
Kenyataan pahit yang tentu akan Jovanka terima, ialah berdiri di hadapan Gavin dengan keadaan begini, berada di penjara. Jovanka memalingkan wajah, enggan menatap Gavin.
“Kamu pasti senang lihat aku begini 'kan?” tanya Jovanka tanpa melihat Gavin.
“Kamu berada di sini nggak akan mengubah kehidupan aku. Buat apa aku senang? Tapi aku lebih merasa kecewa, hanya karena aku bilang ingin kita cerai, kamu bahkan berani menculik kedua anakku. Aku tau aku salah, karena nggak jujur sama kamu dari awal, maka dari itu aku minta maaf.”
“Aku ngelakuin itu karena tau kamu pasti minta cerai gara-gara anak-anak itu juga Nara. Aku udah sabar nunggu kamu selama hampir tiga tahun, tapi aku sama sekali nggak bisa bikin kamu jatuh cinta. Tak apa, asal kamu ada di sampingku, aku rela melakukan apapun,” Jovanka mengusap air matanya yang keluar, masih enggan menatap Gavin.
Dalam pikirannya, dia tidak salah sama sekali. Ia hanya kurang berhati-hati sehingga bisa ketahuan oleh Gavin. Lagipula ia melakukan ini agar bisa mengancam Nara dan membuat mereka menjauh dari kehidupan Gavin dan dirinya.
Ia tentu tak akan melakukan apapun pada anak kecil, sejahat-jahatnya dia, dia tidak akan membunuh seorang anak kecil yang bahkan usianya belum genap lima tahun. Tapi tidak di sangka, rencananya hancur berantakan karena dia sudah ketahuan oleh Gavin.
"Justru aku ingin cerai karena ngerasa kita nggak cocok sama sekali. Selama kita nikah, aku nggak ada perasaan apapun sama kamu. Yang ada aku semakin ngerasa bersalah sama Nara, perempuan yang pernah aku tiduri dengan tidak sengaja. Aku ngerasa ini juga nggak adil buat kamu, kamu wanita, berhak di cintai, tapi bukan denganku."
Gavin berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Jovanka yang sedang duduk di sebrangnya. Lalu duduk di sebelah wanita yang berstatus sebagai istrinya.
“Itu karena kamu belum coba, dari awal kamu selalu acuh sama aku. kamu kayak nganggep aku bukan siapa-siapa,” kali ini Jovanka melihat ke arah Gavin, matanya sudah memerah karena nangis.
__ADS_1
Gavin mengusap air mata itu, Jovanka memejamkan matanya. Ini adalah pertama kalinya Gavin menyentuh dirinya dengan lembut. Tanpa ada paksaan darinya. Sentuhan yang sangat Jovanka inginkan.
“Aku nggak tau kenapa tapi aku nggak bisa. Aku udah berusaha, buat jatuh cinta sama kamu, tapi masa lalu yang belum selesai selalu bikin aku nggak tenang. Anka, masa depan kamu masih panjang, kamu berhak dapat cinta dari laki-laki yang sangat mencintai kamu dengan tulus,”
“Tapi yang pasti laki-laki itu bukan aku. Aku cuma pengen kita hidup damai, saling melepas memang bukan satu-satunya cara. Tapi, aku beneran nggak bakal bisa bikin kamu hidup bahagia, aku takut kanu akan semakin terluka dengan sikapku yang sangat acuh sama kamu,”
“Aku beneran nggak bisa hidup tenang selama masa lalu belum selesai. Kali ini, aku minta satu hal dari kamu, tolong tanda tangani ini ... ” Gavin menyodorkan sebuah map berwarna coklat, tangan Jovanka gemeteran, ia tahu apa isi di dalamnya.
"Kamu beneran mau ceraikan aku?" air matanya lolos lagi, Ia masih berharap bahwa Gavin akan membatalkan niatnya untuk tidak menceraikan dirinya.
"Ini demi kebaikan kita masing-masing, aku ingin terlepas dari hubungan yang abu-abu ini. Aku ingin kamu bebas dan bisa mencari cinta mu sendiri, mencari suami yang lebih baik dari aku."
"Tapi bagiku kamu yang terbaik, aku cinta kamu, dari dulu!" tegas Jovanka.
"Tapi aku nggak cinta kamu, aku udah berusaha selama ini tapi tidak bisa."
Lagi, Jovanka menerima penolakan dari Gavin. Pria yang ia cintai sejak delapan tahun yang lalu, tapi sayang cintanya tak pernah terbalas walaupun mereka sudah menikah cukup lama.
__ADS_1
Dulu ia pikir dengan menikah dengan Gavin akan membuat hidupnya semakin sempurna dan dilimpahkan kebahagiaan. Sampai saat ia mendengar penculikan Gavin dan kejujuran Gavin kalau pria itu telah memperkosa seorang gadis yang ikut diculik bersama dengannya.
Mulai saat itu, kepribadian Gavin berubah. Awalnya Gavin adalah pria yang menyenangkan walaupun memang ada yang berubah sejak awal karena kematian papanya.
Dulu Gavin sangat ceria, Jovanka sangat ingat, Mereka berdua bersahabat sejak masih kecil, sekolah bareng, kuliah pun bareng. Seperti kata orang, tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, dan Jovanka tahu itu, sejak awal kuliah ia mulai suka pada Gavin, bukan sebagai sahabat tapi sebagai laki-laki.
Dan ternyata cintanya semakin tumbuh besar, rasa ingin memiliki begitu kuat, sampai ia memutuskan sendiri kalau menikah nanti, harus Gavin lah suaminya. Sampai ia mendengar kalau papanya akan menikahkan dirinya dengan Gavin, bisa di bayangkan betapa senangnya Jovanka.
Namun sayangnya sejak kejadian penculikan itu, Gavin menjadi sangat pendiam, sering mengurung diri di kamar sampai harus memanggil seorang psikiater.
Awalnya mereka akan menikah tiga bulan setelah acara pertunangan. Namun menjadi tertunda karena kondisi Gavin yang tidak memungkinkan. Saat itu Jovanka mencoba menghibur Gavin, tapi tidak berhasil.
Dan setelah dua tahun menjalani pengobatan, Gavin akhirnya sembuh. Gavin di suruh untuk cepat-cepat menikah dengan Jovanka, awalnya pria itu menolak, dan bilang ingin mencari gadis itu, Nara yang dimaksud.
Tapi desakan keluarga membuat Gavin tak bisa menolak. Sungguh Jovanka merasa sangat bahagia saat Gavin sudah menjadi suaminya. Tapi sekali lagi, Jovanka harus bersabar dengan sikap Gavin yang menjadi dingin padanya. Tidak seperti saat bersahabat dulu.
Dengan menyakinkan dirinya sendiri, Jovanka merasa ia pasti bisa membuat Gavin jatuh cinta padanya dan juga bisa melupakan masa lalu Gavin. Perjuangannya selama ini ternyata sia-sia. Jovanka ternyata tidak bisa mempertahankan Gavin untuk tetap berada di sisinya.
__ADS_1