Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Tolong Anakmu!


__ADS_3

Nara menerima selembar kertas bertuliskan alamat kantor Gavin, dengan harapan kalau setelah ini ia bisa bertemu dengan Gavin.


Nara berterima kasih pada satpam yang barusan ia ajak bicara, sekaligus pamit pergi.


"Terimakasih ya, Pak. Kalau gitu saya permisi."


"Iya, Mbak. Sama-sama."


Nara berjalan sedikit menjauh, ia mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang di bawa lalu mencari taksi online lewat aplikasi. Di tempat ini jarang ada taksi yang lewat, jadi Nara harus sabar menunggu.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya taksi online datang. Nara meminta supir untuk mengantarkan dirinya ke tempat alamat yang ia beri pada supir. Perjalanan dari rumah tante Helen menuju kantor Gavin hanya membutuhkan waktu dua puluh lima menit.


Setelah membayar, Nara segera keluar dari mobil. Sebelum kembali melangkah, ia melihat gedung tinggi tempat Gavin bekerja. Nara tidak menyangka kalau Gavin memiliki perusahaan yang sebesar ini.


Kakinya melangkah, memasuki perusahaan yang di dalamnya sangat megah, banyak karyawan yang berlalu lalang. Nara berjalan menuju meja resepsionis. Ia ingin bertanya bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Gavin.


"Apakah anda sudah membuat janji dengan tuan Gavin?" tanya salah satu wanita yang sedang Nara ajak bicara.


Ternyata bertemu dengan Gavin yang merupakan CEO dari perusahaan ini tidaklah mudah. Bahkan hanya untuk bertemu sebentar harus membuat janji temu terlebih dahulu. Nara menjadi bingung dan tidak tahu lagi bagaimana cara agar bisa bertemu dengan Gavin.


Saat ini, Ia sedang membutuhkan pertolongan pria itu secepatnya. Jika tidak, Nara takut kalau putranya akan bertambah sakit. Tidak, Nara tidak mau jika Nevan bertambah sakit. Bagaimanapun caranya, hari ini Nara harus bisa menemui pria itu.


"Mbak, saya mohon izinin saya ketemu sama Mas Gavin. Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan beliau." Nara memohon sambil mengatupkan kedua tangannya, tapi sepertinya memelas pun tidak berguna.


"Maaf, tapi jika anda tidak membuat janji dengan beliau lebih dulu maka anda tidak di izinkan untuk bertemu dengan beliau. Jadi anda bisa menghubungi beliau untuk membuat janji."


Jika saja Ia benar-benar bisa menghubungi Gavin maka Nara tidak akan sesulit ini hanya untuk bertemu pria itu. Tapi sayangnya Nara tidak memiliki nomor ponsel Gavin. Mereka tidak sedekat itu untuk bertukar nomor ponsel.


Nara mengacak rambutnya frustasi, Ia sungguh bingung dan tidak tahu lagi bagaimana cara agar bisa bertemu dengan Gavin. Sampai suara seseorang membuat perhatian Nara teralihkan.


"Ada apa ini?" tanya pria asing yang wajahnya sedikit familiar bagi Nara.


"Maaf, Pak Rafi. Wanita ini ingin bertemu dengan pak Gavin tapi dia belum membuat janji temu dengan beliau," jawab wanita resepsionis itu sembari membungkuk hormat.


Ah, melihat wajah itu Nara baru ingat kalau pria itu adalah asisten Gavin yang pernah datang bersama Gavin ke panti asuhan. Berarti Nara bisa bertemu dengan Gavin hari ini lewat asistennya. Semoga saja asisten Gavin mau membantu, harap Nara.


Rafi, asisten Gavin begitu terkejut saat melihat kedatangan Nara. Ia masih ingat dengan jelas wajah Nara.


"Ah, kamu Nara 'kan? yang dari panti asuhan itu." Tebak Rafi.

__ADS_1


Nara mengangguk cepat, Ia senang saat tahu kalau asisten Gavin tidak melupakan wajahnya dan ingat dengan namanya.


"Ada apa kamu kemari?"


"Saya ingin bertemu dengan mas Gavin. Ada hal penting yang harus saya sampaikan dengan beliau. Tolong saya," ucap Nara dengan wajah memelas, selain cara terakhir ini Nara tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa bertemu dengan Gavin.


"Anda bisa bicara dengan saya, nanti akan saya sampaikan dengan beliau."


"Tidak bisa!" dengan cepat Nara menolaknya. Hal yang ingin di bahas merupakan masalah pribadi dan Nara tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya.


"Saya harus menyampaikan langsung dengan beliau, ini menyangkut nyawa anak saya. Saya mohon, izinin saya ketemu sama mas Gavin."


Melihat wajah Nara yang memohon seperti itu membuat Rafi menjadi tidak tega. Tapi yang membuat heran adalah saat Nara bilang kalau hal yang ingin di sampaikan menyangkut nyawa anaknya. Apa maksudnya??


Tapi sebelum itu, Rafi akan mengizinkan Nara untuk bertemu dengan Gavin. "Baik, mari saya antar anda ke ruangan beliau."


Tanpa menjawab perkataan Rafi, Nara langsung mengikuti kemana kaki Rafi melangkah. Mereka menaiki lift khusus untuk para pegawai dengan jabatan tinggi. Nara tahu karena sudah ada tulisan di depan lift tadi.


Saat sudah sampai, pintu lift terbuka. Rafi membawa Nara menuju ruangan yang bertuliskan ruang CEO. Di depan ruangan itu ada sebuah meja yang di isi oleh sekretaris.


Sekretaris wanita yang sedang bekerja langsung bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Rafi. wanita itu membungkuk hormat.


Nara masuk ke ruangan setelah mendapat persetujuan dari pemilik ruangan tersebut. Nara menutup pintu dan menguncinya. Saat itu Nara melihat Gavin masih sibuk dengan berkas-berkas yang di pegang nya. dan tidak menyadari kalau Nara lah yang datang.


Nara berjalan perlahan mendekati Gavin, dadanya berdegup dengan kencang. Ia masih sedikit takut untuk memberi tahu kebenaran ini pada Gavin.


"Mas Gavin."


Suara dari Nara sontak membuat Gavin mematung. Ia langsung mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Dan berapa terkejutnya Ia melihat kalau benar Nara lah yang datang.


Dengan refleks Gavin berdiri dari duduknya, "ka-- kamu ada apa kemari?"


"Ah, apa aku mengganggu?" tanya Nara dengan nada gugup.


"Tidak, katakan, ada apa kemari." Gavin kembali duduk di tempatnya. Ia melihat Nara yang mulai meneteskan air mata. Membuat Gavin heran sendiri, keningnya berkerut.


"Mas, tolong anak saya... " tenggorokan Nara terasa tercekat, udara di sekelilingnya tiba-tiba berkurang. Napasnya tertahan, karena terlalu takut untuk bicara.


Lagi-lagi Gavin di buat heran, kenapa Nara meminta bantuan darinya?

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa?" rasa penasaran Gavin tiba-tiba muncul.


"Mas, tolong anak saya. Nevan sakit dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan Nevan."


deg!


Gavin terpaku di tempat, ia masih mencerna ucapan Nara yang belum bisa sepenuhnya ia pahami.


"A-- apa maksudmu? Nevan sakit? lalu, kenapa hanya aku yang bisa menyelamatkannya?"


"Iya, cuma kamu yang bisa. Karena dia anakmu!!" Sungguh, mengucapkan kata 'anakmu' terasa sangat sulit. Air matanya mengalir kembali, kedua tangannya terkepal menahan sesak.


deg!!


"A-- apa sebenarnya maksudmu? Nevan anakku? bagaimana mungkin?!!" tanya Gavin tidak percaya dengan apa yang di dengar.


suasana ruangan tiba-tiba menjadi hening, udaranya terasa dingin seakan mampu menusuk ke kulit.


"Iya, dia anakmu. Kamu yang memberikannya padaku lima tahun lalu. Saat aku di culik, tidakkah kamu ingat?!!"


Nara menatap tajam Gavin dengan air mata yang mengalir, lagi-lagi tanpa sengaja Nara kembali mengungkit masa lalunya.


Gavin mematung di tempat, terus mencerna semua ucapan yang terlontar dari mulut Nara. Otaknya tiba-tiba menjadi blank, kosong. Gavin masih kurang percaya kalau Nevan adalah anaknya, bisa saja Nara sedang berbohong.


Tapi, apakah benar kalau kejadian lima tahun lalu membuatnya memiliki anak? Dan gadis yang dia perkosa saat itu adalah Nara??


"Apa yang kamu katakan itu benar? Kamu tidak berbohong bukan?" kepala Gavin menunduk seraya memejamkan kedua matanya, dia masih tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.


"Buat apa aku bohong!!! Sekarang nyawa Nevan lebih penting, nggak ada gunanya aku bohong sana kamu! Kalau bukan karena aku butuh bantuan, nggak mungkin aku bilang ini sama kamu!!!"


Nara memalingkan wajahnya enggan menatap Gavin. Akhirnya, dia memberi tahu Gavin tentang kebenaran yang sebenarnya belum ingin Nara utarakan. Tapi, saat ini Nevan sangat membutuhkan bantuan.


Nara tidak ingin egois, dan membiarkan putranya terus merasakan sakit di usianya yang masih balita.


Tidak ada satupun yang bicara di ruang kerja Gavin, keduanya masih diam tanpa berkata. Nara masih mencoba menahan air matanya agar tidak lagi keluar.


"Memangnya Nevan sakit apa sampai kamu datang tiba-tiba dan memberi tahu ku tentang ini?" cairan bening bening di sudut mata Gavin hampir menetes. Ia masih tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.


"Ne-- Nevan, dia kena leukemia. Nevan butuh pendonor sumsum tulang belakang, tapi aku nggak bisa jadi pendonornya. Cuma kamu yang bisa, jadi tolongin Nevan. Dia masih kecil, aku nggak kuat liat dia nahan sakit." Nara menutup wajahnya yang menangis.

__ADS_1


"Apa?!!!"


__ADS_2