Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Kabur


__ADS_3

Di tempat yang cukup jauh, sebuah pegunungan dengan hutan yang cukup lebat. Fahmi dan Gavin berdiri di balik semak yang gelap, tidak jauh dari tempat Jovanka menyekap kedua anaknya.


Cahaya temaram dari gubuk kecil dan kumuh, ada beberapa penjaga di sana. Termasuk Jovanka yang sedang mengawasi. Belum beranjak dari satu jam yang lalu.


“Bagaimana? Kita masih harus menunggu atau langsung serbu saja?” tanya Fahmi yang sudah merasa lelah, satu jam mereka berdiri tanpa berpindah tempat.


"Jangan, aku yakin sebentar lagi Jovanka pasti akan pergi dari tempat ini. Mana mungkin wanita sepertinya mau lama-lama duduk di tempat kotor dan banyak nyamuk."


“Ck! Wanita sepertinya itu juga istrimu, menyebalkan!!” decak Fahmi.


Gavin diam, tak menjawab. Tapi benar saja, sepuluh menit kemudian Jovanka keluar dari gubuk itu. Pakaiannya terlihat tebal, tidak lupa dengan kacamata yang tidak di pakai dan masker yang menempel sempurna di hidung dan mulut.


“Sudah kubilang,” ucap Gavin.


Setelah benar-benar tidak ada lagi tanda-tanda mobil Jovanka, Gavin mulai melancarkan rencananya.


“Anak buah Jovanka tidak banyak, sedangkan kita membawa anak buah cukup banyak. Jadi nanti mereka yang akan mengalahkan anak buah Jovanka, sedangkan kita pergi menyelamatkan anak-anak.”

__ADS_1


Fahmi menurut, tak ada keinginan untuk berdebat. Gavin menyuruh semua anak buahnya dan Fahmi mendekat. Tanpa menimbulkan suara mereka menyusun rencana.


Tidak lupa dengan beberapa polisi yang membawa senjata, Gavin merasa kali ini Jovanka bisa di tangkap.


Tidak semua anak buah Gavin ikut menyerang, ada empat orang yang menjaga di empat titik tempat tersebut. Sedangkan lima polisi yang datang, mereka akan keluar saat sudah waktunya.


Gavin dan Fahmi lewat pintu belakang gubuk yang rusak untuk mencoba masuk. Tadi, sebelum benar-benar mulai menyusun rencana, Gavin sudah mencari tahu tentang gubuk ini.


Penjaga yang di sewa Jovanka paling banyak berjaga di bagian depan, sementara bagian belakang yang terlihat sangat gelap itu tidak ada penjaganya sama sekali. Walaupun memang pintu belakang sudah rusak dan sulit di buka.


Suara kresek-kresek dari injakan daun anak buah Gavin dan lainnya membuat beberapa penjaga itu menoleh waspada. Sadar mereka sudah ketahuan, tanpa aba-aba, anak buah Jovanka langsung menyerang.


Tapi para penjaga itu tak menyadari bahwa mereka juga sedang di intai oleh polisi yang sedang bersembunyi. Sedangkan Fahmi dan Gavin sedang mencoba untuk membuka pintu belakang yang rusak.


“Ternyata lumayan sulit,” ucap Fahmi menarik napas panjang. Engsel pintu sudah berkarat, jika di paksa akan ada suara yang keras, Gavin tak mau membuat penjaga yang sedang berkelahi di depan menjadi besok arah dan Gavin akan jadi pusat perhatian mereka.


“Ini hampir berhasil,” ah, benar, ternyata sudah berhasil. Gavin dengan pelan mengambil pintu yang sudah copot itu dan segera membuangnya.

__ADS_1


Mereka berdua langsung masuk, lagi-lagi tebakan Gavin benar. Anak buah Jovanka hanya berjaga di bagian depan, sedangkan belakang mungkin karena gelap mereka tidak mau berjaga di sini.


"Ah, pantas mereka tidak mau berjaga di sini, ternyata nyamuknya lebih banyak dari pada di depan," celetuk Fahmi yang sedang mengibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk yang mulai menempel pada tubuhnya.


Hanya sebuah gubuk kecil, tidak sulit bagi Fahmi dan Gavin untuk menemukan Nessa dan Nevan. Ada satu kamar yang terdapat cahayanya. Karena di depan sedang ada perkelahian, maka kamar itu tak ada yang menjaganya.


"Ay--"


"Ssshhhtttt," dengan kompak, Fahmi dan Gavin memberi isyarat pada Nessa untuk diam.


Nessa mengangguk, Fahmi dan Gavin dengan cepat berjalan ke arah Nessa dan Nevan. Tangan kedua anaknya masih terikat, sedikit kemerahan yang terasa perih sedang di tahan oleh keduanya.


Gavin menggertakkan giginya, melihat Nessa meringis saat ia memegang beberapa lecet di tangan Nessa.


“Ayo pulang! Kita obati di rumah,” ucap Gavin langsung menggendong tubuh kecil Nessa kembali lewat pintu belakang.


Hampir semua anak buah Jovanka jatuh tersungkur di tanah karena di hajar oleh anak buah Gavin. Tapi, tanpa mereka sadari kalau ada salah satu penjaga tadi telah kabur.

__ADS_1


__ADS_2