Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Weekend


__ADS_3

Gavin melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantor polisi, waktu untuk bicara dengan Jovanka sudah habis. Dan surat cerai belum juga di tanda tangani oleh Jovanka. Tapi Gavin akan memberikan waktu, agar Jovanka mau menandatangani surat itu tanpa paksaan.


Saat baru sampai di pintu, Gavin berpapasan Roby, ayah Jovanka sekaligus ayah mertua Gavin. Gavin menatap sekilas lalu membuang pandangan, melanjutkan langkahnya tanpa menyapa ayah mertua.


“Dasar tidak tahu diri!” ucap Roby langsung membuat Gavin menghentikan langkahnya.


Ia berbalik, menatap tajam pada Roby, "Kalian yang tidak tahu diri! Hanya demi sebuah warisan kalian mengorbankan Jovanka, membuat wanita itu menderita!"


"Itu adalah kemauan dia sendiri, maka kami dengan senang hati menurutinya. Menderita bagaimana? Bahkan dia sangat bahagia bisa menikah denganmu, hanya saja kamu yang tidak bisa menerima dia sehingga membuat dia tidak bahagia seperti keinginannya."


Gavin diam dengan tangan tangan yang mengepal. Ia pun berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kantor polisi. Ia sudah merasa muak dengan semua ini, ia ingin segera lepas dari keluarga Jovanka dan wanita itu sendiri.


.


.


.


Sudah beberapa hari berlalu, dan Gavin terus sibuk dengan kasus Jovanka dan perceraiannya. Sampai saat ini Jovanka tidak mau menandatangani surat itu. Tapi Gavin tetap menunggu.


Beberapa hari itu pula Gavin sering mengunjungi kedua anaknya, rasa lelah setelah bekerja selalu terbayar saat ia bisa bermain dengan Nessa dan Nevan. Sampai terbayang hal yang sangat tidak mungkin di benak Gavin, jika ia menikah dengan Nara, pasti ia bisa menemui kedua anaknya setiap hari bahkan tidur dengan mereka berdua setiap malam.


Tapi itu tidak mungkin untuk saat ini, dia saja belum bercerai dengan Jovanka. Sungguh otaknya sampai pusing memikirkan bagaimana caranya agar Jovanka mau menandatangani surat cerai itu.

__ADS_1


“Ayah, muka Ayah pucet, Ayah sakit?” tangan Nessa menyentuh dahi Gavin, tapi tidak panas.


Mereka sedang ada di rumah Gavin, hari ini hari minggu, dan tadi pagi Gavin terkejut saat membuka mata ia melihat kedua anaknya sedang duduk di samping kiri dan kanannya.


Kejutan di pagi hari, ternyata mamanya, Helen, yang membawa anak-anak ke rumah. Helen bilang kalau dia sudah izin dengan Nara dan Nara memperbolehkan. Gavin sungguh senang.


Hari libur yang biasanya ia habiskan di kantor tapi tidak hari ini. Tadi malam terlalu lelah sampai bangun kesiangan. Tapi rasa lelah itu hilang begitu saja, saat kedua anaknya ada di hadapannya. Mereka sarapan bersama, lalu bermain bersama.


"Kenapa Nara nggak ikut, Ma?" tanya Gavin tadi Saat sedang sarapan.


"Nara sibuk katanya, dia juga senang karena Mama datang dan mau ajak anak-anak main. Soalnya anak-anak nggak ada yang jagain, temennya yang namanya Kiki juga lagi pergi sama orang tuanya, terus si Fahmi masih ada urusan penting sama keluarganya juga."


"Ya udah, Mama bawa aja ke rumah, tapi asal nanti sore di pulangin, Nara khawatir kalau anak-anak nggak tidur sama dia. Mama iya-in aja," jelas Mama, Gavin hanya menganggukkan kepalanya.


.


.


Seharian ini, Gavin menghabiskan waktunya dengan bermain bersama kedua anaknya, pagi mereka di rumah dan siang mereka jalan-jalan. Pergi ke Mall untuk bermain permainan dan juga berbelanja.


Sekarang waktunya Gavin untuk mengantarkan kedua anaknya pulang ke rumah Nara. Sesampainya di rumah, ternyata Nara sudah menunggu di depan rumah, Nessa dan Nevan berlari menghampiri Nara setelah Gavin membuka pintu mobil.


"Kalian berdua seneng nggak hari ini?" tanya Nara sembari mengusap kepala anaknya.

__ADS_1


"Seneng banget, Bun. Ayah ngajakin kita jalan-jalan, main game di Mall sama shopping." Nessa memeluk kaki Nara, hari libur mereka sangat menyenangkan.


"Baguslah, ya udah, kalian masuk gihh, mandi terus ganti baju. Sebentar lagi Bunda masakin makanan."


Nessa dan Nevan mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam rumah untuk mandi seperti perintah Nara.


Setelah kedua anaknya benar-benar sudah masuk ke dalam kamar mereka, Nara masih berdiri di depan pintu, ia menunggu Gavin yang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa beberapa paperbag.


“Terimakasih sudah membiarkan anak-anak bersamaku hari ini,” kata Gavin sambil mengulurkan kedua tangannya, memberikan belanjaan Nessa dan Nevan kepada Nara.


“Aku yang harusnya bilang makasih, kamu udah mau jagain anak-anak hari ini. Aku beneran sibuk sampai lupa waktu, untung anak-anak nggak sama aku hari ini, kalau nggak pasti aku juga udah lupa sama mereka saking banyaknya kerjaan," Nara menerima paperbag itu.


"Ah, sama-sama. Kalau gitu saya pulang dulu, sudah hampir malam."


"Nggak mau mampir dulu?" tanya Nara.


"Ehm... Tidak perlu, aku harus pulang dan mandi. Rasanya gerah dan badanku agak lengket."


"Oh, baiklah ... "


Setelah itu Gavin pergi, Nara lalu masuk ke dalam rumah setelah mobil Gavin tidak terlihat lagi. Rasa marahnya pada Gavin saat penculikan kedua anaknya sudah tidak ada lagi.


Tapi ia masih bingung dengan perasaannya saat ini, hampir setiap hari bertemu dengan Gavin, ayah dari kedua anaknya, rasanya sedikit canggung.

__ADS_1


__ADS_2