
Tidak terasa seminggu sudah berlalu, semua sudah kembali normal, tidak ada lagi masalah yang muncul. Tapi tidak dengan Gavin, pria itu saat ini sedang merasa frustasi.
Bagaimana tidak? Selama seminggu ini Gavin mencoba menghubungi Nara tapi tidak bisa, selalu di rejeck, pesan tidak di balas bahkan di baca pun tidak.
Nara menghindari dirinya, ternyata wanita itu belum memaafkan Gavin. Sering kali ia datang ke butik Nara, tapi karyawannya yang bernama Indi selalu bilang kalau Nara sedang tidak ada.
Gavin pikir gadis itu berbohong, tapi saat dia sendiri yang mengecek ruang kerja Nara ternyata memang benar kalau Nara tidak ada.
Dia juga sering pergi ke sekolah Nessa, niatnya ingin menjemput. Tapi entah dia sedang tidak beruntung atau apa, Nessa ternyata sudah di jemput lebih awal, dia keduluan.
Pernah juga sekali Gavin datang ke rumah Nara, dan lagi dia belum beruntung. Nara dan anak-anak sedang tidak ada di rumah, entah kemana mereka bersembunyi seminggu ini, hal itu membuat Gavin kebingungan.
Tapi saat dia bertanya pada mamanya, “Lho? Tadi siang Mama dari makan siang bareng Nara sama anak-anak, katanya Nevan udah boleh sekolah, tapi nggak boleh kecapean.”
Tentu hal itu membuat Gavin bertambah bingung, Nara tidak kabur, mereka bahkan sering pergi bersama mamanya, tapi kenapa ia sama sekali tidak bisa menemui mereka?
“Serius, Ma?!”
“Mama serius, dua rius malahan. Tapi Nessa juga sering nanyain kamu, kangen katanya. Cuma Nara belum bolehin mereka ketemu kamu! Mama jadi penasaran, emangnya kalian lagi ada masalah apa sih? Keliatannya Nara marah sama kamu, dia jadi sensitif gitu kalau nama kamu di bahas,” ucap Helen dengan suara lirih.
“Emang Nara nggak bilang sama Mama?” Helen menggeleng, “emangnya ada masalah apa? Kok Mama sampai nggak tau?”
__ADS_1
Ternyata Nara bukan orang yang pengadu, pikir Gavin. “Mama inget nggak waktu aku berantem sama Jovanka?” Helen mengangguk, mendengarkan Gavin bicara dengan serius.
“Sebenernya kemarin Jovanka dari nampar Nara, terus temennya Nara malah nampar Jovanka balik. Jovanka pikir kalau Nara itu suka sama aku, akhirnya gitu. Salah aku juga sih, Ma,” jelas Gavin, Helen hanya mengangguk kepalanya paham.
“Emang bener salah kamu sih!! Udah ah, Mama pusing kalau mikirin masalah kalian, mendingan Mama pergi ke kamar istirahat!”Helen berdiri, dia pun pergi meninggalkan Gavin sendiri di ruang tamu.
.
.
.
Bulan berbentuk bulat penuh di tutupi awan hitam, suara jangkrik ada di mana-mana. Gavin memejamkan matanya, menghirup pelan udara malam hari.
Setelah pembicaraan dengan mamanya tadi, Gavin memutuskan untuk tidak menghubungi Nara dulu. Kalau di hubungi pun percuma, pasti tidak akan ada hasilnya.
Yang ada malahan Gavin akan terus berharap bahwa Nara pasti akan menjawab telponnya atau membalas pesannya. Memafkan dirinya tapi juga sepertinya akan terasa sulit bagi Nara.
Greb!!
Tiba-tiba tangan seseorang melingkar di perutnya, Gavin sudah bisa menebak siapa itu. Ia segera melepaskan tangan itu dengan kasar, merasa sudah di ganggu saat ini.
__ADS_1
“Gavin ... Maaf ... ” Jovanka kembali memeluk Gavin, tapi sayang, pria itu tidak menggubris nya, ia malah menghempaskan tangannya yang sedang memeluk tubuh Gavin.
“Maaf, aku nggak tau kalau selama ini papa udah jahat sama kamu, tapi sumpah Gavin, kalau aku emang beneran cinta sama kamu!” Jovanka masih terus berusaha untuk memeluk Gavin dari belakang.
“Tapi aku nggak cinta sama kamu!” ujar Gavin dengan nada yang penuh penekanan, sebenarnya ia sudah lelah, dalam beberapa minggu terakhir selalu saja ada masalah yang muncul.
“Kita bisa mulai dari awal, pasti pelan-pelan kamu bisa cinta sama aku!” ucap Jovanka yang sudah menyerah untuk memeluk Gavin, akhirnya ia pun berdiri di samping Gavin, menatap pria itu serius.
Ucapan Gavin seminggu yang lalu terus terngiang di kepalanya, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu tentang rencana keluarganya. Memang dia berhasil tapi waktu yang di butuhkan ternyata cukup lama.
Seminggu baginya sangat lama, walaupun memang hanya mengandalkan dua anak buah. Informasi yang di dapat memang tidak banyak, tapi Jovanka sudah tahu garis besarnya.
Bagi keluarganya, pernikahannya dengan Gavin hanya sebagian alasan. Dalam dunia bisnis, keluarganya masih berada di bawah Gavin, sehingga mereka ingin naik ke posisi paling atas.
Semenjak papa Gavin meninggal, Gavin lah yang menggantikan posisi papanya, tapi hal itu tidak membuat Gavin bisa terus bertahan. Pendukungnya baru sedikit yang percaya, dewan direksi kebanyakan mempercayai besan Helen, papanya Jovanka.
Sehingga saat ini pun posisi Gavin sebagai pemimpin perusahaan sedang terancam. Saham yang dia punya baru sedikit, belum bisa sepenuhnya mengusai warisan keluarganya.
“Cukup Anka!! Jujur, aku sudah lelah. Menjalani kehidupanku sama kamu seperti membawaku ke dalam nerakaku sendiri! Aku hanya ingin minta satu hal dari mu, kita berdua cerai saja!!!”
Bagai di sambar petir di malam hari, Jovanka merasa seperti sedang tertindih batu besar. Tubuhnya bergetar seketika, mendengar sebuah kalimat yang di ucapkan Gavin.
__ADS_1