Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Makan Siang


__ADS_3

Nara kembali ke ruang kerjanya, langkah kaki membawanya menuju sofa dekat jendela. Mendudukkan dirinya di sana. matanya menatap ke luar jendela. Angin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Nara.


Dia memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang halus. Cuaca hari ini bagus, tapi jalanan ibukota tetap tidak berubah dan selalu di penuhi oleh kendaraan. Banyak polusi di sini.


Merasa cukup tenang, Nara beranjak dan berpindah tempat. Dia kembali pada aktivitas yang menjadi kesehariannya. Duduk di kursi dengan meja yang di penuhi buku selalu menemani. Nara mengambil sebuah buku dan pensil.


Untuk dua minggu ke depan, mungkin Nara akan lembur. Tangan kanannya memegang pensil dan sudah siap untuk mendesain. Tapi, entah kenapa tiba-tiba Nara tidak fokus. Seketika otaknya berhenti bekerja. Nara menjadi bingung, pakaian seperti apa yang ingin dia gambar?


Nara kembali berpikir, berusaha untuk fokus. Tapi tetap tidak bisa, pikirannya sudah bercabang kemana-mana. Berkali-kali Nara mencoret-coret buku dan merobeknya lalu membuangnya. Hingga tempat sampah di samping meja kerjanya penuh dengan kertas sobekan.


Sampai Nara tidak sadar jika sudah hampir waktunya makan siang. Nara masih berusaha untuk fokus. Ketika suara pintu ruangan Nara di ketuk, Nara baru tersadar dan menghela napas pelan.


Pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis mungil dari balik pintu. Nara yang awalnya sedang menyenderkan kepalanya di atas meja seketika duduk dengan benar. Moodnya yang sudah berantakan kini kembali baik.


"Siang Bunda... "


"Siang Sayang... "


Nara merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut putrinya kedalam pelukannya. Setelah berpelukan, dua orang laki-laki ikut memasuki ruang kerja Nara. Fahmi dan Nevan datang bersamaan, kemudian melangkah menuju sofa panjang untuk duduk.


"Masih kerja, Ra?"


Nara berjalan menuju tempat Fahmi duduk diikuti oleh Nessa. Memang seharusnya sudah istirahat tapi Nara masih memaksakan otaknya untuk bekerja. Tapi sepertinya tidak ada gunanya, sebab sejak tadi Nara sangat tidak fokus.


Pikirannya terus bercabang kemana-mana, dan juga memikirkan pertemuannya dengan pria itu. Menjadikan otak Nara tidak bisa menyerap ide sama sekali.


"Iya, Kak. Tadi ada sedikit masalah jadi aku agak sibuk. Tapi aku nggak bisa fokus, dari tadi bingung mau buat apa"


Nara memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing, pusing memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa fokus bekerja tanpa memikirkan yang lain. Kali ini, wajah pria itu sangat mengganggu Nara.


"Kalau gitu, mendingan kita makan dulu. Biar nanti otak kamu bisa encer lagi."


Nara mengangkat wajahnya, menatap Fahmi. Kemudian matanya melirik ke arah jam dinding. Ternyata memang sudah waktunya makan siang. Pantas saja sejak tadi perutnya sudah berbunyi.

__ADS_1


"Ya udah, kita makan dulu. Kakak yang cari tempat, ya." Fahmi mengangguk.


Mereka berempat berjalan beriringan keluar dari butik Nara. Jika di lihat lagi, mereka seperti satu keluarga yang bahagia. Tapi kenyataan tidak seperti itu, kedekatan mereka memang sudah seperti keluarga sungguhan, tapi sebenarnya bukan.


Mereka menaiki mobil, Fahmi yang menyetir. Di perjalanan, Nessa dengan antusias bercerita tentang sekolahnya, dengan Nara sebagai pendengar yang baik. Sesekali dia akan menjawab pertanyaan Nessa.


Sedangkan Nevan, sejak tadi dia diam saja dan tak bersuara. Sikapnya yang pendiam membuat Nara sedikit sulit mengajak Nevan bicara. Rasanya ingin sekali dia membuat Nevan menjadi cerewet seperti Nessa tapi Nara sendiri tidak tahu bagaimana caranya.


"Nevan.. " panggil Nara.


Nevan menoleh, "kenapa, Bunda?"


"Kamu nggak ada yang mau di ceritain sama Bunda?"


"Nggak ada," jawab Nevan singkat, dia kembali menatap ke luar jendela.


Nara menghela napas, tidak tahu bagaimana caranya dia agar bisa membuat Nevan menjadi seperti Nessa.


Baru kali ini Nara mendengarnya, anak kecil jaman sekarang pikirannya sudah tercemar seperti itu. Nara jadi tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


Nevan menatap tajam Nessa, "kamu anak kecil tau apa, sih?!!"


"Kamu juga anak kecil, aku lebih tua dari kamu! Jadi kamu yang anak kecil.. "


Nessa memalingkan wajahnya, merasa kesal karena di sebut anak kecil. Padahal dia adalah kakak dan Nevan adik. Tapi sikap Nevan malahan seperti menganggap dirinya yang seorang adik.


Suasana kembali hening, setelah 20 menit perjalanan, mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran. Restoran yang sangat bersih dan jauh dari polusi, banyak pepohonan di sekelilingnya. Dengan kayu berwarna coklat sebagai dindingnya.


Mereka memasuki restoran yang sedikit ramai itu. Mencari meja yang cocok dengan suasana yang ada. Sampai tiba di meja pojok dekat jendela yang mengarah ke sebuah taman. Empat kursi tersedia di sana. Pilihan yang tepat menurut Fahmi.


Mereka berempat duduk di tempat masing-masing, pelayan datang dengan membawa menu. Mereka memilih makanan yang mereka sukai dengan porsi yang cukup untuk mengisi perut.


Saat sedang menunggu makanan, Nessa, Nevan, dan Fahmi bercerita sesekali mereka tertawa. Sementara Nara, dia diam saja dan tidak ikut dalam pembicaraan ketiga orang itu. Matanya sibuk menatap sekeliling.

__ADS_1


Nara belum pernah ke restoran ini, tapi dia merasa tenang dan jauh dari kebisingan. Padahal masih berada di ibukota tapi suasana nya sangat berbeda. Sebuah taman yang indah dengan air mancur yang ada di tengah itu bisa Nara lihat melalui jendela yang ada di sampingnya.


Saat menatap sekeliling, Nara tidak sengaja menangkap sosok laki-laki yang tadi telah membuatnya kehilangan fokus. Ya, Nara melihat ada Gavin di tempat yang tidak begitu jauh darinya.


Tapi dia tidak sendiri, Gavin di restoran ini bersama dengan istrinya. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Nara menatap itu dalam diam. Mengapa takdir membuatnya kembali bertemu dengan Gavin?


Gavin yang baru saja selesai memesan makanan itu kembali pada tempatnya. Dia duduk dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tapi, dia menyadari kalau ada orang yang sedang menatapnya. Matanya berkeliling mencari sosok yang membuatnya merasa di perhatikan.


Saat kedua matanya berhenti pada satu tempat, di pojok ruangan yang hanya berjarak tiga meja darinya itu, ada Nara yang sedang menatapnya. Tatapan yang Gavin lihat tadi pagi. Soroti mata yang terlihat dengan kesedihannya.


Saat tatapan mata mereka bertemu, entah kenapa mereka sepertinya sangat menikmati momen saling tatap itu. Keduanya larut dalam keheningan masing-masing. Sampai saat Gavin menyadari sesuatu.


Tatapannya beralih pada seorang yang sedang bersama dengan Nara. Dua anak kecil dan seorang pria dewasa. Ah, mungkin itu suaminya, pikir Gavin.


Tapi kenapa sejak tadi Nara terus menatapnya? tidakkah dia takut jika suaminya cemburu? Gavin kembali menatap Nara, masih sama, Nara masih menatapnya, entah kenapa tapi lagi-lagi Gavin merasa tidak asing dengan kehadiran Nara.


Lama mereka saling bertatapan, sampai suara seorang pelayan membuat Gavin dan Nara memutuskan tatapan mereka dan segera memalingkan wajah.


Hidangan yang di pesan Nara dan tiga orang terdekatnya datang. Nara sudah kembali fokus pada kedua anaknya dan tidak lagi melihat ke arah Gavin. Tapi, sesekali Gavin masih mencuri pandang ke arah Nara.


Tidak seperti tadi, Nara di sana terlihat bahagia dengan senyumannya. Senyuman manis yang tidak pernah Gavin dapatkan dari semua orang kecuali ibunya.


"Bunda, aku mau nyobain makanan Bunda. Boleh, nggak?" tanya Nessa dengan wajah penuh harap. Matanya menatap Nara memohon.


Melihat makanan yang di pesan Nara, Nessa pun menginginkannya. Terlihat lezat, walaupun di depannya sudah ada hidangan yang dia inginkan tadi.


"Boleh, mau yang mana?"


Nessa menunjuk makanan yang dia inginkan. Nara tidak keberatan jika berbagi dengan putrinya. Dia mengambilkan apa yang di inginkan oleh Nessa. Melihat wajah Nessa yang begitu senang saja sudah membuat Nara ikut merasa senang.


Kebahagiaan putrinya adalah kebahagiaan nya juga. Jika kedua anaknya senang maka Nara ikut senang. Jika kedua anaknya sedang bersedih maka Nara juga bisa merasakannya.


Mungkin, memiliki Nessa dan Nevan di hidup Nara itu saja sudah cukup. Jika bisa dia tidak ingin menambah keluarga baru di antara mereka bertiga. Tapi Nara masih tidak tahu takdir akan membawanya ke mana.

__ADS_1


__ADS_2