Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Mulai Pergi Meninggalkan


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam rumah, Nara menghubungi Fahmi, niatnya sama seperti dulu, meminta bantuan Fahmi untuk membuat persiapan ulang tahun kedua anaknya.


"Halo, Kak!" sapanya setelah telepon di angkat, Nara duduk di sofa ruang keluarga, pekerjaan rumah sudah beres sejak anak-anak belum berangkat sekolah jadi pagi menjelang siang ini Nara free.


"Halo, Ra. Ada apa?"


"Aku mau minta bantuan Kak Fahmi."


"Bantuan apa?" Di sana Fahmi sedang duduk di kursi kebesarannya. Posisinya semakin tinggi, ayahnya semakin tua dan sudah pensiun.


"Sebentar lagi anak-anak ulang tahun, seperti biasa, aku pengen minta bantuan Kak Fahmi untuk persiapan ulang tahun ... "


Cukup lama Fahmi terdiam, terdengar helaan napas, "Bukannya sekarang sudah ada Gavin? Aku nggak bisa selalu bantuin kamu ... "


"Memang dia siapa?" tanya Nara sinis.


"Ayahnya anak-anak 'kan?"


"Iya! Tapi kan selama ini selalu Kakak ya bantu, aku nggak mau orang lain."


"Gavin bukan orang lain, dia ayahnya anak-anak. Kalau nikah sama kamu berarti dia jadi suami kamu!" ucap Fahmi, dalam pikiran Nara kakaknya ini mulai bicara ngawur.


"Aku nggak mau jadi istri kedua," ucap Nara mulai kesal.

__ADS_1


"Lah? Siapa bilang jadi istri kedua, sebentar lagi Gavin resmi bercerai, lagian mereka itu suami istri tapi nggak pernah akur, kamu bisa tenang kalau nikah sama Gavin, Jovanka juga udah di penjara. Minimal lima tahun baru bisa keluar tapi pakai jaminan," ucapan Fahmi seolah-olah menjadi pendukung untuk Gavin, dan memaksa Nara untuk segera menikah.


"Aihh, makin ke sini Kakak makin nyebelin! Nikah sama dia malah bikin aku nggak tenang!!" Nara langsung mematikan sambungan teleponnya membuat Fahmi kebingungan. Apakah ia ada berkata salah sampai Nara ngambek begitu, padahal apa yang ia bilang itu benar.


Selesai mengobrol singkat dengan Fahmi, Nara lanjut menghubungi Kiki. Berharap sahabat satu-satunya ini bisa di andalkan. Pertama kali memanggil sedang sibuk, kedua kali tidak aktif dan ketiga kali di reject, Nara yang kesal akhirnya terus memanggil lalu matikan sendiri, pasti di sana Kiki juga ikut terganggu.


Akhirnya di panggilan ke tujuh baru di angkat oleh Kiki, Nara mendengus kesal menatap ponselnya seperti ia sedang menatap Kiki dengan perasaannya saat ini.


"Hal--" Belum sempat menyapa, Kiki sudah mengomel lebih dulu.


"Aduh, Naraaa ... Kamu bisa nggak sih jangan ganggu aku dulu. Aku sibuk!"


"Sibuk ngapain kamu?!" tanya Nara sewot, dalam hati ia menggerutu.


"Sejak hari ini! Ah, sudahlah! Kamu itu sukanya ganggu kesenangan orang." Sambungan telepon di putus satu pihak, membuat pihak yang lain merasa kesal bukan main, dua orang yang dulu menjadi andalannya kini malah pergi meninggalkannya. Nara mengumpat dalam hati, menyesal kenapa ia punya sahabat semenyebalkan ini, tapi mengingat kebaikan Kiki padanya selama ini membuat Nara kembali mengusap dada sabar.


Belum sempat menyatakan niat tapi sudah di tolak lebih dulu. Berarti sekarang Nara harus membuat persiapan ulang tahun sendiri. Bukannya wajib, tapi selama ini Nara merayakan ulang tahun agar anak-anak selalu bahagia walaupun tanpa ayah.


Tapi sekarang kondisinya memang berbeda, walaupun begitu Nara tetap ingin merayakan ulang tahun anak-anaknya.


Sementara di tempat lain, Gavin sudah tiba di depan sekolah kedua anaknya. Mencium kening mereka berdua baru boleh keluar dari mobil, tapi sebelum itu Gavin mencekal mereka dulu sebentar.


"Kenapa, Yah?" tanya Nevan heran.

__ADS_1


"Ayah mau ngobrol sebentar sama kalian berdua," ucapnya, mereka masih berada di dalam mobil, anak-anak duduk di bagian belakang dan Gavin yang menyetir.


Gavin membalikkan badannya menghadap ke arah dua anaknya yang saat ini belum ada status yang jelas. Sejak kejadian penculikan itu sebenarnya Gavin sudah mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa tinggal dan memberikan kedua anaknya status yang jelas.


Tapi tidak mungkin dia merebutnya dari Nara, wanita itu akan murka, jadi satu-satunya cara adalah menikahi Nara, tapi rasanya sulit juga. Bagaimanapun Gavin belum resmi bercerai dengan Jovanka, dan belum tentu Nara mau menerimanya.


Sampai saat ini Gavin masih berada dalam kebingungan, tapi setelah kedatangan tetangga baru Nara sinyal berbunyi. Peringatan untuk Gavin agar bertindak cepat.


"Ayah mau minta tolong," Gavin sampai mengatupkan kerua tangannya, dengan kepala menunduk dan tatapan memelas. Ia lalu menatap kedua anak-anaknya secara bergantian.


"Kenapa sih, Ayah?" Nessa juga ikut heran.


"Bantuin Ayah buat jagain bunda kalian," ucapnya yang semakin membuat anak-anak bingung.


"Emang bunda kenapa?"


"Ayah pengen kalian jagain Bunda, awasi selama Ayah nggak ada. Sama tetangga baru kalian juga, setiap bunda kalian ketemu sama dia, kalian lapor sama Ayah," Gavin menjadi bingung caranya merangkai kata. Ia tak begitu pandai dalam bicara panjang lebar kecuali saat rapat dan mengomel tentang kesalahan bawahannya yang suka lalai dalam bekerja.


"Bilang aja Ayah nggak mau bunda deket-deket sama om Joshua," Nada bicara Nessa meledak, Gavin mati kutu.


"Kalian mau nggak tinggal bareng sama Ayah sama bunda?" Gavin mengeluarkan jurus keinginan dua anaknya yang tadi pagi Nessa tanyakan karena penasaran.


"Mau!!" jawab keduanya serentak.

__ADS_1


"Bagus, kalau gitu kalian harus bantu Ayah, jagain bunda supaya nggak di colong orang lain!"


__ADS_2