Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Penculikan


__ADS_3

“NGGAK!!!” tolak Jovanka masih dengan wajah terkejutnya.


Kata cerai tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Pernikahan mereka memang tidak baik-baik saja, tapi Jovanka tidak pernah berpikir untuk bercerai.


Semenjak Gavin bertemu dengan Nara, sikap Gavin berubah, ya, pasti ini karena Nara. Nara ingin mengambil Gavin darinya.


“Pasti Nara yang suruh kamu buat cerain aku 'KAN?!!” tanya Jovanka menatap marah Gavin.


“Kenapa kamu selalu nyalahin Nara?! Ini keinginan aku!! Aku udah capek sama kamu!!” Gavin memang merasa ini bukan salah Nara.


Malahan Gavin merasa kalau dirinya lah yang bersalah.


“Ini semua karena Nara!! Kalau dia nggak dateng di hidup kita, mungkin kita nggak bakal berantem terus kayak gini!! POKOKNYA AKU NGGAK MAU CERAI!!”


Jovanka lalu pergi meninggalkan Gavin, saat ini dia sedang merasa sangat marah. Tiba-tiba saja Gavin minta cerai, mana mungkin dia mau.


Jovanka pergi ke kolam renang di rumah bagian belakang. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Nara harus di beri pelajaran, Jovanka sudah tidak tahan lagi.


“Halo!” ucap Jovanka saat telpon sudah tersambung.


“Saya ingin kamu menculik seseorang, saya akan kirim alamat tempat kerjanya, sekolah juga rumahnya.”

__ADS_1


“Pokoknya saya tidak mau tau, besok rencana harus sudah di lakukan. DP akan saya transfer malam ini juga!!” setelah itu Jovanka langsung menutup telponnya.


Ia menghela napas kasar, merasa hidupnya sedang kacau saat ini. Jika bukan karena kehadiran Nara pasti dia dan Gavin akan baik-baik saja. Dan kenapa harus Nara yang melahirkan anak Gavin?


.


.


.


Keesokan harinya, sama seperti hari biasanya, Fahmi akan datang ke sekolah untuk menjemput keponakannya. Apalagi hari ini adalah hari pertama Nevan pergi ke sekolah setelah sembuh dari sakit.


Biasanya pukul sebelas siang anak-anak mulai keluar dari sekolah tapi tadi dia sedikit telat karena baru selesai meeting, dan Fahmi berdiri tidak jauh dari gerbang, ia bersandar pada mobilnya.


Seketika Fahmi panik, biasanya hanya telat lima menit pun Nessa dan Nevan akan menunggu di gerbang, dekat pos satpam berjaga. Tapi kali ini tidak.


Fahmi pun segera pergi ke arah satpam, “permisi, Pak. Apa Bapak liat Nessa dan Nevan?” tanya Fahmi pada pak satpam, nama Nessa dan Nevan sudah tidak asing di telinganya, jadi ia tahu tanpa harus di sebutkan ciri-cirinya.


“Eh, saya pikir tadi Nevan sama Nessa sudah Mas jemput. Soalnya tadi saya lihat ada mobil yang mirip punya Mas Fahmi lagi nungguin Nevan sama Nessa di situ,” tunjuk pak satpam ke sebuah tempat di mana tadi dia melihat Nessa dan Nevan masuk ke dalam mobil berwarna hitam.


“Jadi anak-anak sudah pada pulang?” tanya Fahmi semakin merasa khawatir, ia mulai berpikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


“Oh, udah dari tadi, Mas. Hari ini pulangnya lebih awal, jam setengah sebelas. Eh, jadi siapa yang tadi naik mobil sama anak-anak, Mas?” Giliran pak satpam yang bingung.


“Apa Bapak tidak lihat mukanya seperti apa?” Fahmi sudah semakin khawatir, selain dirinya yang menjemput pasti hanya Nara kalau tidak Gavin.


Tapi yang Fahmi ingat, kalau hari ini Gavin sedang pergi meninjau proyek di puncak, jadi tidak mungkin Gavin yang menjemput. Kalau Nara juga tidak mungkin, dia tadi sudah menelpon kalau sedang tidak bisa menjemput anak-anak.


“Wah, kalau itu sih saya nggak lihat, Mas. Orangnya nggak keluar dari mobil, cuman ya mobilnya warna hitam, sama kayak punya Mas Fahmi,” ujar pak satpam itu, ya Tuhan, kekhawatirannya semakin bertambah.


“Makasih ya, Pak.” Fahmi dengan cepat kembali ke mobil, di mobil ia mencoba menghubungi Nara.


“Halo, Ra!”


“Iya, Kak? Ada apa?” tanya Nara di sana yang sedang sibuk dengan kertas desainnya.


Dengan sedikit ragu Fahmi bertanya pada Nara, “apa bener kamu hari ini nggak jemput anak-anak?”


Tapi pertanyaan itu malah membuat Nara menjadi bingung, “iya, Kak. Aku 'kan tadi udah bilang kalau hari ini nggak bisa jemput anak-anak, aku pikir Kakak udah jemput, sekarang kan udah jam sebelas lebih.”


Fahmi menelan ludah kasar, “Ra, tadi Kakak udah tanya ke satpam. Katanya anak-anak pulangnya jam setengah sebelas, jadi pas Kakak ke sekolah, ternyata anak-anak udah nggak ada.”


Terdengar suara benda terjatuh dari telpon, Fahmi tahu kalau saat ini Nara sedang terkejut, “apa?! Kok bisa, Kak? Jadi sekarang anak-anak ada di mana?”

__ADS_1


Suara Nara mulai panik, berarti sudah dari setengah jam yang lalu anak-anak keluar dari sekolah. Tapi kemana sekarang mereka perginya?


__ADS_2