Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tamu


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar, matahari mulai menampakkan dirinya. Cahayanya memasuki sebuah kamar lewat jendela. Membuat sang pemilik kamar terganggu dan mulai membuka matanya.


Nara melirik ke arah jam dinding, waktunya dia bangun. Kemudian dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Tepat pukul 6 dia baru keluar dan sudah memakai pakaian yang lengkap.


Saat sedang mengeringkan rambut, ponsel milik Nara bergetar, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Nama Fahmi tertera di WhatsApp ponsel Nara. Dia membacanya dan kemudian membalasnya.


||Ra, Kakak minta maaf hari ini nggak bisa nganter anak-anak ke sekolah. Kakak ada sedikit kerjaan diluar. Tapi Kakak usahain besok Kakak udah pulang.||


Isi pesan yang Fahmi kirimkan. Nara membalas dengan mengatakan tidak apa-apa. Saat baru saja meletakkan ponselnya, Nara melihat ke arah kalender. Sekarang sedang tanggal merah dan kemungkinan sekolah sedang libur. Jadi hari ini Nara akan mengajak kedua anaknya untuk ke panti asuhan.


Sudah lama dia tidak berkunjung ke sana, rasa rindu pada Ibu panti sudah menggunung. Saking sibuknya Nara sampai lupa untuk datang ke rumah yang dia tinggali selama 23 tahun.


Nara pergi ke dapur, dia berniat membuat roti untuk sarapan. Saat sedang mengoleskan selai ke roti, pintu rumahnya di ketuk. Nara berjalan dan membuka pintu. Menampilkan sosok seorang gadis yang sudah menjadi sahabatnya semenjak awal masuk SMA.


"Pagi... " sapa nya dengan senyuman nya yang mengembang.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Nara tanpa mempersilahkan Kiki masuk terlebih dahulu.


"Aku mau numpang makan.. " Jawabnya, kemudian Kiki mengibaskan tangannya di udara, berniat menyuruh Nara untuk menyingkir.


Sudah menjadi kebiasaan rutin Kiki jika pagi-pagi dia datang ke rumah Nara hanya untuk menumpang makan. Padahal Kiki punya rumah tapi lebih betah makan di rumah sahabatnya. Membuat Nara tidak habis pikir kenapa dia bisa mempunyai sahabat seperti itu.


"Anak-anak kemana?" Tanya Kiki saat baru saja meletakkan tas nya. Matanya menatap sekeliling rumah Nara.


"Masih tidur.. "


Nara berjalan melewati Kiki dan menuju dapur. Pagi ini Nara tidak ada niat untuk memasak. Dan hanya memakan roti dengan segelas susu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Nara.


"Kamu mau kemana?" Nara mengoleskan selai di roti dan mengambil satu lagi sebagai penutup.

__ADS_1


"Aku mau kerja 'lah... " jawabnya sambil memakan roti yang Nara buat.


Nara mendengus, roti yang dia buat untuk anaknya malahan di makan oleh Kiki. Nara kembali mengambil roti dan mengoleskan dengan selai. Tak berselang lama, Nessa dan Nevan datang, mereka bergabung dengan Nara.


Pakaian dua anak itu sudah rapi, artinya mereka baru saja selesai mandi. Roti yang sudah Nara oles dengan selai itu segera Nessa ambil dan langsung melahap nya.


"Hari ini kita mau kemana, Bun?" tanya Nessa dengan mulut yang penuh dengan roti.


"kita ke tempat nenek, mau?"


"Om Fahmi nggak dateng, Bun?" tanya Nevan.


"Nggak, om Fahmi lagi ada urusan di luar jadi nggak bisa ngajakin kalian main."


Nessa dan Nevan tidak bertanya lagi, mereka juga sudah merasa rindu dengan neneknya. Jadi tidak masalah jika hari ini Fahmi tidak ada. Mereka memakan roti dengan di iringi cerita dari Kiki maupun Nessa. Suasana meja makan di pagi hari yang terasa menyenangkan.


Setelah itu dia keluar dari rumah dan mengeluarkan motor miliknya dari Garasi. Nara menyuruh Nessa dan Nevan untuk naik Setelah dia selesai Mengunci pintu. Kemudian, motor melaju meninggalkan rumah.


Jalanan ibukota yang tidak pernah berubah dan selalu di penuhi oleh kendaraan, kemacetan yang sudah biasa terjadi kini Nara kembali mengalaminya. Tidak butuh waktu lama, motor kembali melaju, melewati beberapa lampu merah dan akhirnya sampai pada jalanan yang sedikit lenggang.


Nara menyetir dengan kecepatan sedang, menikmati suasana pagi hari yang belum ada polusi. Embun pagi sudah hilang dan di gantikan dengan cahaya matahari pagi.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka bertiga sampai di tempat tujuan. Panti asuhan yang tidak pernah berubah, Nara kembali ke rumahnya. Rasa rindu yang di rasakan nya kini sudah hilang.


Nara melepaskan helm dan menaruh di kaca spion motornya. Membenahi rambutnya yang sedikit berantakan, Kakinya melangkah tapi kemudian berhenti.


Keningnya berkerut saat dia melihat ada sebuah mobil berwarna hitam. Bisa di lihat jika mobil itu sangat mewah, dan juga harganya. Nara tidak tahu kalau hari ini ibunya sedang ada tamu.


Nessa dan Nevan yang sudah lebih dulu turun dari motor itu langsung berlari memasuki panti. Mereka tidak menyadari jika ada sebuah mobil di halaman. Kerinduan mereka dengan nenek yang sudah tiga bulan tidak bertemu akhirnya terbalas.

__ADS_1


Nara sampai khawatir saat melihat mereka berlari, kalau dia tahu lebih awal jika ibunya sedang ada tamu, mungkin Nara akan datang saat sudah jam-nya makan siang. Dengan langkah cepat Nara menyusul kedua anaknya, dia takut kalau akan mengganggu ibunya yang sedang mengobrol dengan tamunya.


Terlambat, Nara tidak mampu menyusul Nessa dan Nevan yang kini sudah membuka pintu.


"Nenek.... "


Dua anak itu berteriak, antara tidak sabar dan tidak sadar. Tidak sabar ingin memeluk neneknya dan tidak sadar jika sedang ada tamu. Mereka kembali berlari menuju tempat neneknya berada.


Ibu Mira yang terkejut atas kedatangan kedua anak Nara hanya membalas pelukan mereka, dirinya merasa tidak enak dengan tamu yang sedang duduk di hadapannya.


"Kalian kenapa nggak kasih tau Nenek kalau mau ke sini.. "


"Pengen kasih kejutan, Nek." Nessa kembali memeluk neneknya.


Nevan yang sedang berdiri dan mengamati sekeliling baru menyadari kalau ada orang lain. Dia menyenggol lengan Nessa.


Pelukan di lepas saat Nessa merasakan lengannya yang di senggol. Dia menatap kembarannya dengan tatapan tanda tanya. Kemudian Nessa mengikuti pandangan mata Nevan, mengarah pada dua orang pria yang sedang duduk di hadapan nenek mereka.


Mereka menunduk, tahu kalau mereka sudah tidak sopan. Ibu Mira yang melihat itu kemudian menyuruh Nessa dan Nevan meminta maaf pada tamunya.


Gavin, pria yang menjadi tamu Ibu Mira itu ikut terkejut, melihat dua anak kecil yang sepertinya pernah bertemu dengannya. Lalu dia menoleh ke arah belakang untuk memastikan dua anak itu datang bersama dengan siapa.


Kembali di kejutkan saat dia melihat seorang wanita yang sepertinya sedang mengatur napas. Tidak menyangka kalau dia akan kembali bertemu dengan Nara. Dia terpaku dan tidak bergerak, tatapannya masih menatap Nara yang juga baru terkejut saat melihatnya.


Detak jantung Nara berdebar menjadi lebih cepat saat tatapannya bertemu dengan mata hitam milik Gavin. Keduanya kembali terpaku dan saling menatap satu sama lain. Udara di sekeliling Nara tiba-tiba menjadi sedikit dan membuatnya sulit bernapas.


Jari-jarinya saling meremas, rasa gugup melanda, keringat hampir bercucuran. Terkejut dan tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Gavin. Nara pikir, kemarin adalah pertemuan yang tidak di sengaja dan mungkin tidak akan bertemu lagi.


Tapi, hari ini mereka kembali bertemu, seakan takdir membawa mereka untuk saling mengenal. Masih saling menatap, suasana menjadi hening di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2