Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Hadiah


__ADS_3

Sekarang sudah malam, dan Nara sedang menyusun pakaiannya serta anak-anak ke dalam lemari. Nara melakukannya usai makan malam, ketika yang lain mengobrol dan menonton televisi tidak dengan Nara yang langsung masuk kamar.


Ada satu koper berukuran sedang isinya pakaian milik Nevan semua, sedangkan satu koper besar milik Nessa. Pakaian Nessa lebih banyak dari pada punya Nevan.


“Bahkan baju yang sudah kecil saja di bawa,” gumam Nara ketika melipat pakaian milik Nessa.


"Harusnya sekarang udah nggak muat lagi," Nara pun memisahkan pakaian yang sekiranya sudah tidak muat untuk Nessa pakai.


Sesudah membereskan milik anak-anaknya, Nara menaruh koper itu dan segera ia pergi ke kamarnya untuk membereskan pakaiannya sendiri.


Matanya melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, artinya sebentar lagi anak-anak harus sudah tidur. Dengan cepat Nara membuka lemari dan mulai menyusun.


Setengah jam kemudian semua pakaian sudah tersusun rapi, Nara pun menutup koper. Tepat saat ia sedikit menunduk, Nara melihat sebuah kotak yang berada di atas tumpukan pakaian Gavin. Nara ingat itu adalah hadiah dari Bina.


Nara mengambilnya dan membuka, karena penampakannya seperti pakaian akhirnya Nara ambil untuk di lihat. Matanya melotot.


"Baju apa ini?" tanyanya heran.


"Tipis banget," Nara meneliti pakaian itu, sangat tipis dan transparan, untuk lengannya seperti tali dan bagian punggung terbuka.


Nara memutar otak mencoba mengingat karena ia seperti pernah melihat. “I— ini 'kan lingerie,” ucapnya dengan tangan gemetar.


Ketika Nara masih mengangkat pakaian untuk di lihat, saat itu juga pintu kamar terbuka. Dengan cepat dan gugup Nara menaruh kembali lingerie itu ke dalam kotak. Gavin baru masuk dan mengernyit melihat tingkah Nara yang aneh.


"Kamu kenapa?" Gavin mendekati Nara.


"Nggak pa-pa, Mas. Aku baru aja selesai beresin baju," ucapnya mengalihkan pandangan, tak ingin menatap Gavin.


"Oh ya, anak-anak kemana, Mas? Sekarang waktunya mereka tidur."


"Masih nonton sama Bina," Gavin measih mengamati Nara yang bertingkah aneh.

__ADS_1


"Ah, begitu? Kalau gitu aku panggil mereka dan suruh mereka tidur dulu. Mas Gavin kalau mau duluan nggak pa-pa," kata Nara, ia dengan cepat menaruh kotak hadiah pemberian Bina di atas tumpukan pakaian miliknya.


Ia pamit pada Gavin untuk menemani anak-anaknya tidur, Gavin mengizinkan. Tapi, Gavin merasa sedikit penasaran dengan kotak yang Nara sembunyikan, akhirnya Gavin mengambil kotak itu.


Ia buka dan lihat, seketika Gavin meneguk ludahnya kasar. "Binaaa....!" geram Gavin, tapi di detik berikutnya ia tersenyum.


"Walaupun mengesalkan tapi ini cukup berguna," ucapnya sambil menyimpan baju haram itu kembali.


****


Nara kembali masuk ke dalam kamar setengah jam kemudian dan sekarang tepat pukul sembilan malam. Nara menguap lalu dia tutupi dengan tangan. Dia sudah mengantuk.


Di lihatnya Gavin sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponsel. Mengetahui sang istri sudah masuk kamar, Gavin pun mematikan ponselnya dan menaruh di atas nakas.


Gavin menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, meminta Nara untuk duduk di sana. Nara menurut dan perlahan merangkak naik ke benda empuk itu.


“Belum tidur, Mas?” Nara bertanya.


“Ngapain nunggu aku?”


Gavin duduk tegap, ia menatap Nara lekat, sedangkan Nara di tatap seperti itu jadi gugup. Ia memilin ujung pakaiannya.


"Apa nggak ada yang mau kamu jelasin tentang Joshua?"


Nara mengernyitkan, “Jelasin apa?” tanyanya sedikit bingung.


"Kamu minta bantuan apa sama dia?" Gavin masih menatap istrinya lekat membuat Nara menelan saliva.


"Oh itu, tadi aku minta bantuan dia tentang rumah yang mau di jual. Dia bilang mau bantuin aku, nanti kalau udah ada yang mau beli dia bakal kabarin aku. " jelas Nara.


Gavin membuang napas lega, ia tatap Nara yang juga sedang menatapnya. Tiba-tiba suasana mendadak hening, tapi kini Gavin tak mampu mengalihkan pandangannya dari Nara.

__ADS_1


Gavin menyusuri wajah Nara, desiran aneh muncul di diri Nara ketika menerima sentuhan itu. "Kamu cantik," puji Gavin secara tiba-tiba.


Nara menunduk, ia malu di puji seperti itu. Lalu Nara angkat kepala lagi. "Makasih," ucapnya mendadak linglung.


Gavin terkekeh, kemudian dia teringat tentang kotak hadiah itu. "Aku tadi lihat kotak hadiah pemberian Bina," katanya, jelas membuat Nara menegang.


"Aku nggak nyangka kalau ternyata Bina bakal jahil ke kamu, tapi aku juga harus berterima kasih sama dia."


"Buat apa?" tanya Nara.


"Kalau bukan karena Bina, mungkin aku lupa kalau baju itu juga sangat penting."


Wajah Nara jadi pucat, "Tapi, 'kan nggak perlu pakai baju itu juga," cicit Nara.


"Sesekali, Sayang," ujar Gavin.


Nara menatap wajah Gavin lekat, panggilan 'sayang' baru kali ini keluar dari mulut Gavin. Sekali lagi, Nara merasa darahnya berdesir hangat.


"Sayang?" ulang Nara.


"Iya, Sayang."


Nara menunduk tanpa mau melihat Gavin lagi, bibir bawahnya ia gigit dan jemarinya saling bertaut. Nara salah tingkah.


Gavin tersenyum, perlahan Gavin memegang wajah Nara, mengangkat wajah sang istri sehingga Nara kini menatapnya, ia baru menyadari ternyata wajah Nara memerah dan itu terkesan lucu di matanya.


Perlahan tapi pasti bibir milik Gavin mendarat di kening Nara, Nara memejamkan mata menikmati sensasi ciuman di kening yang sudah terjadi dua kali. Suhu tubuh Nara menghangat, ia hirup udara sedalam-dalamnya.


"Jangan pikirkan lagi, sekarang kita tidur," ucap Gavin ketika ciuman yang berlangsung sedikit lebih lama itu usai.


Nara tak mengeluarkan suara apapun selain mengangguk, ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan segera berbaring, Gavin tersenyum pun ikut merebahkan diri juga, ia melihat Nara begitu tenang padahal sejujurnya Nara merasa amat gugup, jantungnya hampir loncat keluar dari tempatnya karena berdebar terlalu kencang.

__ADS_1


__ADS_2