
Spontan tindakan Gavin membuat seisi rumah terkejut bukan main, suasana mendadak jadi hening saat Nara tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamar. Kiki melotot tak percaya sambil menutup mulutnya yang menganga, Fahmi yang sedang meminum kopi pun hampir menyembur keluar.
Ayah Irwan pun sama, beliau keselek saat kopi hangat hendak masuk ke tenggorokan tiba-tiba dikejutkan dengan kata-kata yang keluar dari mulut Gavin. Sedangkan Helen, setelah rasa terkejutnya berkurang, ia berjalan ke arah putranya, menepuk punggung Gavin cukup kuat sampai membuat sangat empu meringis.
Plak!
"Aduh, Maa ... " kesal Gavin.
"Aduh aduh ... Kamu ini gimana sih! Mau ngelamar kok nggak bilang-bilang, bikin semua orang hampir jantungan tau nggak? Untung anak-anak banyak yang udah pulang!!" Helen berkacak pinggang, menatap kesal pada putranya, tindakan Gavin barusan benar-benar membuat jantungnya hampir copot.
"Iya, maaf. Aku juga nyiapinnya dadakan, nggak sempat bilang sama Mama ... "
"Walaupun dadakan ya harusnya ada persiapan dulu, bilang sama Mama, bilang sama Fahmi dan ayahnya kalau kamu mau ngelamar Nara!! Tuh lihat, gara-gara kamu Nara jadi kabur ke kamar, habis ini nasib kamu gimana? Di tolak enggak tapi di jawab iya juga enggak!!" Helen menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan Gavin. Tapi di sudut hatinya ada perasaan senang juga, akhirnya Gavin mau menikahi Nara.
"Terus aku harus gimana, Ma?" Kening Gavin berkerut bingung, merasa benar juga dengan perkataan mamanya.
"Ya itu urusan kamu! Tapi saran Mama, kamu harus bisa bawa Nara keluar dari kamar supaya kamu bisa dapat jawaban, di tolak atau enggaknya." Gavin menganggukkan kepalanya paham.
Lalu tatapannya beralih pada Nessa, wajahnya gadis kecil itu terlihat berseri, lain dengan adiknya, Nevan. Terlihat datar terkesan dingin.
"Ayah udah kasih kado yang lebih spesial dari yang lain, tapi Bunda nolak, gimana ini?" tanya Gavin.
"Ayah tenang aja, urusan Bunda biar Nessa yang tangani. Sekarang Ayah tinggal hadapin Kakek sama Om Fahmi, Ayah harus minta restu, supaya lamarannya di terima!" ujar Nessa meyakinkan Gavin, dengan ragu Gavin menganggukkan kepalanya.
Dengan semangat Nessa menarik tangan Nevan, memaksa bocah yang baru berusia lima tahun itu terpaksa menurut. Mengikuti Nessa ke kamar Nara dan membujuk Bunda untuk keluar dan memberikan Gavin kepastian walaupun semuanya terkesan buru-buru dan begitu dadakan.
Sementara di ruang tempat pesta tadi berlangsung, kini tinggallah Gavin, Helen, Kiki, Fahmi, dan ayah Irwan. Sedangkan anak-anak, karena pestanya sudah berakhir, Kiki memperbolehkan mereka pulang, tidak lupa dengan bingkisan sebagai tanda terima kasih.
__ADS_1
Gavin maju, melangkah mendekat ke arah sofa yang di duduki oleh Fahmi dan Irwan. Dengan lemas Gavin duduk di hadapan mereka, terlihat dari wajahnya ada rasa gugup yang melanda, apalagi saat melihat tatapan mata Fahmi dan Irwan yang mengintimidasi.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Fahmi melipat tangannya di depan dada, satu kaki di angkat bertumpu pada kaki lainnya. Tidak berbeda dengan Irwan, ayah dan anak itu terlihat kompak dengan gaya yang sama persis. Kecuali umur.
Gavin menghela napas. "Maaf, kalau aku tidak memberitahu kalian tentang rencanaku hari ini. Aku pun menyiapkan hal ini baru dua hari yang lalu, itupun sampai kebingungan," ucapnya merasa bersalah.
"Jadi ... " belum selesai Fahmi bicara, Gavin sudah memotongnya.
"Jadi, aku ingin meminta izin dari kalian berdua untuk melamar Nara, walaupun ini terkesan sangat dadakan."
"Bagaimana dengan Jovankan?" kali ini Irwan yang bicara.
"Kalian tenang saja, perceraianku dengan Jovankan berjalan lancar, tinggal menunggu keputusan lalu kami akan resmi bercerai. Tidak akan lama!"
"Apa kamu mencintai Nara?" Gavin menelan ludah, perkataan Fahmi sudah terasa seperti interogasi pelaku kriminal.
"Alasan aku menikah dengan Nara bukan karena rasa bersalah atau yang lain, karena saat ini prioritasku adalah anak-anak, mereka yang lebih membutuhkan status. Aku ayahnya, dan aku adalah wali mereka," ucap Gavin dengan yakin.
"Aku tak butuh janjimu, bisa saja suatu saat kamu akan mencampakkan Nara."
Gavin menggeleng dengan cepat, "Aku tak akan pernah mencampakkan Nara apalagi menceraikannya. Cukup aku menikah hanya dua kali saja, bercerai juga satu kali saja, aku tak mau kalau di cap sebagai laki-laki yang buruk karena pernah menikah dua kali dan bercerai juga dua kali!" (Bagi Gavin ya, hehe)
"Kamu yakin?" tanya Fahmi yang masih merasa ragu, Gavin mengangguk cepat.
"Kalian tenang saja, selama ada aku Nara nggak akan bisa diapa-apain oleh Gavin. Sekalinya Nara mengeluarkan air mata walaupun cuma satu tetes, aku yang akan menghukum Gavin." Helen ikut bicara, beliau sudah duduk di sebelah Gavin, Helen berucap sambil mengangkat tangannya dan mempraktikkan bagaimana dia akan mencubit Gavin.
"Sebenarnya aku masih ragu, tapi aku juga merasa Nara memang harus sudah memiliki pasangan. Kasihan dia, selama lima tahun harus mengurus anak sendiri tanpa suami," Irwan mengembuskan napas.
__ADS_1
Di sisi lain, Gavin merasa ucapan calon mertuanya ini menusuk tepat di jantung, cakit. Padahal sebenarnya lebih kejam ayah Irwan, tega mencampakkan anaknya selama 25 tahun. Tak terbayang bagaimana perasaan Nara saat yang dia tahu bahwa dia tak punya keluarga, padahal dia masih punya bahkan dari keluarga berada.
Tak berapa lama, terdengar teriakan Nessa, gadis kecil itu berlari sambil loncat-loncat senang. Di belakangnya ada Nara yang berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya. Tangannya saling meremas.
"Yeyy ... Bunda mau nikah sama Ayahh ... " teriaknya begitu bahagia, Gavin menoleh, mencoba mengerti ucapan putrinya. Kalau dipikirkan, kata-kata Nessa seperti Nara sudah menerima lamarannya, tapi entahlah.
"Nara sayang ... Gimana? Kamu terima lamaran anak Tante, nggak?" tanya Helen setelah Nara duduk, ia masih menundukkan kepalanya.
"Akuu ... "
"Kamu tenang aja, Ra. Kalau Gavin berani bikin kamu nangis, Tante bakal potong burungnya sekali lagi biar kapok!!" jelas saja ucapan Helen membuat seisi rumah melotot kaget, kecuali dua orang anak yang usianya baru genap lima tahun, mereka biasa saja karena tak mengerti dengan ucapan orang dewasa.
Semua orang menelan ludahnya kasar, ancaman Helen cukup mengerikan apalagi bagi Gavin. Tatapannya mengarahkan ke bawah. Di sunat lagi?"
.
.
.
bersambung
hayooo... Kira-kira jawaban Nara apa nih?
makasih ya yang udah mau mampir, huhuhhu, maapin soal update yang gk bisa tiap hari. Dunia nyata cukup menguras tenaga, di tambah otak kadang ngeblank, gak bisa mikir. 😭🤧🤧
lop yu All😘 makasih atas dukungannya selama ini
__ADS_1