
"Ra, apa bukti ini masih belum bisa buat kamu percaya?" untuk kedua kalinya Fahmi menanyakan hal yang sama.
Namun Nara tidak menjawab, ia masih menunduk. Dengan jemari yang meremas ujung pakaian. Semua ini begitu tiba-tiba.
“Jika benar, kenapa baru bilang sekarang? Kenapa nggak dari dulu cari aku?” ucap Nara setelah cukup lama ia terdiam. Ia berusaha untuk tidak menangis, rasanya cukup sesak di dada.
Mendengar itu, Irwan dan Fahmi terdiam. Tak bisa bilang apa alasan sebenarnya. Apalagi Fahmi yang hanya mengikuti perintah ayahnya.
"Maaf ... " kata singkat itu terucap dari bibir Irwan, beliau menghela napas dalam, rasa bersalah muncul, apakah dia terlalu jahat dengan putri kandungnya sendiri?
Mendengar nada bicara Nara yang seperti sangat sedih, membuat hatinya seperti di iris ribuan pisau yang tajam.
Nara hanya menoleh sebentar lalu memalingkan wajah, bukannya senang karena ternyata ia bukanlah yatim piatu ia malah lebih merasa kecewa.
__ADS_1
“Ehem ... Maaf aku menyela, yang aku ingat bukankah putri kalian itu hilang?” tanya tante Helen, menatap Irwan lalu gantian menatap Fahmi.
"Tidak! Dia tidak hilang. Saat itu kondisi keluarga kami sangat kacau, kami sengaja menyembunyikan keberadaan Nara, menaruhnya di panti asuhan dan tidak memberitahu siapa-siapa sehingga kami bilang kalau Nara hilang. Tapi kami tak menyangka, hal itu ternyata membuat istriku menjadi sakit hingga meninggal ... " ucapnya dengan nada yang penuh penyesalan.
"Lalu kenapa kalian tidak meminta tolong pada kami saja?!"
"Ah, sebenarnya aku sudah meminta tolong pada mendiang suamimu, malahan dia yang membantuku untuk menyembunyikan Nara. Aku tidak mungkin melakukan hal besar ini sendirian ... "
Helen menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat terkejut dengan ucapan Irwan. Ternyata masih banyak hal yang tidak dia ketahui mengenai masa lalu. Bahkan tentang masalah keluarga Irwan yang kacau, dia sama sekali tidak tahu.
Jika dulu memang banyak masalah di keluarga, lalu apa sampai bertahun-tahun? bahkan lebih dari 22 tahun. Ia hidup bagaikan seorang anak yang tidak mempunyai orang tua. Padahal sebenarnya, dia masih punya.
“Maaf ... ” lagi ucapan itu keluar, menatap Nara dengan penuh perasaan bersalah yang besar.
__ADS_1
Nara kembali membuang muka, tangannya terulur mengusap air mata yang mengalir.
“Ra, udah dong! Cengeng banget kamu! Udah, terima aja kebenarannya, harusnya kamu seneng, kalau kamu masih punya orang tua apalagi jadi orang kaya dadakan, walaupun aku juga kesal, apalagi sama kak Fahmi, yang ternyata kakak kandung kamu!!” kata Kiki mencoba menenangkan Nara, wajah kesal ia tunjukkan pada Fahmi.
Beberapa kali Fahmi dan Irwan meminta maaf, Nara sampai bosan mendengarnya. Setelah merasa cukup tenang, ia memaafkan Fahmi dan Irwan yang kini berstatus sebagai kakak dan ayah kandungnya.
Setelah suasana cukup tenang, Fahmi pun bisa bernapas lega. Lalu mereka berlanjut berbincang-bincang, Nara hanya menanggapi dengan anggukan kepala serta jawaban-jawaban singkat sebagai respon.
“Nara ... Apa setelah mendengar ini kamu mau ikut pulang bareng Ayah?” tanya Irwan.
Nara diam beberapa saat, "Maaf Om, aku tidak ingin ikut. Aku sudah nyaman di sini, lagi pula aku belum tentu aku betah kalau tinggal di tempat baru."
Irwan mengembuskan napas, "Kenapa masih panggil Ayah Om?"
__ADS_1
Nara tertegun, ia tak sadar tadi karena tidak terbiasa dengan statusnya sekarang, "Maaf, aku belum terbiasa, nanti aku coba buat panggil Ayah, maklum, aku udah 25 tahun, belum pernah manggil Ayah sama orang lain ... "
Irwan terdiam, ucapan Nara kembali membuat dirinya tak bisa berkata-kata. Malah membuat perasaan bersalah itu semakin besar dan terdengar seperti ia adalah seorang ayah yang kejam, yang dengan teganya membuang putri kandungnya sendiri.