Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Kepala Pusing


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Jovanka, dengan terpaksa tante Helen pulang ke rumahnya. Tepat pukul setengah delapan malam tante Helen pergi meninggalkan ruang perawatan.


"Ra, Tante minta tolong sekali lagi ya buat jagain Gavin. Tante balik lagi ke sini besok pagi, nggak apa-apa 'kan?" ucap tante Helen sebelum pergi. Sambil memegangi kedua tangan Nara, matanya menatap memohon.


Nara mengangguk, "iya, Tan. Nggak apa-apa, Tante pulang aja dulu sekalian istirahat. Tapi Nara cuman minta satu hal sama Tante, tolong jangan kasih tahu Jovanka tentang hari ini," pinta Nara.


Jika Jovanka sampai tahu, maka masalah akan bertambah banyak. Nara tidak ingin itu terjadi, saat ini ia tengah fokus dengan kesembuhan Nevan. Bahkan sampai sekarang Nara belum pergi ke butik.


Ia hanya menelepon Indi sesekali untuk menanyakan keadaan butik, selama tidak ada masalah Nara bisa bernapas dengan lega. Walaupun di rumah sakit ia hanya duduk diam menunggu tapi cukup melelahkan juga.


Tante Helen mengangguk pasti, "iyalah, nggak mungkin tante asal ngomong ceplas-ceplos sama si Jovanka. Kalau Tante ngomong nanti berabe urusannya. Tante juga udah tahu watak asli istri dari Gavin, jadi harus hati-hati. Kalau bohong juga harus jago, anak itu susah di bohonginnya," tante Helen berbisik pada Nara dengan mata yang melirik kearah Gavin.


Nara terkekeh, "iya Tante, aku juga cuman nggak mau ada masalah. Soalnya 'kan Nevan belum sembuh, baru aja selesai operasi. Iya udah Tante hati-hati di jalan, ya."


"Sekali lagi maaf ya ngerepotin kamu buat jagain anak tante," ucap tante Helen merasa tidak enak, sudah Nara harus merawat Nevan ditambah harus menjaga Gavin selama dirinya tidak ada. Pasti cukup melelahkan walaupun hanya menunggu.


"Iya, Tan. Nggak apa-apa."


____________


Sebelum pergi tadi, tante Helen sudah menelepon supir untuk menjemputnya. Jadi tidak perlu naik taksi untuk pulang. Perjalanan dari rumah sakit untuk sampai dirumahnya membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah ternyata sudah hampir pukul setengah sembilan malam. Saat melangkah masuk, lampu ruangan masih menyala. Samar-samar terdengar suara televisi.


Tante Helen sudah menduga kalau Jovanka sedang menunggunya, tanpa ragu ia melangkahkan kaki. Mendekati Jovanka yang saat ini sedang duduk santai sembari memainkan ponsel.


Langkah kaki tante Helen yang menimbulkan suara membuat Jovanka menolehkan kepalanya, ibu mertua yang ditunggu sudah datang. Segera ia berdiri, mematikan ponselnya dan di taruh diatas meja.


"Sudah pulang, Ma?" tanya Jovanka, tante Helen memutar bola matanya malas. Sudah jelas ia sudah pulang kenapa malah tanya.


Bukannya mencium tangan tante Helen, Jovanka malah membiarkan tante Helen berdiri tanpa mempersilahkan duduk.


"Kamu mau tanya apa? Tenang aja nanti Mama jawab," ucapnya dengan salah satu tangan memijit pangkal hidungnya.


"Mama pasti bohong kalau Gavin pergi keluar kota 'kan?" tanpa basa-basi, to the poin lah intinya.


Tante Helen tersentak tapi tetap berusaha bersikap normal. Tidak menunjukkan wajah terkejut.


"Buat apa Mama bohong? Malahan Mama yang kaget pas kamu bilang kalau Gavin nggak ngomong dulu sama kamu waktu mau pergi," mungkin sudah biasa berbohong tante Helen bicara langsung tanpa berpikir.


Alasan yang sudah ada di otaknya sejak tadi, jadi tidak perlu bingung bagaimana menjelaskan kepada Jovanka tentang Gavin.


"Yang bener, Ma? Kenapa mendadak ada urusan? Nggak bawa baju juga, lemari masih penuh, koper juga masih ada," kata Jovanka dengan nada yang sudah mulai kesal.

__ADS_1


Tante Helen menghela napas, ia harus bersabar menghadapi menantunya. Ia tahu ia salah karena berbohong, tapi jika bicara jujur makan masalah akan semakin bertambah, seperti kata Nara tadi.


Setidaknya untuk beberapa hari ia masih bisa mengatasi Jovanka, semoga Gavin dan Nevan sembuh dengan cepat. Hanya itu harapan tante Helen saat ini.


"Anka ... Mama juga nggak tau kenapa Gavin pergi tiba-tiba. Tadi siang, sebelum makan siang Gavin nelpon Mama, katanya ada kerjaan mendadak di luar. Mama pikir anak itu udah ngomong sama kamu, tapi ternyata belum. Kamu bilang tadi dia nggak bawa baju?" Jovanka mengangguk, masih terus mendengarkan tante Helen bicara.


"Kalau itu juga Mama nggak tau. Tapi kamu udah nelpon Gavin?"


"Belum, Ma," jawab Jovanka menggeleng, ia memang belum menghubungi Gavin. Selama ini mereka berdua jarang berkomunikasi menggunakan ponsel.


Jika ia mengirim pesan pada Gavin pun hanya di balas singkat oleh pria itu. Ia sudah biasa dengan hal ini sampai lupa untuk menelpon dimana Gavin berada. Tapi malah bertanya pada tante Helen.


"Ya udah, coba aja kamu telpon. Tanyain dimana sebenarnya dia kerja. Mama mau kekamar dulu, mata udah ngantuk."


"Iya, Ma," tante Helen segera pergi, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Menaiki anak tangga satu persatu.


Setelah sampai, ia masuk kamar dan menguncinya. Bersandar di balik pintu memegangi dadanya yang saat ini sedang berdebar dengan kencang. Sungguh ia merasa kalau hari ini kebanyakan berbohong.


Ingin segera masuk kekamar bukan karena mengantuk tapi ia merasa sudah tidak tahan lagi. Sudah banyak kalimat bohong yang keluar dari mulutnya, tante Helen sudah hampir kehabisan kata-kata.


"Ya ampun, kepalaku jadi pusing begini gara-gara ngurusin urusan anak. Padahal mereka udah gede, kenapa aku juga harus ikut-ikutan?"

__ADS_1


__ADS_2