Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Jeruji Besi


__ADS_3

Perjalanan kembali membutuhkan waktu satu jam lebih, dalam mobil Gavin ikut tertidur bersama kedua anaknya. Rafli yang menyetir, dan Fahmi yang masih bermain ponsel di kursi depan samping supir.


Selama perjalanan, hanya ada kegelapan. Pedesaan cukup jauh apalagi untuk sampai ke perkotaan. Tidak ada yang menyangka kalau ternyata Jovanka punya nyali yang besar untuk datang sendirian ke sini.


Saat Rafli menghentikan mobilnya, Gavin langsung tersadar, "Kita sudah sampai, Tuan!"


Gavin memijit pangkal hidungnya, lalu menggelengkan kepalanya, mencoba untuk meningkatkan kesadarannya. Saat nyawanya sudah terkumpul, ia melihat ke sekeliling.


Ternyata Rafli membawa mereka ke rumah Nara, "Mi, tolong bantu aku untuk menggendong Nevan, dan aku akan menggendong Nessa," ucap Gavin pada Fahmi yang juga sedang mengumpulkan nyawa.


Setelah berkirim pesan pada ayahnya, Fahmi hanya diam menatap keluar jendela. Ternyata membuat dia ketiduran sampai tidak sadar kalau sudah sampai.


Dengan perlahan Fahmi mengangkat Nevan yang sedang berada dalam pelukan Gavin agar tidak membangunkannya. Begitu juga dengan Gavin, setelah Nevan di gendong Fahmi, dengan perlahan ia pun mengangkat Nessa dan membawa putrinya masuk ke dalam rumah.


Saat pintu terbuka, ada Kiki yang melihat mereka terkejut. Wajahnya tiba-tiba berubah senang, mengetahui kalau keponakannya sudah ditemukan.


“Naraaa.... ” teriak Kiki tanpa sadar, dan tidak tahu kalau Nessa dan Nevan sedang tertidur.


“Sshhhttt ... ” Fahmi menatap tajam Kiki, yang hanya membalas dengan cengiran dan garukan belakang kepala.


Teriakan Kiki rupanya sangat menganggu tidur nyenyak Nessa dan Nevan, mereka berdua menggeliat, masih dalam gendongan Gavin dan Fahmi.

__ADS_1


"Emh... Bunda ... " ucap keduanya secara bersamaan. Mata mereka terbuka, perlahan tapi pasti walau terasa berat karena masih mengantuk.


“NESSA ... NEVAN ... ” teriak Nara yang baru saja keluar dari kamarnya. Segera dia berlari, keluar dari kamar tadi karena mendengar suara teriakan Kiki. Nara pikir Kiki kenapa-napa, sampai teriak begitu, ternyata karena kedua anaknya sudah di temukan.


"Bunda... " Nessa dan Nevan meminta untuk di turunkan. Mereka tidak lagi mengantuk setelah melihat Nara.


ketiganya berpelukan dengan erat, seolah sudah terpisah sangat lama. Tangis Nara pecah saat itu juga. Perasaan rindu walaupun baru dua hari tidak bertemu kini terbalas.


Semua orang yang ada di sana mengerti dengan keadaan Nara yang sekarang, dan membiarkan Nara melepas rindu dengan kedua anaknya tanpa ada yang menganggu.


Selama semalaman ibu dan kedua anaknya tidur saling berpelukan. Nara sudah bisa tidur dengan nyenyak, ia juga harus menghadapi hari esok yang kemungkinan akan sangat panjang.


.


.


Kenyataan yang sangat sulit Nara terima adalah saat tahu kalau yang menculik kedua anaknya adalah Jovanka, istri dari ayah kedua anaknya.


Pagi harinya, Gavin datang dengan Fahmi. Mereka meminta Nara untuk ikut ke kantor polisi. Guna melihat siapa pelaku sebenarnya. Dengan langkah tegas dan tangan mengepal, Nara saat ini berhadapan dengan Jovanka yang sedang berada di balik jeruji besi.


Keduanya masih diam, tak ada yang memulai pembicaraan. Nara sebenarnya ingin menuntut penjelasan, namun masih ia tahan karena berharap bahwa Jovanka sendiri yang akan menjelaskan tanpa ia minta.

__ADS_1


Sedangkan Gavin dan Fahmi duduk di ruang tunggu.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Jovanka ketus, tangannya memegang jeruji besi sambil terkepal. Matanya menatap Nara benci, ia tak merasa bersalah sedikitpun.


"Aku nggak nyangka kalau ternyata kamu yang ngelakuin ini. Walaupun aku tau sifat kamu buruk, tapi dalam pikiranku kamu tidak akan melakukan hal sampai sejauh ini."


"Heh! Kamu pikir aku itu sepertimu? Penakut!! Tapi kamu senang 'kan dengan keadaan aku saat ini?"


“Aku nggak tau seneng apa nggak, tapi aku cuma mau bilang, kalau aku juga tau kenapa kamu ngelakuin hal ini. Jujur, aku ngerti perasaan kamu, tapi aku nggak ada niatan sama sekali buat ngerebut Gavin dari kamu”


"Walaupun aku tau sejak awal kalau Gavin adalah ayah dari kedua anakku, tapi aku sama sekali nggak ada niatan buat minta tanggung jawab. Aku sadar diri, Gavin juga sudah punya istri"


"Aku nggak akan merusak harga diriku dan reputasi yang memang sudah jelek ini bertambah karena menjadi seorang pelakor,"


"Keadaan yang maksa aku buat jujur sama Gavin tentang anak-anak. Nevan sakit dan butuh pendonor, kalau aku bisa, tentu aku nggak akan minta tolong sama Gavin. Aku udah berusaha buat jauh dari kehidupan kalian, tapi nyatanya takdir berkata lain, semua yang aku harapkan nggak di kabulin."


Nara menarik napas panjang, ia berusaha menahan perasaan yang sangat sulit untuk di jelaskan. Ada rasa sedih, tidak berdaya, marah, tapi juga merasa bersalah. Semua tak bisa di ungkapan hanya melalui kata-kata.


Pembicaraan mereka berlanjut dengan Nara yang malah menjadi curhat dengan Jovanka. Sedangkan Jovanka hanya diam mendengarkan, tapi sesekali membalas perkataan Nara dengan nada yang ketus.


Bagaimanapun juga, Jovanka selalu menganggap bahwa Nara adalah saingannya. Tak ada rasa bersalah sama sekali karena telah menculik kedua anak Nara. Yang ada ia semakin merasa kesal dengan Nara.

__ADS_1


__ADS_2