
Tak pernah ada yang tahu akan takdir seseorang. Banyak kejutan menanti di depan. Seperti Nara yang masih begitu tak menyangka akan datangnya hari dimana ia akan menikah. Bahkan tak pernah ada dalam benak Nara kalau ia akan menikah dengan pria yang dulu memberinya luka satu malam.
Memikirkannya saja Nara tak berani. Nara menutup wajahnya dengan telapak tangan, rasa gugup muncul tiba-tiba saat mengingat kalau besok adalah hari terpenting dalam hidupnya.
Ting!
Bunyi notifikasi dari ponsel Nara, lantas ia meraba tempat tidur di sampingnya dan mengambil benda pipih itu. Kemudian Nara membuka dan membaca pesan masuk.
“Apa sudah tidur?”
“Belum,” balas Nara, segera ia menutup ponselnya dan menaruhnya di atas dada. Nara memejamkan matanya, tak lama setelah itu terdengar kembali bunyi notifikasi masuk.
“Kalau begitu tidurlah, mimpi indah. Jangan lupa besok bangun pagi agar tidak terlambat,” ya ampun, pipi Nara jadi merah. Otaknya tiba-tiba ingat kembali tentang hari esok.
“Ya ... Selamat malam.” Nara tersenyum tipis, entah kenapa beberapa hari ini ia tak bisa mengendalikan diri agar tidak tersenyum tidak jelas. Seperti ada sesuatu muncul di sudut hatinya.
Beberapa hari ini pula Nara dan Gavin sering berkirim pesan. Satu bulan belakangan mereka sering ketemuan bareng untuk pergi berlibur dengan anak-anak. Kadang juga berdua. Tapi mulai dari tiga hari yang lalu tante Helen melarang keras agar Nara dan Gavin tidak bertemu. Nara sendiri tidak tahu alasannya apa.
Jadilah Gavin terus mengirim Nara sebuah pesan, kadang juga melakukan panggilan telepon. Tapi tidak sering karena kalau memakai panggilan telepon maka topik yang di bahas tiba-tiba akan lenyap.
Tok! Tok!
Pintu kamar Nara di ketuk, ia bangkit dan berjalan membuka pintu. Terlihat dua anak kesayangannya berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
__ADS_1
“Kita berdua mau tidur bareng Bunda boleh?” tanya si kecil Nessa.
“Boleh dong, ayo masuk! Kebetulan Bunda juga udah ngantuk, kita langsung tidur aja yah ... ” Nara membawa Nessa dan Nevan naik ke kasur miliknya.
Nara tidur di tengah-tengah, ia memeluk dua anaknya dengan erat, nyaman di rasa oleh wanita yang besok pagi akan menginjak usia 25 tahun dan akan melepas masa lajangnya.
“Bunda, besok kita udah bisa tinggal bareng ayah?” pertanyaan Nessa di jawab anggukan kepala oleh Nara.
“Iyah ... Kalian senang?” mereka berdua mengangguk, Nessa memeluk Nara erat, “bahagia Bunda ... ” ucapnya sambil menguap, perlahan kelopak mata mereka berdua tertutup. Mulai masuk ke alam mimpi.
“Bunda juga harus bahagia ... ” satu kalimat terakhir sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi keluar dari mulut Nevan, Nara tersenyum lembut, tentu ia akan bahagia bila anak-anaknya juga bahagia.
Nara menikmati momen malam ini, dengan tidur memeluk erat dua anak kesayangannya. Rasa gugup tadi tiba-tiba hilang begitu saja, membuat Nara bisa tidur nyenyak dan mengisi tenaga untuk hari esok.
“Halo ... ” suara Nara masih terdengar serak, kelopak matanya pun terasa berat.
“Astaga Nara!! Kamu belum bangun? Nara apa kamu nggak masang alarm? Ini sudah jam berapa Nara?” suara yang Nara kenali, dengan malas ia menatap ke arah jam dinding, matanya melotot seketika.
“Ya ampun ... Maaf, Tan. Aku tidur terlalu nyenyak sampai nggak sadar udah jam setengah lima,” Nara menepuk jidatnya.
Padahal seharusnya ia sudah harus bangun sejak setengah jam yang lalu. Entah Nara bermimpi apa malam tadi sampai bisa tidur se-nyenyak ini. Dengan pelan Nara bangkit dari tempat tidur agar tak membangunkan dua malaikat kecilnya.
“Ya sudah, buruan kamu siap-siap, Nanti kita ketemuan di hotel, di sana sudah ada MUA jadi bisa lebih cepat.”
“Iya, Tan.”
__ADS_1
Setelah itu telepon dimatikan, Nara keluar dari kamar dan ia terkejut melihat ternyata sudah ada Fahmi dan Irwan sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Kak? Ayah? Kapan kalian datang?” tanya Nara menghampiri keduanya. Nara lihat bahkan mereka sudah menyeduh dua gelas kopi.
“Belum lama, setengah jam yang lalu.” Kata Fahmi.
“Nara, kamu cepat bersiap, kita ke hotel. Kalau terlalu lama takutnya akan terlambat.” Ayah bersuara.
Nara mengangguk, lalu ia kembali kembali ke kamar untuk mandi. Lima belas menit Nara sudah keluar dengan pakaian yang lengkap. Tanpa make up. Saat keluar, Nara tidak melihat adanya anak-anak di tempat tidur.
Tapi Nara biarkan saja, toh pasti mereka sudah pada bangun dan bersama Fahmi. Nara menyiapkan barang bawaan seperlunya. Hanya pakaian ganti dirinya dan anak-anak saja.
Pukul lima Nara sudah siap untuk pergi. Mereka berempat menaiki mobil dan Fahmi yang menyetir. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Nara menatap keluar jendela, jalanan lancar tanpa hambatan karena masih subuh.
Tiba-tiba telapak tangannya berkeringat, dadanya berdebar saat mobil sudah terparkir sempurna di parkiran hotel. Saat keluar, Nara terkejut melihat ternyata Helen sudah menunggunya dengan tidak sabar.
“Naraaa ... Untungnya belum terlambat, aduhh ... Mamah jadi nggak sabar ini, buruan! Ayo kita naik, kasian MUA yang udah nunggu dari semalam.”
“Ma-- Mamah?” ucap Nara kikuk.
“Iya, 'kan sebentar lagi kamu jadi mantu Mamah, berarti sekarang panggilannya harus berubah, coba panggil Mamah ... ” pinta Helen.
Nara tersenyum malu, “Iya, Mahh ... ”
“Astaga ... Demi apa ini Mamah senang banget, udah ah! Kita ini udah mau telat. Manggilnya bisa nanti lagi kalau kamu sudah siap, sekarang waktunya bikin kamu jadi ratu, harus sampai pangling pokoknya.” Helen menarik lengan Nara dan berjalan cepat, di belakang mereka ada empat orang yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1