Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Benar-benar Hilang


__ADS_3

Setelah menelpon Nara dan memberi tahu kalau Nevan dan Nessa menghilang, Fahmi pun segera pergi ke tempat Nara. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sebelum itu, ia menelpon seseorang, “halo, Yah. Yah, Nevan dan Nessa hilang, aku takut ada yang menculik mereka.”


“APA?!! Bagaimana bisa?”


“Aku juga tidak tahu detailnya, tadi aku ingin menjemput mereka ke sekolah, tapi satpam bilang kalau anak-anak sudah pada pulang. Lalu Nessa dan Nevan pun sudah pulang naik mobil yang mirip seperti punyaku,” jawab Fahmi yang masih melajukan kendaraannya.


“Astaga!!! Kalau begitu kamu dan Nara coba mencari anak-anak, aku pun akan menyuruh beberapa anak buah untuk mencari mereka.”


Tanpa menjawab perkataan ayahnya, Fahmi langsung mematikan sambungan telepon. Dan beberapa menit kemudian ia sudah sampai di butik Nara.


Saat dia masuk, Nara sedang menangis di dalam pelukan Kiki. Sebelumnya, Nara menelpon Kiki dan menanyakan kedua anaknya, saat itu Nara masih berpikir positif.


Berharap bahwa kedua anaknya bersama Kiki, namun nihil. Kiki malah menjawab dengan bingung dan malah balik bertanya. Nara semakin panik dan bilang pada Kiki kalau kedua anaknya menghilang.


Lalu Kiki pun tanpa pikir panjang meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke butik Nara.


“Kak Fahmi ... ” Nara menatap Fahmi yang baru datang. Is berharap bahwa Fahmi tidak benar-benar membawa kabar buruk dan bilang bahwa anak-anaknya memang menghilang.


“Ra, Kakak juga bingung kenapa mereka bisa sampai hilang gini. Sekarang mendingan kita cari mereka,” ujar Fahmi lirih, ia memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap Nara yang sedang merasa khawatir setengah mati.


Nara semakin menangis, ia sungguh takut terjadi apa-apa dengan kedua anaknya.


“Iya, Ra. Kalau kamu nangis terus percuma, Nevan sama Nessa nggak bakal ketemu. Mendingan kita cari mereka,” Kiki mencoba membujuk Nara, dengan napas yang tersenggal dan sesegukan ia berdiri dengan bantuan Kiki.


Selama seharian ini mereka bertiga terus berkeliling kota Jakarta, mencari keberadaan kedua anak Nara. Sampai sore harinya belum juga di temukan. Nara semakin bingung, hampir semua tempat yang sering di kunjungi mereka mencarinya.

__ADS_1


Namun tetap tidak ada, sampai Nara ingat dengan seseorang. Gavin.


Sudah seminggu ini ia tidak melihat Gavin, tidak menelpon Gavin pesan dari Gavin pun enggan dia baca. Tapi kali ini Nara harus bertanya pada pria itu.


Saat melihat kontak WhatsApp Gavin, ternyata sudah ada lebih dari tiga puluh panggilan tak terjawab dan puluhan pesan yang belum ia baca. Persetan dengan itu, Nara malas membacanya satu persatu.


Panggilan pertama tidak di jawab, panggilan kedua cukup lama baru di jawab oleh Gavin. “Halo, Ra. Akhirnya kamu mau angkat telpon aku, ak--” belum selesai Gavin bicara Nara sudah memotongnya lebih dulu.


“Kamu di mana?” tanya Nara dengan suara yang sedikit serak, Gavin mengerutkan dahinya.


“Kamu nangis?”


“Aku tanya kamu DIMANA?!” ucap Nara sedikit berteriak. Gavin terkejut mendengarnya.


“Ah, aku baru saja sampai di kantor, aku dari puncak, ada proyek yang harus ku tinjau,” jawab Gavin, ia merasa sedikit bingung dengan suara Nara yang serak juga kedengeran marah.


Fahmi hanya mengangguk, ia juga baru kepikiran pada Gavin.


Sesampainya di perusahaan Gavin, Nara langsung masuk tanpa menunggu Kiki dan Fahmi. Ia sudah tahu dimana ruangan Gavin berada. Hari sudah sore, beberapa karyawan pun sudah pulang.


Nara tidak bertanya dengan resepsionis, ia langsung menaiki lift. Matanya sedikit sembab karena terlalu banyak menangis, tapi Nara tak peduli.


Di depan ruangan Gavin, masih ada sekretaris Gavin yang sedang bekerja. Nara pun bertanya pada gadis muda itu, “Gavin dimana?” tanya Nara tanpa basa-basi.


“Eh, Anda siapa yah?” Fifi berdiri dari duduknya, menatap Nara heran.


“Apa Gavin di dalam?” Nara tidak menghiraukan pertanyaan Fifi.

__ADS_1


“Iya, Pak Gavin di dalam beliau baru saja pul-- ” Nara benar-benar tidak mendengarkan Fifi, mengetahui Gavin memang ada di dalam ia langsung menerobos masuk.


Brakk!!!


Pintu Nara buka dengan kencang, membuat Gavin yang masih fokus pada pekerjaannya itu terkejut, “Gavinnn ... ” Nara langsung menghampiri Gavin yang memandangnya dengan heran.


“Kamu bawa kemana anak-anakku!!!” Nara mengguncang tubuh Gavin. Gavin semakin di buat bingung.


Ia bahkan belum bertemu dengan kedua anaknya seminggu ini, tapi kenapa Nara tiba-tiba datang dan menanyakan kedua anaknya?


“Jawab Gavin!! Kamu bawa kemana anak-anakku?!”


“Aku nggak tau apa maksudmu, aku bahkan belum ketemu sama anak-anak selama seminggu, sebenarnya ada apa?”


“Anak-anak hilang, kamu pasti tau mereka ada di mana, iya 'kan? Balikin anak-anakku, jangan ambil mereka,” ucap Nara yang sudah mulai kembali menangis, ia mencengkram kemeja Gavin dengan kuat.


“A-- apa?? Anak-anak hilang?” Gavin mematung, tanpa di sadari kalau kesadaran Nara mulai berkurang.


Masih mencengkram kemeja Gavin, Nara pun limbung. Gavin yang merasa Nara akan terjatuh itupun dengan cepat menahan tubuh Nara.


.


.


.


bersambung 🤧

__ADS_1


__ADS_2