
Lagu selamat ulang tahun menggema di ruang tamu tempat diadakannya pesta. Nessa dan Nevan berdiri berdampingan ditengah-tengah, di hadapan mereka sudah tersaji kue yang cukup besar dengan lilin diatasnya.
"Tiup lilinnya ... " tepuk tangan dari teman-teman Nessa dan Nevan menambah kesan kemeriahan pesta.
"Jangan lupa make a wish-nya sayang ... " Kedua anak Nara itu mengangguk, mereka memejamkan mata sesaat untuk membuat keinginan, do'a yang hanya bisa mereka dan Tuhan yang dengar.
Mereka menarik napas lalu meniup lilin, tepukan tangan semakin keras terdengar, tanpa sadar air mata Nara menetes, tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya. Nara terduduk, mensejajarkan tinggi badannya dengan Nessa dan Nevan lalu memeluk mereka erat dan mencium.
"Anak-anak Bunda udah besar, sehat selalu yaa ... Jadi anak yang baik, jangan nakal lagi."
"Sayang Bundaa ... " Nessa membalas pelukan Nara erat, disusul oleh Nevan.
"Ya ampun, jadi melow gini, udah dong nanti malah kami ikutan nangis. Sekarang tinggal potong kue, ayoo ... " ucap Kiki, membuat tiga orang yang sedang berpelukan itu langsung melepaskan, mereka tertawa.
"Potong kuenya ... Potong kuenya ... Potong kuenya sekarang juga ... " lagu terakhir di nyanyikan, di bantu oleh Nara, Nessa dan Nevan memotong kue.
"Kue pertama mau di suapin ke siapa ini?" tanya Kiki.
"Bunda!" Nessa segera menjawab.
"Kirain Tante Kiki yang bakalan dapet pertama, sedih." Raut wajah Kiki dibuat sesedih mungkin, Nessa tertawa sedangkan Nevan hanya tersenyum.
"Bunda aaa... " Nara membuka mulutnya menerima suapan kue pertama dari Nessa, lalu kedua dari Nevan. "Manis ... " Nara balik menyuapi kedua anaknya.
"Manis kayak aku, Bun." celetuk Nessa, membuat yang lain tertawa dengan kepedean nya.
"Terus siapa yang dapet suapan kedua?" tanya Kiki, membuat raut wajah Nessa berubah sedih.
"Tadinya mau di kasih ke Ayah, tapi sampai sekarang Ayah belum datang ... " ucapnya pelan, mendengar itu suasana mendadak jadi sunyi.
"Wah ... Kebangetan itu anak, tadi malam bilangnya mau kesini tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga ... " timpal Helen, wajahnya berubah kesal.
__ADS_1
"Kata siapa Ayah nggak datang?" suaranya mengalihkan perhatian semua yang hadir, wajah Nessa yang barusan nampak sedih kini hilang entah kemana.
"AYAHHH!!" Nessa berteriak sambil memeluk Gavin, ayah yang tidak dia temui selama empat hari ini. Rasa rindunya sudah seperti bertahun-tahun tidak bertemu.
"Anak cantik kenapa menangis? Ayah 'kan sudah janji bakal datang, masa Ayah lupa. Nggak mungkinlah," Gavin memeluk Nessa balik, keduanya berpelukan membuat siapa saja yang melihat merasa terharu dengan kedekatan Ayah dan anak itu.
Tak terkecuali Nara, senyumnya ikut terukir saat melihat putrinya bisa lebih bahagia di hari ini. Sesaat tatapan matanya beradu dengan Gavin, Nara terpaku sampai napasnya terasa sesak, tatapan berbeda yang Gavin berikan setelah cukup lama tidak bertemu membuat Nara salah tingkah.
"Ehem! Ehem! Baik, sekarang orang yang di tunggu putri kecil sudah datang, berarti bisa dong pestanya di lanjut, Tante sudah nggak sabar nih pengen cobain kuenya," celetuk Kiki, seketika membuat suasana tenang menjadi buyar.
Nessa menepuk keningnya, "Ayah harus coba kuenya!" Nessa membawa Gavin mendekati meja yang diatasnya ada kue, di bantu oleh Nara, Nessa bisa memotong kue, tangannya terulur menyuapi Gavin.
"Kuenya manis," ucap Gavin, Nessa tersenyum senang.
"Iyalah, apalagi di tambah lihat aku, pasti manisnya bisa bikin diabetes," timpal Nessa dengan pedenya.
Acara dilanjut, teman-teman Nessa dan Nevan sibuk bertanya tentang Gavin, yang selama ini mereka tahu bahwa Nessa dan Nevan tak punya ayah. Sehingga membuat Nessa dan Nevan menjauh dari Gavin. Teman-teman mereka berdua sudah mengambil alih Nessa dari tangan orang tuanya.
"Apa kabar?" tanyanya dengan canggung, dia berdehem sebentar untuk mencairkan suasana yang aneh ini.
"Baik!" jawab Nara singkat.
Hening ....
“Ayahhh!!!” Suara Nessa mengalihkan perhatian mereka berdua, gadis kecil itu mendekat.
"Mana kadonya?"
"Oh iya, Ayah hampir lupa. Sebentar Ayah ambil dulu." Gavin merogoh sesuatu di saku jasnya, mengambil sebuah benda yang berbentuk kotak kecil.
"Kecil banget!" Kening Nessa berkerut, Gavin bilang akan membawa kado istimewa, tapi kenapa bentuknya kecil? Tak sesuai dengan harapan Nessa.
__ADS_1
"Kata Ayah hadiahnya spesial! Kenapa kecil banget?!" protes Nessa.
Gavin tersenyum, ia menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga Nessa, sampai wajah gadis itu tiba-tiba berubah senang.
"Wahhh!!! Bener, Yah?"
"Iyaa ... "
Melihat itu sekarang Nara lah yang bingung, perubahan raut wajah Nessa yang mendadak itu membuat Nara heran. Dengan cepat Nessa berjalan ke arah Nara, menarik lengan Bundanya dan membawa Nara lebih dekat dengan Gavin.
"Nessa ada apa sih?" tanyanya tapi sayang tak digubris oleh Nessa. Lalu tatapannya beralih ke Nevan, namun sama saja, anak itu malah mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
Setelah berada di hadapan Gavin, Nessa melepaskan pegangannya. Anak itu berjalan menjauh, memberi ruang antara dua orang yang kini berhadapan dengan canggung.
Sampai saat kedua mata Nara melotot kaget karena tiba-tiba saja Gavin berlutut di hadapannya, membuka kotak kecil yang katanya adalah kado untuk Nessa, dannnn isinya adalah sebuah cincin yang dilapis permata. Begitu indah, sampai membawa Nara melongo heran.
Setelah beberapa kali menarik napas. "Nara, maukah kamu menikah denganku?" ucap Gavin dengan nada lantang, tatapannya serius menatap Nara.
Jelas saja Nara sangat terkejut, ia menutup mulutnya yang menganga. Kakinya gemeteran. Astaga ... Ini bukannya hadiah untuk Nessa? Kenapa malah menjadi kejutan untuknya?
Nara mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan kabur kamar, dalam hatinya berteriak ... Ibuuu, aku barusan diamar!!!!
.
.
.
bersambung
Ehem!! aku baru sadar kalau part ini gk ada abang Fahmi sama ayahnya, tapi tenang, sebenarnya mereka ada, lagi duduk di kursi pojok, wkwk. Sekarang mereka semua lagi pada melongo kaget gara-gara si Gavin.(〃゚3゚〃)
__ADS_1