
Di kantor, Gavin duduk termenung di kursi kebesarannya dengan menatap keluar jendela. Mengamati suasana kota jakarta di bawahnya, kendaraan berlalu lalang, kemacetan terjadi di mana-mana.
Dia belum boleh melakukan aktivasi yang berlebihan, meskipun tadi pagi mamanya memaksa agar Gavin jangan masuk kantor dulu, tapi bukan Gavin namanya kalau tidak keras kepala.
Perdebatan tadi pagi dengan Helen berakhir setelah Helen menyerah, suaranya sudah serak karena banyak bicara dengan Gavin tapi sayang, tidak di anggap oleh putra semata wayangnya itu.
Gavin pergi kekantor dengan harapan bisa menyenangkan suasana hatinya, jika ia terus berada di rumah, maka ia akan merasa bosan. Lagian, pekerjaan sudah menumpuk. Satu minggu di tinggal, banyak dokumen yang butuh tanda tangannya di atas meja, beberapa berkas perlu di revisi ulang dan di baca ulang.
Sekarang sudah jam sepuluh, ternyata suasana hatinya tetap tidak berubah. Menyenangkan suasana hati dengan mengerjakan pekerjaan kantor yang menumpuk malah membuatnya sakit kepala.
Gavin memijit pelipisnya, kemudian ia memencet tombol di samping, memanggil sekretarisnya agar masuk.
Tok ... Tok ...
“Masuk,” ucap Gavin, lalu pintu terbuka, Fifi datang menghampiri Gavin.
“Ada apa, Pak?”
__ADS_1
“Tolong buatkan saya kopi, tapi ingat! Jangan terlalu banyak gula,” Gavin melambaikan tangannya, menyuruh Fifi pergi.
Fifi mengangguk patuh, ia segera pergi menuju pantry untuk membuat kopi. Sebenarnya pekerjaan ini bisa di lakukan oleh karyawan lain, tapi Gavin akan menolak jika yang membuat kopi adalah orang lain dan bukan Fifi.
Katanya kalau kopi di buat oleh tangan yang berbeda, maka rasanya akan ikut berbeda. Karena Fifi sudah bekerja cukup lama dengan Gavin, dan Fifi lah yang selalu membuat kopi untuk Gavin saat bekerja. Maka dari itu, Gavin sudah biasa merasakan kopi buatan Fifi.
Sepuluh menit kemudian, Fifi kembali datang ke ruangan Gavin dengan membawa satu cangkir kopi hitam. “Ini, Pak,” ucap Fifi sambil menaruh kopi di atas meja, di depan Gavin.
Gavin mengangguk, setelah itu Fifi keluar ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya. Beberapa hari ini ia selalu bekerja lembur karena Gavin yang tidak berangkat kerja. Tapi hari ini Fifi bersyukur karena Gavin sudah masuk, pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat.
Gavin mengambil cangkir kopi yang di bawa Fifi tadi, ia meminumnya, berharap bisa mengobati rasa sakit di kepalanya dan rasa kantuk yang mulai menyerang. Kondisi tubuhnya memang sudah sehat, ia sudah beristirahat selama satu minggu dan itu sudah cukup untuk memulihkan kondisinya.
Dua anak kembarnya yang baru ia tahu keberadaan kurang dari dua minggu. Dalam hati kecilnya sungguh ia merasa sangat bahagia, tapi juga ada rasa bersalah dalam dirinya untuk Nara yang sudah dengan rela membesarkan kedua anaknya sendirian.
Wanita muda itu, melihatnya dari dekat, wajahnya tampak cantik. Gavin memang menyesali perbuatannya karena sudah merusak masa depan seorang gadis yang masih kuliah saat itu. Tapi, kehadiran Nessa dan Nevan, tiba-tiba merubahnya.
Sampai saat ini ia masih belum meminta maaf, itu karena ia merasa malu. Malu dengan perbuatannya di masa lalu. Ia merasa tak pantas untuk mendapatkan maaf dari Nara. Harusnya ia bertanggung jawab dulu, tapi ia malah membiarkan Nara merawat kedua anaknya sendirian.
__ADS_1
Tidak bisa di bayangkan saat Nara mendapatkan banyak cibiran, hinaan, dan makian yang pasti akan membuat wanita itu sakit hati. Gavin tidak bisa membayangkannya, hal itu membuat sudut hatinya tiba-tiba nyeri, sesak.
Kepalanya sudah tidak terlalu sakit matanya tidak lagi mengantuk. Gavin mengingat sesuatu, ia mengambil ponselnya dari atas meja. Mengetik nama seseorang, melalui WhatsApp, Gavin menulis pesan.
Tangannya berhenti, ia menjadi bingung ingin mengetik pesan dengan kata apa. Ia mengetik dan menghapus, begitu terus sampai beberapa saat dan akhirnya selesai, “hai, maaf mengganggu, bagaimana kabarmu?”
Terkirim, Gavin terus membaca ulang pesan yang dia ketik tersebut. Ia merasa aneh sendiri. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, menunggu balasan pesan. Setelah beberapa menit menunggu ...
Ting!
Ponselnya berbunyi, dengan cepat Gavin membaca pesan yang masuk. Sudut bibirnya tertarik, ternyata dia membalas pesannya.
“Baik, maaf ini siapa ya?” balasan dari pesan tersebut.
Gavin langsung mengetik kembali, “saya Gavin, maaf kalau tiba-tiba menanyakan kabarmu, kamu Nara kan?”
Kembali terkirim namun belum terbaca, Gavin menunggu balasan dari Nara sambil menyeruput kopinya yang sudah hampir habis. Rasa bosan sudah mulai hilang dengan mengobrol bersama Nara, walaupun hanya melalui pesan WhatsApp.
__ADS_1
Gavin bisa membayangkan, saat ini pasti Nara sedang terkejut karena ia bisa mengetahui nomor ponselnya. Gavin terus tersenyum tidak jelas, duduk bersandar pada kursi menghadap ke jendela luar yang menampakkan pemandangan kota Jakarta.