
Jemari tangan itu saling bertaut, keringat dingin mengucur dari sela-sela jari. Nara menatap wajahnya di cermin, gugup melanda dan perbedaan begitu terlihat dengan memakai make up tebal ini.
“Aduhhh ... Cantiknya calon mantu!” celetuk Helen, menatap kagum ke arah Nara yang hanya dibalas senyuman malu.
Ia pun tak menyangka bisa secantik ini. Padahal sebenarnya ia tak begitu menyukai make up. Kebaya putih, dan perhiasan di atas kepalanya ternyata cukup berat.
“Anak-anak mana, Ta-- Ma?” tanya Nara heran, pasalnya sejak lengannya di tarik Helen, Nara tak lagi melihat Nessa dan Nevan. Padahal kedua anaknya, ayah dan kakaknya ada di belakangnya, tapi ia tak sadar kapan mereka menghilang.
“Mereka sudah siap! Kita beda ruangan jadi kamu nggak lihat. Tapi tenang aja, anak-anak sekarang pasti udah nunggu di pelaminan,” kata Helen.
Pelaminan? Sungguh tak pernah Nara bayangkan akan adanya hari ini. “Kapan acaranya di mulai?”
Helen melihat jam di pergelangan tangannya, "Harusnya sekarang sudah di mulai," Nara melotot kaget.
"Sudah di mulai? Kenapa aku masih di sini?"
"Tenang Nara ... kita keluar kalau sudah di panggil."
Tak berselang lama ketukan pintu terdengar, Helen langsung berjalan dan membuka. “Bundaaa ... ” dua anak kecil berlari, Nara menoleh dan wajahnya berubah senang melihat kedatangan dua malaikat kecilnya.
“Bunda kita keluar sekarang!” kata Nessa.
"Sekarang?" Nara lagi-lagi terkejut, lalu ia menoleh ke arah jam baker di atas meja rias, sekarang tepat pukul delapan pagi.
“Udah lha Ra!! Kamu kebanyakan mikir ... ” ucap Kiki yang datang tiba-tiba.
“Kamu dari mana aja?”
"Hehehe ... Aku lupa tadi, soalnya dari liat dekorasi si pelaminan. Beuhhh ... bagus banget Raa! Aku jadi pengen nikah," ucap Kiki dengan nada yang mendramatis.
Nara memutar bola mata malas, karena melihat dekorasi jadi lupa dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
“Bundaa ... Ayoo udah di tunggu ayahh," rengek Nessa, Nara pun tersenyum. Bisa-bisanya ia hampir melupakan hal penting ini.
Helen dan Kiki menuntun Nara berjalan, sedangkan kedua anaknya sudah jalan lebih dulu dengan Nessa membawa buket bunga yang akan di lempar nanti. Di belakangnya juga ada pihak MUA yang ikut.
Untung saja jaraknya tidak jauh, Nara, menatap kagum seluruh sisi ballroom, seperti kata Kiki, sangat indah sampai membuat Nara merasa ini hanya mimpi belaka.
“Ma ... Bukankah sudah sepakat untuk biasa-biasa saja? Kenapa sekarang jadi mewah begini?”
“Ini permintaan Gavin, Mamah sih nurut aja,” Helen terkekeh.
“Tuh lihat! Calon suamimu kayaknya udah nggak sabar nih pengen cepet halalin kamu.”
Spontan Nara menoleh ke arah Gavin, tiba-tiba saja pandangan mata mereka beradu, saling menatap kagum satu sama lain. Nara baru menyadari kalau Gavin itu tampan, dan baru kali ini ia melihat laki-laki sebagai seorang pria dewasa.
Gavin tak berkedip saat melihat Nara, wanita yang memakai kebaya putih dengan hiasan di kepalanya, riasan wajah yang membuat wajahnya semakin berbeda terkesan bertambah cantik.
Debaran jantung yang cepat membuat Gavin tersadar, ia memutuskan pandangan begitu juga Nara. Setelah di senggol tangannya oleh Kiki, Nara, jadi salah tingkah.
Nara melotot kesal, ia mencubit lengan Kiki sampai membuat Kiki meringis. Helen segera melerai, jika tidak maka ijab kabul tidak akan di laksanakan.
Nara di bawa menuju kursi di sebelah Gavin. Dengan hati-hati ia duduk, kepalanya sedikit menunduk tak berani menoleh ke samping karena gugup.
Acara di mulai dengan instruksi dari penghulu, jabatan tangan antara Gavin dan calon mertuanya sudah di lakukan.
"Saudara Gavinio Algibran Mahesa bin Aditya Mahesa saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Anara Meisha Qirani dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan uang senilai 250 juta di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Anara Meisha Qirani binti Irwan saputra dengan maskawin tersebut tunai!" ucap Gavin lantang tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Semuanya mengucapkan syukur dan doa. "Sekarang bisa di cium tangan suaminya, suaminya juga boleh ya cium kening istrinya. Tapi cukup kening saja, jangan kemana-mana ... " ucap penghulu sedikit bercanda.
Pipi Nara bersemu merah, ia mengangkat kepalanya dan mengulurkan tangan. Mencium tangan suaminya untuk pertama kalinya. Debaran jantung semakin cepat di antara keduanya.
__ADS_1
Kemudian gantian Gavin, dengan perlahan ia mencium kening istrinya, untuk pertama kalinya. Nara memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut bibir itu di keningnya. Hanya sebentar, tapi sangat dalam.
"Sudah cukup ... Nanti bisa di lanjut di dalam kamar, sekarang waktunya menikmati pesta ... " kata Irwan dengan nada menggoda.
Semuanya tertawa senang ketika menjahili pengantin baru dengan ucapan-ucapan. Acara berlanjut sampai sore hari, para tamu yang hadir cukup banyak sampai membuat kaki Nara pegal akibat heels yang di kenakan.
"Kalau pegal duduk saja ... " ucap Gavin canggung, kalimat pertama yang keluar setelah resmi jadi pasangan suami istri.
"Ah ya!" Nara segera duduk, tangannya memijit kakinya yang pegal juga sakit. Beruntung para tamu sudah banyak yang pulang dan kini kebanyakan berasal dari keluarga satu sama lain.
Malam tiba, acara sudah selesai. Semua sudah duduk di meja makan menikmati hidangan makan malam.
“Anak-anak nanti tidurnya sama Nenek saja yaa ...” kata Helen ketika makan malam masih berlangsung.
“Nggak mau ... Maunya tidur sama Bunda sama Ayah," tolak Nessa.
"Ehh ... Tapi kan kalian belum pernah tidur sama Nenek, sekarang aja mumpung kita lagi bareng-bareng. Bunda sama Ayah mau tidur sendiri, nanti kalau kalian ikut kasurnya nggak muat dong ... "
Nessa tampak merenung memikirkan ucapan neneknya, lalu ia mengangguk setuju.
"Iya deh ... biar Nessa tidur sama Nenek aja."
.
.
.
bersambung
maaf ya temen-temen, baru up. bikin chapter ini butuh waktu berhari-hari padahal pendek 😭 aku bingung mau gimana awalnya, maklumin aku masih jomlo🙂💅
__ADS_1
makasih yang udah mau setia sama novel receh ini😔