
Pipi gembil berwarna merah milik bayi yang tengah tertidur pulas itu di tusuk-tusuk, sang kakak yang tak bisa diam itu terus mengganggu tidur tenang adiknya yang baru saja lahir ke dunia beberapa jam yang lalu.
Ibunda, menegurnya. “Nes, jangan diganggu, nanti nangis,” peringat Nara, tapi tidak dipedulikan oleh Nessa.
“Bunda, adiknya kecil banget,” Nessa mengalihkan topik.
“Namanya baru lahir,” decak Nevan.
“Dek, berarti kamu juga dulu sekecil ini?” tanya Nessa sambil menahan tawa, sementara Nevan memutar bola matanya.
“Emang kamu pikir kamu juga baru lahir udah segede ini?”
Bibir Nessa mengerucut, dia hentikan aktivitasnya kemudian pergi menghampiri Bina yang tengah bermain ponsel di sofa.
“Wahh ... aku juga mau, dong.” wajah Nessa berbinar, Bina yang ada di sampingnya terkejut.
“Mau apa?”
“Shoping.”
Sementara Nara memandang mereka yang ada di ruangan dengan sebuah senyuman manis. Gavin yang duduk di kursi brankar itu ikut tersenyum.
“Kenapa ikut senyum?” tanya Nara.
“Lihat kamu senyum, cantik. Jadi pengen senyum juga,” Gavin terkekeh sementara Nara tersenyum malu.
“Ih, mulai pintar gombal,” gemas Nara lalu mencubit pipi suaminya hingga membuat Gavin meringis.
“Emang kenyataannya gitu, kok.” Gavin mengusap pipinya.
Ruang perawatan VIP itu penuh dengan suara gelak tawa dari Nessa dan Bina, sementara Nevan sibuk dengan iPad-nya. Selain mereka ada Helen, ayah Nara dan Fahmi. Untuk keluarga panti asuhan, mereka akan datang setelah Nara pulang ke rumah.
Bayi laki-laki yang baru lahir tiga jam lalu itu membuat suasana semakin terasa hangat, suara tangisnya menambah keramaian. Kedatangan anggota baru ini disambut dengan bahagia oleh dua keluarga besar.
Apalagi untuk Nara, dia yang dulu tidak pernah berpikir akan memiliki keluarga seperti ini merasa seperti mendapatkan hadiah paling istimewa. Suami yang mencintainya, keluarga yang hangat. Anak-anak yang lucu. Baginya, ini sudah sempurna.
“Ra, habis ini kalian mau langsung ke rumah? Nggak mau menginap di rumah Mama?” tanya Helen, dia sedang duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur sang bayi. Menatap cucunya dengan haru.
"Nggak, Ma. Kami sudah buat rencana, untuk syukuran diadakan seminggu lagi di rumah kami. Kalau keadaan Nara sudah lebih baik dan bayi kami boleh dibawa keluar, kami baru menginap di rumah Mama," ujar Gavin.
Helen nampak kecewa, tapi segera dia ubah raut wajahnya. “Nah, kalau gitu biar Mama yang menginap di rumah kalian,” kata Helen di sambut anggukan kepala oleh Gavin.
“Kapan kira-kira Nara boleh pulang?” tanya Fahmi.
“Besok pagi sudah boleh, kalau sekarang tanggung karena sudah malam. Untungnya Nara lahiran normal jadi nggak perlu lama-lama di rumah sakit,” jawab Gavin.
Besok paginya, Gavin membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Tak banyak, satu koper kecil sudah cukup. Nara keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya.
Gavin menoleh dan terkejut, “Sayang, kenapa nggak bilang kalau sudah selesai? Biar aku bantu,” ucap pria itu.
Nara tersenyum. “Aku bisa sendiri, kok. Jangan khawatir.”
__ADS_1
“Tapi kamu masih sakit,” khawatir Gavin.
“Udah nggak seberapa sakit, Mas. Kenapa sih, khawatir banget?” Nara duduk di ranjang pasien.
Di ruangan ini hanya ada mereka berdua serta bayi kecil mereka. Kalau anak kembar Nara itu sedang kesekolah, mertua Nara sedang bersiap-siap di rumah Nara bersama dengan Bina dan Ghiska.
“Gimana nggak khawatir? Kamu dapat banyak jahitan, tapi masih santai jalan ke sana ke sini,” protes Gavin.
Sebenarnya tidak banyak, hanya beberapa jahitan. Itu karena bayi yang di kandung Nara memiliki berat sampai 3,9 kilogram. Nara yang dijahit tapi Gavin yang merasa ngeri, tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
“Aku udah dua kali hamil, lho. Jadi nggak kaget sama rasanya, walaupun anak ketiga ku ini lebih susah dari kakak-kakaknya tapi aku tetap senang.”
Gavin tak bisa mengelak hal itu, dari awal masuk rumah sakit saat sudah mencapai pembukaan lima sampai melahirkan, Nara terus tersenyum di antara wajahnya yang pucat dan ringisan terus keluar dari mulut Nara.
Gavin melanjutkan memasukkan barang-barang yang tersisa, setelah selesai dia menutup koper dan menarik resleting. Tepat pukul sembilan pagi, Nara, Gavin dan anak mereka pulang ke rumah. Helen menyambut dengan gembira. Helen menggendong cucunya sementara Gavin menuntun istrinya.
“Bunda pulang ... ” seru Nessa, berlari menghampiri kedua orang tuanya.
“Ssttt, jangan berisik, Ness ... ” tegas Nara.
Nessa segera menutup mulutnya, seolah sedang mengunci lalu membuang kuncinya ke sembarang arah.
Gavin membawa Nara ke kamar mereka yang kini penuh dengan peralatan bayi. Helen sudah menaruh cucunya ke dalam box bayi, sementara Nara duduk diranjang dengan bersandar ke sandaran ranjang.
“Gantengnya cucu Nenek,” Helen menatap bayi Nara dengan tatapan binar.
“Ayahnya juga ganteng, makanya anaknya ikut ganteng,” timpal Gavin dengan PDnya.
Gavin mengangguk saja. Nara terkekeh kemudian dia menarik kemeja sang suami agar suaminya menoleh.
“Kenapa, Sayang?”
“Mas, aku lapar,” ucap Nara.
Gavin baru sadar dia belum memberi makan istrinya. Tadi pagi Nara hanya makan bubur dari rumah sakit dan hanya dimakan sedikit. Katanya tidak enak.
“Ah, iya. Mas lupa, Yang. Maaf,” ucap Gavin.
“Ck ck ck,” celetuk Bina, dia menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri mereka.
“Istri belum makan kok bisa nggak tahu sih,” ledek Bina.
“Lupa,” Gavin tak terima dikatai tidak perhatian pada istri.
“Ya udah, sana kasih makan istrimu. Mama sudah masak, tinggal kamu bawa ke sini,” perintah Helen.
Gavin mengangguk dan segera pergi ke dapur. Untungnya Helen sudah menyajikan makanan di nampan sehingga Gavin bisa langsung membawanya ke lantai atas. Setibanya di sana bukan hanya ada Helen dan Bina, tapi juga kedua anaknya. Mereka tengah menatap sang adik yang sedang tertidur pulas.
Gavin menghampiri Nara, kemudian menaruh nampan di atas nakas. Dia ambil piring yang sudah di isi nasi beserta lauknya kemudian menyuapi Nara.
“Kok nggak pedas, Mas?” tanya Nara dengan dahi berkerut.
__ADS_1
“Sengaja Mama masak nggak pedas, kasihan anak kamu kalau kamu makan yang pedas-pedas,” ujar Helen.
Nara mengangguk, dulu saat habis melahirkan anak kembarnya juga bu Mira begitu. Meski hanya rasa asin, Nara tetap menghabiskan. Itu lebih baik dari pada makanan di rumah sakit yang di dominasi rasa hambar.
Gavin mengelap bibir Nara menggunakan tisu saat makanan sudah habis. Gavin terus tersenyum dan menatap Nara, hal itu membuat Nara sedikit salah tingkah.
“Kenapa liatin aku begitu?”
“Lagi bersyukur,” ucap Gavin.
Nara mengernyit tak paham, Gavin berdehem. “Dapat istri kayak kamu, rasanya harus bersyukur tiap detik. terima kasih untuk semuanya, ya.” Tatapan Gavin sangat dalam, Nara hanya bisa mengangguk dengan semburat merah di pipi.
Mereka merasa harus mengucapkan syukur berkali-kali. Bukan hanya Gavin, tapi Nara juga. Setelah bertatapan cukup lama, Gavin baru menoleh saat mendapat pertanyaan dari Helen.
“Oh iya, mau kalian kasih nama apa cucu ganteng ini?”
“Aku belum kepikiran, Ma,” ucap Nara.
“Sudah aku pikirkan,” timpal Gavin.
“Kok aku nggak tahu?” protes Nara.
“Kamu nggak nanya, ya aku cari sendiri,” Gavin menggaruk belakang kepalanya.
“Siapa namanya, Yah?” tanya Nessa tak sabar.
“Akhtar Nabil Attarayhan.”
Selamat datang baby Akhtar.
.
.
.
TAMAT.
akhirnya karya ini tamat setelah sekian bulan🤭 semuanya makasih yang masih mau membaca karya pertamaku ini. Meski alurnya berantakan, banyak plot hole, aku rasanya senang banget bisa tamatin satu karya.
oh ya, mau minta maaf nih karena kemarin hiatus lama tapi gk ngomong 🙏🤧, aku udh stuck juga sama novel ini jadi aku milih tamatin cepet. aku bener-bener mau bilang makasih sama kalian yang selama ini tetap setia sama novel ini.
untuk waktu update, alur cerita dan semua kekurangan di novel ini. aku harap kedepannya bisa buat karya yg lebih baik lagi.
Salam halu, sekali lagi terima kasih🙏☺
❤❤
aku punya satu cerita lagi, udh banyak bab dan akan update setiap hari. semoga temen-temen mau mampir dan kasih jejak di sana😘
__ADS_1