum lembut, mana mungkin ia menahan seseorang yang punya urusan mendadak hanya demi menemani dirinya di sini.
"Yakin nggak apa-apa?" Nara mengangguk, lagian dia tidak sendiri di sini, ada Nevan dan Gavin walaupun mereka sedang tidak sadar.
"Kalau gitu Tante pergi ya, Tante juga nitip Gavin. Nggak apa-apa 'kan?" lagi-lagi Nara mengangguk.
Dengan perasaan tidak enak, tante Helen pergi meninggalkan ruangan. Dan kini hanya ada Nara sendiri yang menjaga mereka. Ibu Mira? Beliau sudah pergi lebih dulu sebelum Nevan di pindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
Nara mengerti, anak-anak pasti membutuhkan dirinya. Nara tidak mungkin menahan ibu Mira. Menemani dirinya di saat Nevan sedang operasi saja sudah cukup.
Di dalam, ia hanya duduk sambil menatap wajah Nevan. Tanpa sengaja Nara melihat ke arah Gavin, jemarinya bergerak. Mata Nara yang semula mengantuk kini terbuka lebar, segera ia berdiri dan berjalan ke arah Gavin.
Perlahan, kelopak mata itu terbuka. Pemandangan pertama yang dilihat adalah Nara. Wanita itu sudah berdiri di sampingnya. Gavin mencoba berdiri tapi ia merasakan sakit di bagian belakang.
"Akhh..."
"Eh, jangan bangun. Tiduran aja, kalau bangun nanti bekas operasinya kebuka," ucap Nara seraya menahan tubuh Gavin, mendengar ringisan pria itu ia sudah tahu kalau tubuh bagian belakangnya terasa sakit.
Ah, Gavin baru ingat kalau tadi ia sedang berada di ruangan operasi. Tiba-tiba ia teringat Nevan, Nevan dimana? kepalanya menoleh ke arah samping, ia bernapas lega.
Kembali berbaring seperti semula, bagian belakang terasa berdenyut. Gavin memejamkan mata, setidaknya putranya akan sembuh, rasa sakit seperti ini tidak ada apa-apanya di bandingkan kesembuhan Nevan.
"Terimakasih," ucap Nara tiba-tiba, Gavin kembali membuka mata. Melihat ke arah Nara yang tersenyum padanya.
Ah, cantik!
Segera ia menggelengkan kepala, apa-apaan dia ini! Gavin kehilangan fokus karena senyuman Nara. Jarang-jarang wanita itu tersenyum padanya.
Gavin membalas senyuman Nara, menganggukkan kepala. Ia senang bisa membantu putranya, jadi tidak perlu ada ucapan terimakasih. Tapi ia juga senang saat melihat senyuman Nara, Gavin terus memandangi wajah cantik Nara.
__ADS_1
Yang di pandangi menjadi salah tingkah.