
Nara merasa kalau waktu terasa berjalan dengan lambat, sejak tadi dia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Biasanya makan hanya butuh waktu sepuluh menit tapi entah kenapa Nara merasa kalau sudah lebih dari tiga puluh menit mereka duduk di meja makan.
Suasana aneh sudah Nara rasakan sejak tadi, udara disekelilingnya terasa semakin sedikit. Nara hanya memandang piring berisi nasi dan lauk yang sudah hampir tandas. Berusaha makan dengan cepat, Nara tidak melihat ke arah lain.
Helaan napas lega keluar dari mulut Nara saat nasi di piringnya tandas. Sama dengan yang lain, mereka pun sudah selesai makan. Jovanka yang selera makannya hilang tetap memakan makanan yang sudah ada di piring.
Satu gelas air putih Nara habiskan, turun ke tenggorokan yang terasa haus. Nara menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan. Akhirnya dia bisa pulang dengan perut yang sudah terasa kenyang walaupun terasa kurang nikmat.
Para pelayan yang khusus untuk bekerja di dapur mulai membereskan meja makan, Nara dan yang lainnya berjalan keluar sedangkan Jovanka, dia tanpa berkata apa-apa langsung pergi menjauh menuju tangga dan naik ke lantai atas.
"Tante, makasih ya udah ngundang Nara buat mampir di rumah Tante. Besok-besok gantian Nara yang bakal undang Tante buat main ke rumah Nara. Itu pun kalau Tante ada waktu luang." Ucap Nara saat mereka sudah ada di dekat pintu keluar.
"Iya, sama-sama. Kalau Tante sih selalu ada waktu luang. Tinggal nunggu undangan main ke rumah dari kamu aja." Tante Helen tersenyum menatap Nara.
"Gimana kalau kalian nginep aja? Sekarang 'kan udah malem, kalian juga nggak bawa motor 'kan?" sambung tante Helen.
Ah, Nara sampai lupa dengan motornya, kalau tidak salah dia masih meninggalkan motornya diparkiran butik. Nara menepuk jidat, bisa-bisanya dia sampai lupa dengan motor sendiri.
"Nggak usah Tan, kita langsung pulang aja. Lagian belum terlalu malem, masih ada taksi yang lewat." Tolak Nara.
Kalau dia menginap maka tidurnya tidak akan bisa tenang. Merasa tidak enak juga karena sudah merepotkan tante Helen. Walaupun tidur di rumah besar seperti ini dan kemungkinan kasurnya sangat empuk, Nara lebih suka tidur di rumah sendiri.
Terasa sangat nyaman walaupun hanya rumah kecil yang tidak bisa dibandingkan dengan rumah tante Helen.
Raut wajah kecewa terlihat dari tante Helen, tapi beliau memaklumi keputusan Nara yang mungkin memang belum terbiasa dengan rumah ini.
"Ya udah, tapi lain kali kalian harus nginep di sini, ya." Nara mengangguk, untuk saat ini dia tidak ingin menambah kekecewaan tante Helen.
"Gavin... " panggil tante Helen saat melihat Gavin yang baru saja ingin menaiki tangga.
"Kenapa, Mah?" Tidak jadi menaiki tangga, Gavin berjalan menghampiri tante Helen. Sebelumnya, Gavin sedang menelepon seseorang dan dia tidak menyadari kalau Nara masih belum juga pulang.
__ADS_1
"Kamu anterin Nara sama anak-anak, gih. Kasian mereka kalau pulang naik taksi, Mamah takut kalau mereka kena tipu," kalimat terakhir, tante Helen bicara dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Tapi, Mah... "
"Jangan ada tapi-tapi, pokoknya nggak ada negoisasi!" tante Helen mendorong Gavin keluar dari pintu. Gavin hanya pasrah mengikuti keinginan ibunya tanpa ingin membantah lebih lanjut.
"Tapi, Tan. Kita nggak apa-apa kok naik taksi aja, nggak bakal kena tipu," Nara sadar kalau Gavin tidak ingin mengantar dirinya pulang.
Tanpa di antar pun Nara tahu jalan pulang serta taksi masih banyak berkeliaran diluar sana. Sekarang masih pukul delapan malam kurang, belum terlalu malam untuknya pulang ke rumah sendiri bersama kedua anaknya.
"Bunda, kita bareng Om Gavin aja. Bener kata Nenek, kalau nanti ada yang nipu kita gimana?" Nessa menarik baju bagian bawah Nara, hari ini dia tidak bermain dengan Gavin, padahal selalu bertemu.
Jika malam ini mereka di antar Gavin, sampai rumah Nessa ingin mengajak Gavin bermain sebentar. Baru jika dia sudah merasa ngantuk Gavin boleh pulang, tiba-tiba Nessa tersenyum licik.
"Tuh, Nessa juga takut kalau kalian bakalan kena tipu. Udah deh, mending nurut sama Tante aja. Sampai rumah kalian aman dan bisa tidur nyenyak."
Sepertinya jika Nara menolak lagi maka tante Helen juga akan semakin keras kepala. Lebih baik dia menurut walaupun tidak ingin. Asalkan Gavin juga setuju untuk mengantarkan mereka pulang maka Nara akan diam dan tak berkomentar lagi.
Saat mobil sudah melaju, keheningan melanda. Udara di dalamnya terasa dingin dan di tambah AC mobil, Nara melipat kedua tangannya di dada. Melihat ke arah luar jendela mobil, mereka sedang melewati banyak gedung yang tinggi.
Banyak bintang di atas langit, bulan bersinar terang dengan bulatan penuh. Sepertinya besok akan menjadi hari yang cuacanya terasa panas.
Sudah hampir setengah perjalanan tapi tidak ada satupun yang memulai pembicaraan, Nara mengerutkan alisnya. Biasanya di saat seperti ini, apalagi saat sedang ada Gavin maka Nessa lah yang akan banyak bicara.
Tapi kali ini berbeda, Nessa sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Nara menoleh sebentar untuk melihat Nessa, ternyata dua anak yang ada di jok belakang sudah tertidur.
Jika Nevan tidak bicara itu sudah hal biasa bagi Nara tapi jika Nessa yang tidak bicara maka akan menjadi pertanyaan untuk Nara. Gadis kecil cerewet yang Nara tidak tahu menurun dari siapa.
Sekilas, Nara melirik ke arah Gavin, pria yang Nara tahu adalah ayah kandung dari kedua anaknya. Tiba-tiba pikirannya berkelana entah kemana, banyak pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba saat ini.
Kenapa Gavin tidak mencari tahu tentang wanita yang dia tiduri lima tahun lalu. Atau Gavin sama sekali tidak peduli atau merasa bersalah? Entahlah, masih banyak pertanyaan yang ada di dalam benaknya saat ini.
__ADS_1
Nara baru ingat kalau saat itu dia pernah bilang pada Kiki, dia takut Gavin sudah memiliki seorang anak dari Jovanka. Tapi Nara sama sekali tidak melihat seorang anak kecil di rumah tante Helen tadi.
Mungkinkah kalau Gavin memang belum mempunyai seorang anak dari Jovanka? Yang Nara tahu, bahwa Gavin dan Jovanka sudah menikah selama dua tahun tapi sampai sekarang belum juga di karuniai seorang anak.
Pertanyaan yang muncul di benak Nara, dia sendiri yang menjawabnya. Sampai tidak sadar jika mobil sudah berhenti tepat di depan rumah Nara.
"Sudah sampai."
Suara Gavin membuat Nara tersadar, dia melihat ke sekeliling dan ternyata mereka sudah sampai. Nara segera membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Tapi sebelum itu, Nara ingin meminta bantuan Gavin.
"Em... Mas boleh minta tolong nggak?" tanya Nara ragu.
"Minta tolong apa?"
"Bantuin aku gendong Nessa ke dalem. Aku nggak bisa gendong mereka berdua sekaligus."
Gavin melihat ke arah belakang, benar kalau dua anak itu sudah tertidur. Tentu dia tidak tega jika membiarkan Nara menggendong dua anak sendiri. Pasti akan terasa sangat berat dan juga tidak bisa membuka kunci untuk masuk ke dalam rumah.
Mengangguk setuju, Gavin dan Nara keluar dari mobil dan membuka pintu belakang mobil. Nara menggendong Nevan dan Gavin menggendong Nessa. Keduanya berjalan menuju pintu rumah Nara.
Saat memasuki rumah Nara, Gavin sesekali melihat sekeliling. Rumah ini kecil baginya tapi barang-barang di dalamnya tersusun dengan rapi. Gavin mengikuti langkah kaki Nara memasuki sebuah kamar yang di dalamnya ada dua ranjang kecil dengan warna dan gambar yang berbeda.
"Terimakasih ya, Mas. Maaf udah ngerepotin." Ucap Nara saat mereka sudah berada di ruang tamu setelah menidurkan Nessa dan Nevan.
"Hmm... Sama-sama."
"Ka-- kalau gitu Mas mau langsung pulang atau mampir dulu?" Dengan segera Nara memukul mulutnya, merasa bicaranya sudah sembarangan.
"Sa-- saya pulang aja, nggak enak juga kelamaan di sini. Takut ada warga yang lihat dan ngomong yang enggak-enggak." Gavin berdehem, mencoba menetralkan rasa gugup yang datang tiba-tiba.
"Ah, iya.. Ya udah kalau gitu. Sekali lagi terimakasih ya, Mas."
__ADS_1
Gavin hanya mengangguk tanpa menjawab, dia berjalan keluar dari rumah di ikuti oleh Nara di belakangnya. Berniat mengantar Gavin sampai depan pintu dan langsung mengunci pintu jika Gavin sudah pergi.