Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Diskusi


__ADS_3

"Tapi aku mau berusaha buat buka hati, aku mau memulai hubungan dengan Mas Gavin. Mungkin benar seperti kata Kiki, kalau jatuh cinta bisa datang karena terbiasa, kenapa kita tidak mencoba? Aku menerima lamaran Mas Gavin, memulai sebuah hubungan baru juga mungkin penting buat aku sendiri, juga demi anak-anak"


"Masa lalu biarlah jadi masa lalu, karena yang terjadi sekarang tidak akan bisa merubah kembali masa lalu itu. Yang ada hanya masa depan, dan masa sekarang. Kesakitan masa lalu membuat aku berpikir. Pikiran membuatku bisa lebih dewasa dan bijaksana walaupun tidak sepenuhnya. Kebijaksanaan membuat aku bertahan dalam hidup. Kepingin masa lalu yang cukup menyakitkan itulah yang membuat aku mampu berdiri demi mereka berdua. Tak masalah, aku menerima lamaran ini."


Hening! Hening!


Kalimat yang keluar dari mulut Nara membuat semua orang yang ada diam, tak mampu berkata-kata. Mereka semua mengira kalau Nara akan menolak, tapi ternyata tidak. Malah Nara mengeluarkan sebuah kata-kata yang begitu dalam.


Kiki merasa kagum, bagaimana bisa Nara menyusun kalimat sepanjang itu dalam waktu singkat. Bahkan dengan kalimat yang mampu menyentil secuil hatinya. Nara benar-benar sudah tumbuh dewasa, sudut mata Kiki jadi berair, ia mengusapnya.


"Ka-- kamu serius?" tanya Gavin tak percaya.


Nara mengangguk. "Sama seperti kamu, aku menerima lamaran mu juga bukan karena aku sudah mencintaimu. Tapi aku mau memulai sesuatu yang baru dengan orang yang anak-anakku sangat percayai, dan juga aku yakini. Begitupun kamu yang begitu yakin ketika melamar ku.


"Kebahagiaan adalah arti dan tujuan hidup. Ia adalah keseluruhan arah dan cita-cita akhir dari eksistensi manusia."


"Seperti aku, tujuan hidupku sekarang hanya satu, memberi kebahagiaan untuk anak-anakku. Cita-cita terakhirku. Akan aku lakukan apapun demi mewujudkannya."

__ADS_1


"Sedangkan cinta itu penuh pemberian, bukan meminta untuk diberikan. Cinta itu penuh ketulusan, bukan penuh dengan paksaan. Seiring berjalannya waktu untuk kita bersama, pasti cinta itu datang asal kita saling mempercayai dan mau membuka hati."


"Bagaimana, Yah? Kak?" tanya Nara menatap Fahmi dan Irwan, meminta sebuah pendapat.


Mereka yang ada di ruangan masih nampak diam, begitu terlena dengan kata-kata Nara yang entah di dapat dari mana.


"Begini, kamu bilang kamu sudah dewasa, bisa memilih apa yang baik buat kamu sendiri. Sebelum Ayah menyerahkan keputusan padamu, kamu sudah lebih dulu memilih jawaban. Ayah senang, Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu. 25 tahun kamu hidup menderita gara-gara Ayah, bahkan saat ini kehadiran Ayah tak begitu penting. Apapun yang kamu pilih Ayah pasti dukung asal kamu juga bahagia."


mata Nara jadi berembun, memang benar Ayah tak begitu berjasa dalam hidupnya selama ini. Tapi jika tidak ada ayah, makan Nara benar-benar seorang yatim-piatu seperti pikirannya selama ini. Begitu juga jika tidak ada ayah maka Nara juga tidak akan ada.


Intinya, kehadiran ayah saat ini tetap penting bagi Nara.


"Ehh ... Ayah nggak mau! Ayah cuma punya anak perempuan satu. Ayah udah lama pengen jadi wali nikah untuk Nara." Irwan melotot, impiannya menjadi wali nikah untuk Nara sudah ada sejak lama. Mana mungkin ia mau di gantikan.


Suasana ruangan itu jadi mencair setelah beberapa saat tadi tegang.


"Jadi deal yah kalau Nara terima lamaran dadakan dari anak Tante." Nara mengangguk. "Berarti sekarang kita tinggal milih tanggal pernikahan. Kalau bisa dipercepat, Tante jadi nggak sabar ini."

__ADS_1


"Kalau satu minggu lagi gimana?" tanya Helen.


Gavin menggeleng cepat. "Satu minggu lagi belum bisa, Mah. Karena minggu depan keputusan sidang perceraian ku dengan Jovanka."


Helen cemberut. "Ya sudah, kita bikin tiga minggu lagi."


"Tante, aku mau ngasih saran. Satu bulan lagi aku ulang tahun, genap 25. Gimana kalau pakai hari itu juga?"


"Satu bulan lagi kamu mau ulang tahun?" tanya Helen kaget. Nara mengangguk.


"Tunggu, satu bulan lagi? Kenapa aku bisa lupa?" celetuk Irwan.


"Fahmi juga lupa, tapi bagus juga. Ulang tahun Nara akan jadi momen yang sangat penting."


Diskusi antara dua keluarga itu pun di mulai, dari tanggal berapa acaranya di mulai, mewah atau sederhana. Dimana tempat acara berlangsung. Gaun pengantin dan cincin pernikahan. Dua orang yang menjadi calon mempelai sama sekali tak diberi kesempatan itu memberi saran.


Mereka hanya bisa pasrah, sesaat mata mereka bertatapan, keduanya saling menahan senyum. Tapi semburat merah tiba-tiba muncul di pipi Nara.

__ADS_1


Tak pernah ada dalam benak Nara kalau di hari ulang tahun kedua anaknya akan ada lamaran dadakan untuk dirinya. Terlalu mengejutkan awalnya, tapi setelah Nara pikirkan dengan matang-matang, ia bisa menemukan jawaban yang tepat.


__ADS_2