Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tidur Sore


__ADS_3

Ketika pekerjaan yang banyak tapi di tinggal cuti selama hampir tiga hari, begitu mulai masuk kerja maka kepala akan terasa pening padahal hanya melihat dan belum di kerjakan.


Meja kerja penuh, di tumpuk banyaknya kertas yang sudah menggunung. Nara sampai memijit pelipisnya yang terasa pening karena sudah berjam-jam duduk di kursi meja kerja.


"Ndi, kamu nggak bilang, sih kalau kerjaan aku sebanyak ini ...," keluh Nara begitu ia berhenti sejenak, menyandarkan kepala pada kursi di duduki.


"Maaf, Mbak. Lagian aku nggak enak mau kasih tahu Mbak soal kerjaan pas tahu ternyata Mbak lagi nikah." Indi merasa bersalah.


"Masa iya, aku harus telepon Mbak pas masih pesta resepsi atau nggak sengaja telepon waktu Mbak sama mas Gavin lagi enak-enak di kamar. 'Kan sama aja aku mengganggu," lanjut Indi.


Nara melotot tajam, ada kalimat Indi yang membuatnya risih. "Apaan sih, kamu!" Nara kesal.


"Hehehe ... kerjaan emang dari dua hari lalu tiba-tiba numpuk, Mbak. Aku nggak bisa handle semuanya. Pesanan baju nambah, efek mau puasa mungkin yah, banyak yang pengen duluan pesan baju buat lebaran."


Nara mengangguk setuju, ia kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun kepala pening dan mata mengantuk. Sekarang sudah pukul dua siang, beberapa jam lagi waktu kerja habis dan Nara bisa pulang.


Nara pergi kerja hari ini karena ia sudah tidak punya pekerjaan lain di rumah, bahkan jika Gavin tidak menanyakan tentang butiknya tadi pagi mungkin Nara benar-benar lupa kalau ia mempunyai usaha.


Nara datang sendiri, biasanya anak-anak akan ikut tapi tidak kali ini. Mereka Nara titipkan di rumah dan mama mertua yang akan menjaga. Ada Bina dan Ghiska juga di rumah.


Selang lima menit, tiba-tiba pintu ruang kerja Nara terbuka dan muncullah sosok putri kecil Nara beserta pengasuhnya, yaitu Bina.


"Kalian?" Nara terkejut.


"Supres," ucap Nessa.


"Surprise," ralat Bina menjitak kecil kening Nessa.


"Aduh, atit!" Nessa mengerucutkan bibir sambil mengusap kening. Padahal jitakan tadi tidak keras.


"idih itit," Bina memutar bola matanya, lalu ia meninggalkan Nessa yang masih berdiri di depan pintu dan berjalan ke arah sofa.


Sedangkan Nara geleng-geleng kepala melihat mereka. "Kalian ke sini naik apa?"


"Naik mobil, tadi di antar supir," kata Bina.


"salah! Tapi naik sandal," Nessa meralat tapi lebih salah.


"Naik kaki," Bina malah melemparkan tissue yang sudah hampir habis ke arah Nessa.


"Ih, Tante nakal. Yang bener itu naik tanah."


Ruangan yang tadinya senyap kini berubah ricuh hanya karena kedatangan dua orang yang tidak bisa diam. Nara dan Indi hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Indi, mendingan kamu beli camilan. Kalau kita kerja sambil ngobrol tapi nggak ada makanan tuh kurang."


Indi yang sedang duduk itu segera bangkit, dengan semangat ia mengangguk. "Buat kalian aku bakal turutin perintah, asal dapat jatah ongkos kirim."


"Iya, nggak mungkin aku suruh kamu kalau kamu nggak di kasih jatah."


****


"Mbak, Nara."


"Hmm?" sahut Nara, setelah Indi pergi, Nessa dan Bina masih adu mulut. Tapi, selang dua menit keduanya diam, mungkin karena lelah.


"Mbak kok nggak bilang kalau punya butik?" tanya Bina.


"Kamu nggak nanya," jawab Nara santai.


"Eh, iya juga ya. Aku baru pertama kali dateng, pas mau masuk pembelinya banyak di bawah. Aku juga sempet liat-liat baju dan bagus banget, Mbak," Bina membayangkan sebagus apa pakaian yang ia lihat di bawah tadi.


"Kalau kamu mau boleh ambil, tapi maksimal tiga ya."


Bina kaget, ia memandang Nara dengan tatapan berbinar. "Beneran, Mbak?"


Nara mengangguk. "Iya, sekalian ambil buat Ghiska juga, aku sampai heran kok jarang liat dia pergi keluar."


Kiki dan Nara sudah jarang bertemu, pertemuan terakhir mereka saat sedang sarapan di hotel. Nara pun lupa untuk menelepon gadis jomlo itu.


"Lain kali kamu ajak aja ke sini, siapa tahu suka," kata Nara.


Bina mengangguk, kemudian ia keluar dari ruangan di ikuti oleh Nessa, Bina semangat memilih tiga pakaian gratis dari Nara.


Setengah jam kemudian Indi sudah datang membawa beberapa kantong plastik berukuran besar yang isinya makanan ringan. Dia bawa ke dalam ruangan Nara. Begitu masuk, Bina pun sudah selesai memilih, kedua matanya berbinar melihat jajanan ada di depan mata, begitu juga dengan Nessa.


"Mbak, aku boleh minta satu lagi?" ucap Bina tiba-tiba, yang dia maksud adalah pakaiannya.


Nara menyipit, ia menggeleng. "Kalau kamu minta lagi bisa bangkrut aku, kamu 'kan banyak uang, bisa beli di sini dan aku kasih diskon deh, khusus buat kamu sama Ghiska kalau dia mau," ucapnya.


Bina menunduk kecewa, ia telan keripik yang ada di mulutnya. "Tapi beneran di kasih diskon?"


"Iya, asal kamu bisa bawa Ghiska ke sini. Satu setel diskon 20%, tapi kalau untuk dua orang dan bisa beli enam setel, masing-masing dari kalian tiga setel, aku kasih diskon 50%."


Mendengar itu Bina kembali berbinar. "Aku siap mengorbankan tenaga biar bisa bawa Ghiska ke sini," ucapnya penuh semangat.


Pekerjaan Nara sebenarnya masih banyak, tapi hari semakin sore dan sudah waktunya mereka pulang. Tepat pukul lima sore para karyawan sudah pulang, hanya tinggal dirinya, Bina dan Nessa.

__ADS_1


"Bun, nggak capek apa kerja seharian?" Nessa menguap, matanya sudah berat ingin di pejamkan. Begitu juga dengan Bina, perut kenyang mata ngantuk, itu yang terjadi pada mereka berdua.


Makanan ringan yang di beli Indi sudah habis tidak tersisa. Padahal banyak yang di beli dan ternyata mampu di habiskan oleh dua orang yang seperti sedang kelaparan.


"Sebentar lagi, nanggung," kata Nara, tapi perlahan matanya juga ikut mengantuk.


Jika saja tidak ada suara pintu terbuka, maka Nara benar-benar akan tertidur. Nara tersentak begitu mendengar suara decitan pintu. Ia pikir adalah pencuri, rupanya yang datang adalah sang pencuri hati, Gavin suami Nara.


"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Nara heran.


"Aku tadi dapat telepon dari mamah, katanya kamu sama anak-anak belum pulang, ya sudah dari kantor aku langsung mampir ke sini, kamu juga kenapa nggak pulang? Ini 'kan sudah hampir malam."


Gavin mendekati Nara, ia menatap Nara lalu memalingkan wajah, di lihatnya putri cantik sedang tertidur. Kemudian berbalik lagi, dengan cepat Gavin mencium kening Nara, membuat Nara tersentak.


"Mas, masih ada anak-anak," protes Nara.


"Biarin, mereka juga tidur," Gavin angkat bahu.


"Ayah!"


Nara dan Gavin sama-sama menoleh, is melihat Nessa sedang mengigau, keduanya terkekeh pelan. "Aku pikir dia bangun," ucap Gavin.


"Sama aku juga," balas Nara.


"Ayamnya di ambil dede," lagi Nessa bergumam kecil, Nara dan Gavin hampir saja ketawa tapi masih bisa di tahan.


"Nevan mana, Mas?"


"Nevan pengen pulang dulu katanya, jadi aku minta supir antar saja."


Nara ber-oh, terjadi hening selama beberapa saat. Sampai Gavin merasa sedikit pegal karena sudah berdiri terlalu lama.


"Kita pulang sekarang atau nanti saja?" Gavin bertanya.


"Kalau kita pulang sekarang, mereka berdua kasihan, lagi tidur tiba-tiba di bangunin, ya udah, mendingan kita ikut tidur sebentar sampai mereka bangun," jawab Nara.


Gavin mengangguk setuju. "Tapi, kita tidur di mana?" tanyanya.


"Di kamar."


"Emang di sini ada kamar?" Gavin terkejut, ia baru tahu kalau ternyata di sini ada kamar, tak pernah ia melihatnya.


"Sebenarnya ada, cuma aku sendiri lupa." Nara nyengir sambil menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya dua orang dewasa itu pergi ke kamar yang ada di lantai atas tapi di bagian lain ruang kerja Nara, mereka tidur di kasur yang empuk sementara dua orang gadis itu tertidur di atas karpet bulu yang tidak se-empuk kasur yang Nara dan Gavin tempati.


__ADS_2