
Di sebuah gedung tinggi tepatnya di dalam ruangan yang berada di lantai empat puluh delapan, seorang pria berjas hitam sedang duduk di meja kebesarannya dengan perasaan campur aduk.
Datang ke perusahaan yang harusnya untuk bekerja kini malah hanya diam dan tidak melakukan apapun. Sejak pagi dia duduk di kursi khusus miliknya dengan pikiran yang berkelana jauh entah kemana.
Mengetuk meja dengan bolpoin yang di sesuaikan dengan irama dentingan jam. Salah satu tangannya menahan dagu. Gavin teringat kembali dengan perkataan mamahnya tentang perempuan itu.
Saat mamahnya bilang kalau bisa saja perempuan itu memiliki anak, sungguh Gavin tidak tahu harus bagaimana. Dan lagi saat ini dia tidak mengetahui dimana keberadaan perempuan itu.
Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk, Gavin mengangkat kepalanya menyuruh orang itu masuk. Sekretaris datang dan membawa beberapa berkas. Meminta Gavin untuk menandatangani berkas penting yang di bawanya.
Gavin mengangguk dan dia menyuruh sekretarisnya keluar. "Nanti akan saya berikan setelah saya tandatangani."
Perintah atasan yang tidak bisa di bantah, sekretaris perempuan itu hanya bisa menurut. Sesuai perintah Gavin, setelah memberikan berkas dia langsung pergi keluar.
Dengan segera Gavin menandatangani berkas itu, hanya tanda tangan dan tidak perlu terlalu fokus melakukannya. Sampai saat Gavin baru selesai menandatangani berkas yang di bawa oleh sekretarisnya, pintu ruangan kembali terbuka.
Asisten Gavin yang bernama Rafi itu masuk ke dalam ruangan Gavin tanpa mengetuk pintu. Sudah hal biasa baginya dan Gavin tidak mempermasalahkan.
"Gimana?" tanpa mempersilahkan asistennya duduk terlebih dahulu, Gavin langsung memberi pertanyaan.
"Masih nggak dapet." Duduk di kursi yang berhadapan dengan Gavin, dia mengerti kemana arah pertanyaan Gavin.
Gavin menghela napas pasrah, dia hampir merasa putus asa. Kenapa mencari satu orang sangat sulit. Apakah orang yang dia cari bukan orang dengan identitas biasa?
Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab. Semuanya seperti teka-teki.
"Udahlah, kenapa nggak nyerah aja? Bertahun-tahun nyariin dia yang kamu sendiri nggak tau dia siapa rasanya percuma."
__ADS_1
Tepat menusuk jantung, benar kalau rasanya percuma karena sudah bertahun-tahun mencari tapi tidak ada hasil.
"Apa lebih baik nyerah?"
Rafi menganggukkan kepala cepat, dia sendiri sudah bosan dengan perintah Gavin yang menyuruhnya mencari seseorang tapi tidak diketahui Gavin siapa namanya. Dan sampai sekarang tidak ada titik terangnya sama sekali.
Menurutnya Gavin sudah terlalu banyak menghabiskan uang hanya untuk seorang yang tidak di kenal. Jika bukan karena Gavin adalah atasannya maka sudah sejak dulu Rafi menolak di berikan tugas seperti ini.
"Hah... Kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Baiklah, lebih baik hentikan dulu pencariannya."
"Oke," Rafi ber-iyes ria di dalam hati. Dia tidak lagi harus selalu lembur hanya untuk mengecek ini dan itu.
Segera dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauh, dia berniat menelepon seseorang. Dan setelah selesai Rafi kembali duduk di hadapan Gavin.
"Terus kamu mau apa ke sini?" Gavin baru sadar kalau Rafi datang ke ruangannya dengan alasan yang belum dia ketahui.
Kali ini Rafi menatap Gavin serius, dia datang memang ada hal yang ingin disampaikan. Obrolan seputar pekerjaan kini mereka bahas. Tidak ada kata bercanda dan hanya serius, Gavin sedikit bisa mengalihkan perasaan campur aduknya tadi.
Di rumah sakit.
Di ruangan pasien VIP, Nara sedang memandangi wajah pucat putranya yang kini tengah terlelap. Anaknya yang selalu sehat dan aktif walaupun irit bicara kini sedang menahan rasa sakit. Wajah tampan putranya kini menjadi pucat.
Nara tidak menyangka kalau akan mengalami kejadian seperti ini. Baru pertama kali menemani buah hatinya di rumah sakit, Nara lagi-lagi tidak menyangka kalau Nevan terkena penyakit leukemia.
Ingatannya kembali pada saat dokter menjelaskan penyebab mengapa Nevan bisa terkena leukemia.
Penyakit leukemia memang sering terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, penyebab mengapa bisa memiliki penyakit ini juga banyak, bisa jadi karena salah satu anggota keluarga anda ada yang pernah menderita leukemia.
__ADS_1
Nara yang selama hidupnya tinggal di panti asuhan dan tidak mengetahui siapa keluarga kandungnya, tentu tidak tahu apakah keluarganya mempunyai penyakit keturunan seperti leukemia ini atau tidak.
Dan tadi, dokter bilang kalau hasil dari pemeriksaan fisik Nevan baru akan keluar besok. Nara masih harus menunggu sampai besok. Yang dia harapkan adalah kalau penyakit Nevan bisa disembuhkan dengan mudah dan cepat.
Untuk beberapa hari ke depan, Nara tidak akan pergi ke butik, tadi dia sudah menelepon Indi dan bilang kalau tidak bisa pergi ke butik karena Nevan sedang sakit. Indi hanya menjawab 'iya' dan mengucapkan doa semoga Nevan cepat sembuh.
Pintu terbuka saat Nara sedang memandangi wajah pucat Nevan sembari mengusap kepala. Fahmi datang bersama dengan Nessa. Nara sampai lupa dengan keberadaan mereka berdua.
"Kalian dari mana?" tanya Nara mengusap air matanya yang masih terus keluar, saat ini hidungnya sudah memerah akibat terlalu banyak menangis dan mungkin saja kedua matanya sudah membengkak.
"Aku sama Om Fahmi dari sekolah, Bun. Habis izin sama bu Guru kalah Nessa sama Nevan nggak bisa berangkat ke sekolah."
Ah, Nara lupa kalau hari ini harusnya kedua anaknya bersekolah. Beruntung saat ini dia memiliki Fahmi sebagai teman yang mau membantu.
"Kak, makasih, ya." Menatap Fahmi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Nara selalu berpikir kenapa Fahmi sangat baik padanya, padahal mereka tidak ada ikatan apapun.
Mereka hanya orang asing yang bertemu lima tahun lalu kemudian berteman sampai sekarang. Nara sudah menganggap Fahmi sebagai kakak, begitu juga sebaliknya. Bagi Nara, kebaikan Fahmi tidak akan bisa dia balas sampai lunas, karena Fahmi sudah terlalu banyak membantunya.
"Nggak masalah, aku seneng bisa bantu." Senyuman Fahmi terlihat sangat tulus, Nara sampai tidak bisa mencari kebohongan di kedua mata Fahmi.
Fahmi dan Nessa duduk di sofa yang sudah tersedia di situ. Tapi tak lama setelah itu, Fahmi pamit keluar karena ingin menelepon seseorang.
Nessa masih duduk di sofa dengan tenang sembari memainkan ponsel, sedangkan Nara masih sm di tempat yang sama. Dia terus memandangi wajah putranya, dalam hati terus berdoa semoga Nevan bisa cepat sembuh dan penyakitnya pun tidak parah.
Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam tas Nara berbunyi, Nara melihat nama Kiki di ponselnya. Dia heran kenapa tiba-tiba Kiki meneleponnya.
"Halo, Ki?"
__ADS_1