Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Untuk Sementara


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa hari sudah mulai sore. Matahari hampir terbenam, menyisakan warna jingga di langit. Cuaca cerah, tampak cantik melihat sunset walaupun hanya lewat jendela.


Angin sore berhembus, Nara memejamkan kedua matanya. Menikmati momen ketenangan yang baru di rasakan setelah beberapa hari hatinya terasa gelisah. Sudut bibirnya sedikit tersenyum, kelegaan di hati membuatnya bisa menikmati angin sore dengan tambahan pemandangan cantik di langit.


"Bunda ... "


Suara serak khas bangun tidur menyambut, Nara menoleh, melihat ke arah ranjang pasien di tempat Gavin berada. Nessa terbangun dari tidur siangnya di dalam pelukan Gavin.


Setelah selesai makan siang tadi, Kiki mengantarkan Nessa kembali tepat pukul satu. Datang dengan perut yang kenyang membuat mata anaknya terasa ngantuk.


Bukannya tidur di sofa, Nessa malah ingin tidur bersama Gavin. Nara sudah melarang dengan berbagai alasan, tapi Nessa tetap keras kepala. Yang membuat Nara tak habis pikir adalah Gavin yang mengizinkan.


Bukan Nara tidak mau Nessa tidur dengan Gavin. Tapi kondisi Gavin saat ini sedang tidak baik. Baru saja selesai operasi, pasti tubuh bagian belakangnya terasa ngilu atau sakit.


Tetap saja, percuma ia bicara dengan ayah dan anak itu. Dengan rasa tidak enak, Nara membiarkan putrinya tidur di sebelah Gavin. Ranjang memang sempit tapi muat untuk berdua.


Setelah empat jam tidur, Nessa terbangun. Tapi anak itu membuat Gavin juga ikut terbangun. Merasakan pergerakan di sampingnya, Gavin langsung membuka mata.


"Nes, mandi dulu yuk. Udah mau maghrib, nanti tambah dingin. Kamu dari pagi lho belum mandi. Masa anak gadis badannya bau!" ucap Nara seraya berjalan mendekati Nessa.


Wajah gadis kecil itu terlihat sangat kusut, rambut berantakan dan tubuhnya pun sudah bau kecut. Nara tidak akan membiarkan Nessa tidur malam ini jika belum mau mandi. Ia takut kalau Nessa akan gatal-gatal karena tubuhnya yang lengket terkena keringat.


Dengan malas Nessa mengangguk, berjalan di belakang Nara menuju kamar mandi. Sebenarnya, ia bangun bukan karena ingin mandi, tapi perutnya sudah terasa lapar.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka berdua keluar. Nessa sudah kembali segar. Ternyata ada Tante Helen di sana, sedang mengobrol dengan Gavin.


"Wah ... cucu nenek udah mandi, sini peluk dong!!" merentangkan kedua tangannya, Tante Helen berjongkok agar Nessa bisa memeluknya.


"Nenek, kapan datengnya?" mereka berdua berpelukan, seperti sudah lama berpisah.


Tante Helen membawa Nessa untuk duduk di sofa, menceritakan banyak hal. Saling tertawa jika ada hal yang lucu. Dari kejauhan, Nara ikut tersenyum melihatnya.


"Ehem ... "


Nara tersentak, ia menoleh pada sumber suara. Di lihatnya Gavin yang berdehem. Segera ia mendekat.


"Ada apa? Butuh sesuatu?"


Obrolan lumayan panjang di lakukan oleh Nara dan Gavin sore itu, sampai malam hari. Keduanya berhenti karena mendengar suara ponsel milik Tante Helen.


Nara dan Gavin terdiam, melihat ke arah Tante Helen yang sedang mengangkat telepon.


"Halo?"


"Halo, Ma. Mama dimana? Kenapa Gavin belum pulang dari tadi? Mama juga kenapa ngilang sampai sekarang belum pulang!"


Astaga! Tante Helen menepuk jidat. Saking sibuknya hari ini ia sampai melupakan menantunya Jovanka. Ia bingung bagaimana cara memberi tahu Jovanka kalau saat ini Gavin sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Sekilas, matanya melirik ke arah Nara, wanita itu menggelengkan kepalanya, Tante Helen mengerti arti dari tatapan serta gelengan kepala Nara.


"Ah, iya. Mama lupa mau ngasih tau kamu, tadi siang Gavin bilang pengen keluar kota, ada kerjaan katanya. Dia belum bilang sama kamu?"


Berbohong dulu tak apa, kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk bicara jujur. Jika bilang kalau Gavin sedang di rumah sakit, tentu wanita itu akan marah-marah tidak jelas.


Apalagi jika Jovanka tahu kalau Gavin masuk rumah sakit karena menjadi pendonor untuk putranya, bisa dibayangkan akan semarah apa Jovanka. Untuk sementara Tante Helen mencari aman dulu.


"Apa?!! Kok aku nggak tau? Gavin pergi kenapa nggak pamitan sama aku malah pamitan sama Mama. Aku 'kan istrinya."


"Belum pamitan sama kamu? Ya ampun, Gavin keterlaluan. Tadi siang, sebelum makan siang Gavin juga pamitan sama Mama di telepon. Mendadak banget, ada urusan katanya. Mama pikir dia udah bilang sama kamu."


Di tempat Nara, wanita itu sedang tersenyum menahan tawa. Tante Helen ini jago juga berbohong. Bisa dengan cepat menemukan alasan yang masuk akal.


"Belum, Ma. Ya udah nanti aku telepon aja."


"Iya, mendingan kamu telepon aja. Sekarang udah malem, pasti anak itu udah sampai di hotel," hotel rumah sakit maksudnya.


"iya, Mama juga pergi kemana? biasanya sore udah ada di rumah."


"Mama juga lupa mau kasih tau kamu, Mama lagi di rumah temen, pengin pulang sebelum maghrib tapi ditahan suruh makan malam. Tunggu sebentar lagi, ya."


"Iya, cepetan pulang!" tanpa mengucapkan salam Jovanka langsung mematikan telepon. Mungkin saat ini wanita itu sedang kesal.

__ADS_1


"Punya mantu nggak ada sopan santunnya sama sekali."


__ADS_2