
Hari itu, Gavin yang awalnya ingin pergi menemui anak-anaknya pun mengurungkan niat. Kedatangan Jovanka secara tiba-tiba membuat ia sadar kalau sekarang harus lebih berhati-hati.
Jovanka sudah mulai curiga padanya. Jadi, setelah kepergian Jovanka karena marah pada Gavin, Gavin pun hanya menlanjutkan pekerjaannya. Menemui kedua anaknya bisa besok lagi walaupun saat ini ia sedang kangen.
Dan hari ini pun tiba, dengan semangat Gavin berdiri dari duduknya, merapikan jas dan kemejanya serta dasinya yang terlihat miring.
Seperti biasa Gavin akan menyuruh Fifi untuk tidak mengganggunya selama dua jam. Lalu ia pun pergi menggunakan mobil tanpa sopir yang mendampingi.
Tapi tanpa disadari Gavin, Jovanka telah mengikuti Gavin Selama perjalanan, sehingga saat sampai Jovanka membenarkan dugaannya kalau Gavin akan pergi ke sini, butik Nara.
Dengan perlahan kakinya melangkah, mengikuti Gavin dari jarak yang cukup jauh. Melihat pria itu masuk tanpa curiga kalau ada yang mengikutinya.
Jovanka pun ikut memasuki butik Nara, tak lupa ia menggunakan kacamata hitam dan penutup kepala agar tidak dikenali banyak orang.
Saat masuk, ia melihat Gavin sedang berbicara dengan seorang karyawan. Lalu tangannya menunjuk ke arah lantai atas, tempat Nara berada.
Butik ini belum cukup ramai karena sekarang sedang jam makan siang, jadi Jovanka masih merasa aman karena belum ada yang mengenalinya.
Ia bersembunyi di balik pakaian yang di gantung, dengan jarak sekitar dua meter dari Gavin. Sungguh merasa penasaran sehingga memunculkan beberapa pertanyaan di benaknya.
Untuk apa Gavin ke sini?
__ADS_1
Saat sedang asik dalam pikirannya sendiri, Jovanka terlonjak saat mendengar suara anak kecil yang bilang ayah. Matanya tertuju pada Nessa, gadis kecil yang sedang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
“Ayah ... ”
Panggilan itu membuat Jovanka memusatkan pandangan matanya, mengikuti kemana Nessa akan meneruskan langkahnya. Sampai kembali ia terkejut, anak dari Nara itu berlari ke arah Gavin.
Rasa marah muncul, melihat Gavin dengan semangat menggendong Nessa dan membawanya ke dalam pelukan suaminya. Ada apa ini?
Jovanka mengigit kuku jarinya demi memendam amarah yang sedang membelenggu nya, ia terus mengawasi interaksi dua orang yang sedang ia awasi.
“Ayah baru dateng? Kenapa kemaren nggak ke sini? Padahal Nessa udah nungguin sampai ketiduran,” di dalam pelukan Gavin, Nessa mengeluh dengan bibir mengerucut.
Bukannya terlihat lucu, tapi bagi Jovanka itu sangat menyebalkan. Ia masih mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut anak Nara. Matanya melotot seketika, saat sadar kalau Nessa telah memanggil Gavin dengan sebutan 'ayah'.
Selama ini yang Gavin tunjukkan padanya hanya wajah dingin dan datar, tidak ada kelembutan juga senyuman yang setulus ini padanya. Berarti, hal itu menunjukkan kalau Gavin tidak menyukai dirinya, tiba-tiba Jovanka merasa sakit sekaligus marah.
Sungguh saat ini rasanya ia ingin melempar anak itu dan membawa Gavin pergi dari sini. Tapi niat itu ia urungkan, ia masih ingin mengetahui rahasia yang selama ini Gavin simpan dari dirinya.
“Tadi Nessa pikir Ayah nggak dateng lagi, jadi Nessa minta Bunda buat beli makanan. Untung Bunda beli banyak, jadi kita bisa makan bareng, yuk, Yah,” Nessa menarik tangan Gavin, tanpa penolakan Gavin pun mengikuti langkah kaki gadis kecil itu.
Cukup, sekarang Jovanka sudah tidak bisa mengikuti Gavin lagi, mereka berdua sudah menaiki tangga, menuju lantai dua dimana ruangan Nara berada.
__ADS_1
Jovanka berbalik badan, ia segera keluar dari butik Nara, masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan cukup keras.
“ARGHHH ... Sial!! ” Jovanka memukul-mukul setir mobil, melampiaskan kemarahannya yang sudah memuncak.
Ada rasa marah sekaligus kecewa, Gavin telah menyembunyikan hal besar darinya, walaupun ia belum tahu apa itu. Tapi Jovanka cukup yakin kalau ini akan menjadi hal buruk untuk dirinya.
“Sebenarnya ada apa ini?!! Apa yang nggak aku tau tentang Gavin selama ini?!!” Kembali memukul-mukul setir, Jovanka pun lalu menoleh ke arah butik Nara, ada rasa penasaran yang besar di hatinya.
Tentang kejadian hari ini, Jovanka berniat untuk menyelidiki. Ia mulai menyalakan mobil saat emosi sudah bisa di kendalikan. Melaju pergi meninggalkan butik Nara untuk pulang ke rumah, ia harus melakukan sesuatu.
.
.
.
bersambung
makin sepi yah, hehehe 😁
soalnya jarang up sih, beberapa hari kemarin ada yang nikahan di depan rumah, mau up tapi gk bisa karna berisik, orgenan musiknya kenceng bgt.🤧
__ADS_1
Makasih yaa udah mau mampir, jangan lupa pencet love, jempol sama komennya ya😘