
"Bunda?!!!"
Teriakan Nessa membuat Nara terkejut, belum memasuki rumah tapi suara Nessa yang keras terdengar sampai luar rumah. Sangat jarang Nessa berteriak pagi-pagi begini, walaupun suara Nessa memang cempreng tapi Nara tahu bagaimana watak anak itu.
"Bunda?!!" Nessa kembali berteriak. Sepertinya sejak tadi anak itu terus mencari Nara. Dengan segera Nara berjalan ke arah pintu.
Nara membuka pintu, dia melihat Nessa yang sedang bolak-balik mencari dirinya, sampai tidak di sadari oleh Nessa kalau Nara sudah masuk ke dalam rumah.
Nessa masih terus memanggil nama Nara, sampai membuat Nara terheran-heran.
"Ada apa, Nes? Kenapa teriak-teriak?"
Nara muncul tepat di belakang Nessa, gadis kecil itu seketika berbalik saat mendengar suara sang bunda.
Nara melihat kalau keringat muncul di dahi Nessa, napasnya ngos-ngosan, seperti habis mengikuti lomba lari. Keningnya berkerut melihat Nessa yang sedang mengatur napas.
Ada apa dengan putrinya ini?
"Bun... Bun... Itu, Nevan, Bun." Masih belum bisa mengendalikan napasnya, Nessa berbicara sambil terbata.
"Nevan? Nevan kenapa?" langsung menyebut nama Nevan saat melihat dirinya. Kekhawatiran muncul tiba-tiba, takut terjadi sesuatu dengan Nevan.
"Itu, Bun. Badannya Nevan panas banget, terus ada darah juga yang keluar dari hidungnya. Bun, bantuin Nevan. Kasihan dia... " Rengek Nessa.
Setelah beberapa kali menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, Nessa sudah bisa bicara dengan normal, tidak lagi terbata.
"Apa?!!!"
Terkejut, itu yang pertama kali Nara rasakan. Perkataan tiba-tiba dari putrinya membuat tubuhnya melemah. Sayuran yang dia beli terjatuh dari pegangannya, air mata jatuh tanpa aba-aba.
Saat itu juga, Nara berlari menuju kamar anak-anak, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Nevan yang sedang duduk bersandar pada headboard sembari mengelap hidungnya dengan tisu.
Nara mendekati Nevan, sampai matanya tak sengaja melihat ke arah tempat sampah yang sudah berada di samping ranjang. Di dalamnya ada banyak tisu yang sudah berwarna merah, tubuh Nara bergetar. Dia tahu kalau itu darah.
__ADS_1
Melihat Nevan lagi, dia mengangkat tangan kanannya menyentuh dahi Nevan. Benar kata Nessa, saat ini Nevan sedang mengalami demam. Tapi kenapa tiba-tiba?
Tadi malam Nevan masih baik-baik saja, suhu tubuhnya masih normal. Tapi kenapa pagi ini Nevan mengalami demam tinggi.
Belum ada kata yang terucap dari bibirnya, dia masih melihat Nevan yang sedang mencoba membuat darah berhenti mengalir dari hidungnya menggunakan tisu. Air matanya sudah menetes sejak tadi, Nara mengelapnya dengan tangan.
"Nevan... Kenapa bisa gini?" tanya Nara sembari membawa Nevan ke dalam pelukannya, dan menggendongnya.
Nara membawa Nevan menuju kamar mandi, membantu Nevan membersihkan darah yang masih terus keluar. Pertama kali Nevan mengalami seperti ini, tubuhnya yang selalu sehat kini menjadi lemas secara tiba-tiba.
"Nggak tau, Bun. Tadi waktu bangun kepala Nevan sakit, tiba-tiba keluar darah dari sini." Menunjuk hidungnya yang sedang di bersihkan, darah mulai berhenti keluar.
Tidak lagi menanggapi jawaban Nevan, Nara mengelap wajah Nevan dengan handuk. Dia kembali menggendong putranya, merebahkan Nevan di atas ranjang.
"Kalau masih keluar, Nevan lap pakai tisu, Bunda pergi ke belakang dulu, mau ngambil obat."
Nevan mengangguk, lalu Nara berdiri dan keluar dari kamar. Dia pergi ke dapur untuk mengambil air kompres, satu potong roti untuk sarapan dan paracetamol. Membawa dengan satu nampan yang berukuran sedang.
"Bunda, Nevan kenapa?" tanya gadis kecil yang tiba-tiba muncul di belakang Nara, membuat Nara terperanjat kaget. Mengusap dada sebelum mengambil nampan.
"Sakit? Berarti kalau Nevan sakit dia nggak sekolah? Terus kalau Nevan nggak sekolah aku juga nggak ikut sekolah, iya 'kan, Bun?"
Astaga, Nara geleng-geleng di buatnya. Bukannya membantu atau mendoakan saudara agar cepat sembuh, Nessa malah senang karena tidak akan sekolah.
Nara tidak menjawab pertanyaan Nessa, saat ini dirinya sedang di landa kekhawatiran karena Nevan demam. Nara mengompres Nevan, menjaga anak itu yang saat ini sedang memakan roti sesuai perintah Nara.
Belum menghabiskan satu potong tapi darah kembali keluar dari hidungnya. Dengan cepat Nara mengambil tisu dan mengelap darah yang hampir terjatuh, Nara semakin khawatir.
Tadi darah sudah berhenti tapi sekarang keluar lagi, air mata Nara kembali menetes, dia tidak ingin menangis tapi sayangnya air mata tidak bisa di ajak kompromi.
Ting! Tong!
Belum rumah Nara berbunyi, Nara sudah menebak kalau yang datang adalah Fahmi. Dia mengusap air matanya, salah satu tangannya masih menahan darah yang terus keluar dari hidung Nevan.
__ADS_1
"Nes, tolong bukain pintu. Itu pasti om Fahmi yang dateng. Nanti kamu suruh masuk ke sini aja, ya." Suruh Nara pada Nessa yang saat ini sedang mengeringkan rambut sehabis mandi.
Dia bosan menunggu Nara yang terus sibuk dengan Nevan, akhirnya memutuskan untuk mandi dan setelah itu sarapan pagi. Dia memang senang karena tidak akan sekolah tapi juga sedih karena adiknya tiba-tiba jatuh sakit. Nessa menuruti perkataan Nara yang menyuruhnya untuk diam dan jangan ribut.
"Iya Bunda... " gadis kecil itu menaruh handuk di tempat biasa, berjalan keluar untuk membuka pintu.
"Kepala kamu masih sakit?" tanya Nara pada Nevan, anak itu mengangguk lemah.
Tanda kalau memang kepalanya masih terasa sakit, Nara terus merasa khawatir, darah dari hidungnya kini mulai berhenti. Sudah banyak tisu yang di buang di tempat sampah.
"Nevan kenapa?" tanya Fahmi yang baru saja masuk kamar, terkejut saat Nessa mengatakan kalau Nevan sedang sakit.
"Aku juga nggak tau, tiba-tiba Nevan mimisan sama demam. Padahal tadi malem dia masih sehat." Mengucap dengan air mata yang kembali menetes, Nara merasa kalau dirinya saat ini sangat cengeng.
"Ya udah, gimana kalau kita bawa Nevan ke rumah sakit aja. Demamnya juga tinggi, biar nanti langsung di periksa dokter. Aku takut Nevan kenapa-napa."
Ikut merasa khawatir, Fahmi memberi saran yang masuk akal. Fahmi tidak menyangka kalau Nevan akan jatuh sakit, selama ini Nevan sama sekali belum pernah mengalami hal seperti ini.
Dia tahu karena dia juga melihat pertumbuhan Nevan. Dia yang menemani Nevan dan Nessa semenjak masih bayi. Rasa sayangnya sudah melebihi kasih sayang seorang ayah.
Nara mengangguk, kemudian dia bangkit dan membereskan apa yang ingin di bawa ke rumah sakit, sedangkan Nevan sudah di gendong oleh Fahmi.
Mereka menggunakan mobil Fahmi untuk menuju ke rumah sakit, jalanan ibukota yang macet kini mereka alami. Nara duduk di kursi belakang bersama Nevan, Nessa duduk di kursi depan di samping Fahmi.
Darah masih keluar dari hidung Nevan, beruntung Nara membawa tisu dari rumah. Perjalanannya untuk menuju rumah sakit lumayan lama, dan lagi saat ini mereka sedang terkena macet.
Nara harus bersabar, dia menyenderkan kepala Nevan di dadanya. Anak itu tetap diam walaupun sedang merasa kesakitan. Nara semakin khawatir, apalagi suhu tubuh Nevan semakin panas.
Dadanya berdebar kencang, bukan karena jatuh cinta tapi karena merasa khawatir. Sekali putranya sakit kenapa sangat parah? Pertanyaan yang muncul di benak Nara.
.
.
__ADS_1
.
bersambungš¢