
Mendapat kejutan tiba-tiba dari Nara, sebenarnya masih membuat Gavin tidak percaya. Tapi, melihat wajah Nara yang terlihat panik dan khawatir, Gavin tahu kalau Nara tidak mungkin akan berbohong bila menyangkut anak.
Gavin sebenarnya masih ingin menyelidiki, tapi saat Nara bilang kalau Nevan sedang sakit leukemia membuatnya mengurungkan niat lebih dulu. Saat ini ia ingin melihat kondisi anaknya. Ya, Nevan ternyata adalah anaknya. Gavin masih kurang percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Nara.
Tapi, Gavin harus tetap menyelidiki. Kemarin sempat meminta Rafi untuk berhenti saja, namun tidak ada yang menduganya kalau Nara yang datang sendiri untuk memberi tahu.
Gavin akan menyelidiki ulang kejadian saat itu, dan kenapa sampai sekarang Gavin sama sekali tidak bisa melacak siapa perempuan yang tidak sengaja ia tiduri, dan ternyata perempuan itu adalah Nara. Wanita yang masih berada satu kota dengannya.
Gavin mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya, lalu langsung mengajak Nara untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Nara menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan keluar dengan langkah cepat, tanpa memperdulikan sekretaris dan asistennya yang sedang mengobrol.
"Tuan!!" Rafi memanggil Gavin, namun pria itu tak menoleh walaupun sebentar.
Padahal biasanya, jika Gavin pergi makan dirinya tidak akan di tinggal dan selalu di bawa. Tapi kali ini, Gavin seperti lupa dengan adanya Rafi, asisten Gavin. Membuat Rafi heran sendiri, apalagi melihat Gavin yang sepertinya sedang terburu-buru.
_________
Sampai di tempat parkir, Gavin langsung mengambil mobilnya dan menghampiri Nara yang sedang menunggu.
"Masuk!" Nara menurut, ia memasuki mobil Gavin dan duduk di kursi depan.
Keduanya hanya diam dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya. Mobil terasa hening dan dingin. Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sampai membuat Nara harus berpegangan karena takut.
Beruntung jalanan tidak macet, dan perjalanan dari kantor Gavin ke rumah sakit tempat Nevan di rawat hanya membutuhkan waktu dua puluh menit.
Mereka berdua berjalan dengan langkah terburu-buru, Nara langsung membawa Gavin menuju tempat dokter yang merawat Nevan. Ia ingin Gavin langsung melakukan tes agar bisa mendapatkan hasil secepatnya.
Nara tidak peduli apakah Gavin siap atau tidak, asalkan putranya bisa di obati maka Nara sudah bisa merasa tenang.
__ADS_1
"Dok, apakah bisa melakukan tes sekarang? Saya sudah membawa ayah Nevan, mungkin nanti hasilnya cocok," ucap Nara pada dokter.
"Bisa, mari ikuti saya." Dokter berdiri dari duduknya, dia berjalan lebih dulu dan menyuruh Gavin untuk mengikutinya.
"Mas, maaf kalau bikin repot. Tapi untuk kali ini aku sangat butuh bantuan. Kalau gitu aku pamit mau ke tempat Nevan, maaf nggak bisa ikut nemenin."
Nara langsung berbalik, tanpa menunggu jawaban dari Gavin, Nara pergi menuju ruang perawatan putranya.
Gavin masih menatap punggung Nara yang sudah mulai menjauh, ia tidak tahu harus berkata apa. Sampai ia tersadar, barulah Gavin pergi menyusul dokter yang juga sudah jauh.
________
Saat Nara memasuki ruang perawatan Nevan, Nara tidak melihat adanya Nessa dan Fahmi. Nevan hanya sendirian di sini.
Anak itu sedang duduk bersandar pada bantal dan matanya melihat ke arah luar jendela. Sebelum melanjutkan langkahnya, Nara menarik napas dalam-dalam lebih dulu dan menghembuskannya perlahan.
Sejujurnya, melihat keadaan Nevan yang seperti ini membuat Nara merasa selalu ingin menangis. Tapi ia tidak bisa menangis di hadapan anaknya. Nara harus berusaha agar air matanya tidak keluar saat di hadapan Nevan.
"Nevan... " suara lembut Nara membuat Nevan menolehkan kepalanya.
Wajah yang dulunya tampan kini terlihat pucat. Tubuh yang kuat dan selalu aktif kini hanya bisa terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Sebuah senyuman terbit di wajah Nevan, sungguh pemandangan yang langka untuk di lihat. Nevan yang selalu bersikap dingin tanpa senyuman, kini ia memperlihatkan sebuah senyuman yang indah di antara wajahnya yang pucat.
Nara berjalan mendekati Nevan, ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. Nara menelusuri seluruh ruangan pasien, tapi ia tidak menemukan adanya Fahmi dan Nessa.
"Nevan sendirian? Nessa kemana? Om Fahmi juga nggak ada." Pertanyaan beruntun Nara lontarkan. Nevan sedikit terkekeh, ia tahu kalau saat ini bunda nya tengah kesal karena ia hanya sendirian di sini.
"Iya, Nevan sendiri." Jawab anak itu yang masih melihat wajah Nara.
"Mereka kemana?" tanya Nara sedikit kesal, bisa-bisanya Fahmi meninggalkan Nevan sendirian di tempat ini.
__ADS_1
Pasti yang membuat Fahmi mau meninggalkan Nevan sendirian adalah Nessa. Anak perempuannya itu sangat tidak mengerti situasi. Entah menurun dari siapa sifat seperti itu, Nara sendiri tidak tahu.
"Tadi om Fahmi bilang pengen beli makanan. Nessa udah laper, jadi om Fahmi pergi sama Nessa."
Ah, benar 'kan. Jika bukan karena Nessa, maka mana mungkin Fahmi mau meninggalkan Nevan sendirian.
"Tapi kenapa Nevan di tinggal sendiri?" Harusnya ada perawat yang menjaga Nevan, tapi di sini tidak ada satupun perawat yang menemani Nevan.
"Nevan emang pengen sendiri, Bunda. Nevan nggak mau di temenin sama orang lain."
Ah, ternyata sifat Nevan tidak ada yang berubah. Anak ini memang tidak mau dekat dengan orang asing yang sama sekali belum di kenal. Pantas saja tidak ada perawat di sini.
Siang itu, di ruangan pasien, Nara dan Nevan bercerita panjang lebar. Pertama kali bagi Nara bisa mendengar Nevan berbicara banyak padanya. Bahkan Nevan bicara jujur pada Nara bahwa saat ini tubuhnya terasa sakit serta kepalanya berdenyut dan perutnya terasa mual.
Nara lega, Nevan mau mengungkapkan semua rasa sakit yang kini ia rasakan. Mungkin jika hanya ada dirinya dan Nevan, maka Nevan akan lebih terbuka dan tidak akan menyembunyikan apapun.
Tapi, Nara juga merasa sedih saat tahu kalau ternyata Nevan selalu merasa sakit beberapa hari ini. Nevan sangat pintar menyembunyikan semua itu sampai tidak bisa di lihat oleh siapapun kecuali dirinya sendiri yang merasakan.
"Apa sakit banget?"
"Iya, Bun. Sakit, tapi nggak terlalu sakit kayak kemarin. Yang ini juga, kapan di lepasnya, Bun? Nggak enak tau."
Nevan menunjuk ke arah pergelangan tangannya yang sedang di infus. Sudah dua hari tangannya di tusuk dengan jarum, Nevan merasa kurang nyaman juga terkadang terasa sakit.
"Kalau udah sembuh baru boleh di lepas. Sabar, ya." Nara meraih pergelangan tangan Nevan yang di infus, dia mengelusnya lalu mengecup dengan lembut.
Ceklek!
Suara pintu terbuka membuat obrolan antara Nevan dan Nara terhenti. Keduanya menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Nevan terkejut saat melihat siapa yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Om Gavin?"