
Malam semakin larut, kini waktunya mengistirahatkan tubuh. Nara sudah duduk manis di atas kasur sementara Gavin sedang di kamar mandi. Baru ingin merebahkan tubuh tiba-tiba ponselnya berdering.
Ada nama Joshua di sana, cepat Nara mengangkat karena penasaran. Menelepon malam-malam begini ada urusan apa?
“Halo, Mas?”
“Malam, Ra. Maaf mengganggu, saya cuma mau mengabari soal rumah yang akan kamu jual.”
“Apa sudah ada yang menawar?”
“Emh, sebenarnya sudah. Tapi, sebenarnya aku mau minta nomor ponsel Gavin. Aku takut suamimu cemburu kalau aku menelepon kamu malam-malam begini.”
Nara termenung sebentar. “Kenapa harus cemburu? Kita kan cuma menelepon karena ada urusan.” Nara menghela napas, “Yah, walaupun aku berharap dia juga cemburu,” lirih Nara kemudian tersenyum miris.
“Eh, apa?”
“Nggak, nggak apa-apa, Mas. Gimana? Sudah ada yang mau menawar?”
Obrolan terus berlanjut sampai hampir lima belas menit lamanya. Setelah panggilan terputus, Nara hendak merebahkan tubuhnya, ia berbalik dan terkejut melihat ada Gavin tepat di depannya.
"Eh, Mas? Sejak kapan di sini?”
“Sejak kamu menerima telepon dari Joshua,” ucap Gavin, wajah pria itu terlihat suram.
__ADS_1
“Kenapa aku tidak tahu?” Nara jadi gugup, takut Gavin mendengar ucapannya yang sedikit lirih tadi.
“Kamu terlalu fokus dengan ponsel sampai aku datang kamu nggak sadar,” Gavin berjalan memutar dan menaiki ranjang, pria itu telah berganti pakaian dengan pakaian tidur.
Gavin mendekati Nara, menatap dalam netra berwarna coklat terang itu. Tatapannya tak dapat di artikan oleh Nara. Ekspresi wajah Gavin terkesan datar.
“Kamu ingin aku cemburu?” tanya Gavin tiba-tiba.
“Eh?” Nara jadi salah tingkah, ia berdehem sambil memalingkan wajah. Tatapannya berkeliling tak ingin menatap Gavin.
“Ng— nggak, kok. Ih, Mas Gavin pede banget,” kilah Nara.
Gavin tersenyum, tanpa kata lagi dia memeluk Nara erat. Membuat wanita itu tersentak, debaran jantung berpacu dengan cepat, bisa di rasakan oleh keduanya. Sama-sama kencang layaknya orang baru lari mengelilingi satu stadion.
"Kalau aku bilang aku cemburu gimana?” tanya Gavin.
"Aku 'kan tanya!"
"Aku nggak tahu kalau Mas Gavin bakal cemburu. Aku pikir Mas nggak cinta sama aku jadi nggak akan cemburu. Aku mikirnya Mas Gavin belum move on dari Jovanka. Tapi, sekarang Mas Gavin cinta sama aku ya makanya cemburu?"
Nara terlihat senang, belum membalas pelukan Gavin. Pria itu memeluk dengan erat, mencium aroma shampoo Nara yang beberapa hari ini menjadi candunya.
"Kamu tahu? Aku tak pernah mencintai Jovanka, sebisa mungkin mencoba mencintainya tapi sulit, rasa bersalah padamu begitu besar sampai aku bingung ingin memulai hubungan dengan Jovanka bagaimana," ungkap Gavin.
__ADS_1
Senyum di wajah Nara hilang. "Jadi, Mas cuma merasa bersalah saja sama aku?" jika benar, Nara tak bisa apa-apa, tapi kenapa hatinya terasa sakit? Sesak membuat sulit bernapas.
“Itu dulu, jangan salah paham. Hubungan aku dan Jovanka tidak normal, tapi setelah bertemu kamu, aku jadi tahu rasa bersalah ini semakin lama menjadi cinta. Aku tak mengakuinya karena gengsi.”
Gavin semakin memeluk Nara erat, "Entah sejak kapan, namamu selalu ada dalam pikiranku, wajahnya selalu muncul dalam mimpi. Meski baru mengenal tapi seperti ada ikatan yang membuat aku terus terhubung dengan kamu."
"Apa ini pengakuan cinta?" Nara sedikit bingung, tersentuh sekaligus geli mendengar Gavin berkata begitu.
"Kamu bisa menganggapnya begitu, memang nggak romantis tapi perasaan ini dari lubuk hati yang terdalam. Aku mengaku, aku sudah jatuh cinta sama kamu, Nara."
Gavin melepas pelukan, tatapannya tak terlihat ada kebohongan. Nara diam membisu, pernyataan ini tiba-tiba. Harapan Gavin akan cemburu terkabul, pria itu ternyata mencintainya tapi ia sama sekali tak menyadari. Gavin tak menunjukkan perhatian apapun padanya.
“Jadi, kamu juga mencintaiku apa nggak?” tanya Gavin penuh harap.
“Ah, aku sendiri nggak tahu. Belum pernah jatuh cinta selama ini. Cuma kalau lagi dekat Mas Gavin aku selalu berdebar, gugup dan malu.” Nara menunduk, tak menatap Gavin lagi.
Sementara pria itu nampak sangat senang. "Berarti cintaku nggak bertepuk sebelah tangan," ujarnya.
"Ah, apa benar aku cinta sama Mas Gavin?" tanya Nara sedikit ragu. Tak tahu apapun mengenai perasaan. Yang ia tahu hanya hatinya akan terasa sakit jika mengingat masa lalu yang suram.
"Tentu. Aku senang sekali, cinta terbalas membuat hati ini lega. I love you ... " Gavin mendaratkan sebuah kecupan singkat di dahi.
"Berarti hubungan kita suami istri normal?
__ADS_1
"Siapa yang bilang tidak normal?"
"Tidak ada, lagipula kita belum pernah melakukan ehem ehem, jadinya belum normal kan?"