
Di tempat lain.
Masih di jam yang sama, di sebuah rumah besar tiga lantai. Fahmi duduk di sebuah meja makan bersama sang ayah. Meja makan dengan banyak kursi tapi hanya di tempati oleh dirinya dan ayahnya.
Sudah bertahun-tahun seperti ini, tidak ada yang berubah. Semenjak kematian sang ibu, ayah Fahmi lebih banyak diam. Walaupun Fahmi dan ayahnya sering mengobrol, tapi hanya obrolan yang penting saja.
Tidak ada yang spesial di hubungan mereka, interaksi diantara keduanya pun masih bisa dihitung dengan jari. Mereka seperti bukan ayah dan anak. Membuat Fahmi sadar kalau kematian ibunya ternyata mempunyai pengaruh besar dalam keluarganya.
Sebelum kematian ibunya, ayahnya sangat penyayang. Apapun yang Fahmi inginkan pasti akan di turuti. Tapi sekarang tidak, apapun yang dia inginkan hanya dia sendiri yang bisa mengabulkannya. Ayah bilang kalau dia sudah besar dan harus mandiri.
Dan sudah sepuluh tahun, mereka hidup seperti ini. Fahmi sudah terbiasa.
Keduanya diam, belum ada yang memulai pembicaraan. Hanya dentingan sendok yang terdengar.
"Gimana kabar mereka?" ayah Fahmi yang bernama Irwan memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.
"Kabar mereka baik, Yah." Jawab Fahmi singkat, dia melanjutkan sarapannya yang sudah hampir habis.
"Apa Ayah nggak mau ketemu sama mereka?"
Fahmi berhenti memasukkan makanan ke dalam mulut, mendengar ayahnya yang tiba-tiba membahas seseorang.
"Sekarang belum waktunya," menghela napas, ayah Irwan memang sangat ingin bertemu tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Dua puluh lima tahun nggak ketemu tapi ayah bisa tahan juga ya." Ucap Fahmi seraya tersenyum hambar.
Merasa ayahnya sudah sedikit keterlaluan, saat mempunyai seorang anak perempuan yang sengaja di tinggalkan di panti asuhan. Menjebak anaknya sendiri, dan sampai sekarang ayah Irwan masih belum ingin menemuinya.
Sampai sekarang Fahmi masih belum mengerti apa yang sebenarnya ayahnya rencanakan. Karena selama ini dia hanya mengikuti keinginan ayahnya, menuruti semua perintahnya. Walaupun bertanya maka ayahnya tidak akan menjawab.
"Ayah memang nggak pernah ketemu langsung tapi Ayah sering melihat. Ayah pisah bertahun-tahun bukan berarti Ayah nggak pengen ketemu, Ayah juga kangen tapi memang waktunya belum tepat. Tapi suatu saat Ayah pasti bakal nemuin dia."
__ADS_1
Satu suapan masuk kedalam mulut ayah Irwan. Tanpa melihat Fahmi, ayah Irwan bicara seperti itu. Mereka kembali diam, melanjutkan sarapan.
"Apa kamu masih suka mengantar anak-anak ke sekolah?" ayah Irwan kembali bicara.
"Hmm.... " Fahmi terus memakan sarapannya, hari sudah hampir siang dan dia harus pergi ke rumah Nara.
"Kalau kamu nggak keberatan, tolong bawa anak-anak main ke sini. Ayah pengen liat mereka dari deket."
Satu kalimat yang ayah Irwan ucapkan membuat Fahmi menoleh terkejut, helaan napas ayahnya bisa dia dengar. Ini pertama kali ayahnya meminta permintaan seperti ini.
"Kenapa? Kenapa bukan ayah saja yang nemuin mereka?"
"Kalau kamu nggak mau Ayah juga nggak maksa. Ayah cuma pengen lihat mereka, tapi kalau kamu nggak bisa bawa mereka ke sini juga nggak apa-apa."
Fahmi menghembuskan napas, dia meletakkan sendok dan mengambil gelas. Meminumnya hingga habis, kemudian bangkit dari duduknya. Fahmi mengambil jas yang diletakkan di atas kursi samping tempatnya duduk.
Sebelum pergi, Fahmi melihat ke arah ayahnya. "Aku usahain bawa mereka ke sini."
Dengan segera beliau menghabiskan sarapannya dan ingin pergi ke tempatnya biasa bersantai. Usianya yang sudah menginjak kepala lima mulai membuat tubuhnya sering merasa lelah.
Entah karena faktor usia atau memang tubuhnya yang lemah. Sudah dua tahun beliau pensiun dan pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan. Dan kini di gantikan oleh Fahmi, putra satu-satunya.
_________
Fahmi berjalan keluar rumah, menuju garasi untuk mengambil mobil. Jas yang di bawa telah di pakai.
"Tuan, apa perlu saya antar?" tanya salah satu supir yang bekerja di rumah Fahmi.
Ada Banyak pekerja di sini, mereka memiliki tugas masing-masing. Ada yang di khususkan untuk merawat tanaman dan memotong rumput, ada pelayan yang khusus bekerja di dapur itupun memiliki tugasnya sendiri.
Mencuci piring dan memasak di lakukan oleh pelayanan yang berbeda. Bahkan ayah Irwan memiliki pelayan pribadi, segala keperluannya sudah di atur oleh pelayan yang selalu berada di sisinya.
__ADS_1
Supir yang bekerja di rumah ini tidak hanya satu, ada sekitar lima sampai enam supir. Tapi mereka semua jarang mengantar majikan, karena di rumah ini hanya di tempati oleh Fahmi dan ayahnya.
Fahmi sempat protes pada ayahnya karena memiliki supir terlalu banyak, tapi tidak ada gunanya, ayahnya selalu mempunyai alasan untuk tidak mengurangi jumlah supir yang ada di rumah ini.
Akhirnya Fahmi hanya diam dan tak lagi ingin protes. Terserah apapun yang ingin ayahnya lakukan maka Fahmi akan diam dan hanya menurut saja.
"Tidak perlu." Penolakan yang sering terjadi, Fahmi tidak ingin di antar sebab dia ingin pergi ke rumah Nara. Lagian menyetir sendiri lebih leluasa dari pada di dampingi oleh supir.
Fahmi masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan mulai melaju. Gerbang di buka saat penjaga melihat ada mobil ingin keluar. Fahmi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak butuh waktu lama untuknya sampai di rumah Nara. Karena jaraknya tidak begitu jauh.
.
.
.
Sudah hampir siang tapi kedua anaknya belum terbangun, Nara pikir mereka kelelahan jadi tak mempermasalahkannya. Setelah memanggang roti dan mengoleskan selai untuk sarapan. Nara membersihkan rumah.
Menyiram tanaman di halaman, Nara melihat tukang sayur lewat. Baru ingat kalau sayur di kulkas sudah habis, Nara memanggil tukang sayur untuk berhenti.
Seperti ibu-ibu pada umumnya, kini Nara sedang menawar harga sayur. Mengambil kangkung satu ikat seharga tiga ribu. Jika di pasar mungkin masih bisa menawar tapi jika membeli di tukang sayur keliling akan sulit untuk di tawar.
Beberapa ibu-ibu mulai berdatangan, mereka ikut memilih sayuran. Sambil bercerita kadang sampai mereka tertawa. Nara yang tidak begitu biasa mengobrol dengan ibu-ibu, hanya diam. Dia sibuk dengan sayuran yang ingin di beli.
"Mbak Nara kenapa diem? Kita jarang ketemu padahal tetanggaan. Jarang-jarang kita kumpul kayak gini, sini ikut ngobrol."
Salah satu tetangga Nara yang rumahnya bersebelahan. Nara hanya tersenyum menanggapi, dia sering keluar rumah tapi untuk bekerja. Pulang kerja pun sore hari, jadi tidak ada waktu untuk mengobrol dengan tetangga.
Setelah selesai Nara segera membayar, menyerahkan uang lima puluh ribu dan mendapat kembalikan sembilan belas ribu. Nara berpamitan pada ibu-ibu yang belum selesai memilih sayur, dia berjalan memasuki rumah.
"Bunda...?!!!"
__ADS_1