Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Bukan Siapa-siapa


__ADS_3

“Oh ya, Ayah. Sebentar lagi kita ulang tahun,” celetuk Nessa.


“Ulang tahun?”


"Iya."


“Tanggal berapa?” Tangan Gavin terulur mengambil cake yang ada di atas meja, bodoamat dengan rasa kesalnya karena cake ini di pemberian dari laki-laki yang statusnya tetangga baru Nara.


Selain karena dia belum sarapan, Gavin juga tidak bisa menahan rasa penasaran dengan rasa cake-nya, karena coklat itu kesukaannya.


“Tanggal 12, Yah. Biasanya Bunda selalu buat pesta kecil-kecilan tiap tahun, kasih hadiah yang bagus-bagus. Tapi tahun ini, aku sama adek pengen Ayah yang kasih hadiah lebih bagus dari Bunda. Kalau kemarin kan selalu om Fahmi yang kasih, sekarang kami pengen Ayah yang kasih ... ” ucap Nessa tanpa sadar membuat Gavin berhenti mengunyah.


Rasa bersalah itu tiba-tiba muncul, terasa sesak di dada. Empat tahun melewatkan ulang tahun anak-anaknya. Perkataan Nessa langsung menusuk tepat ke jantung paru-paru tenggorokan. Nylekit!


“Emh ... Kalian tenang aja, Ayah bakal kasih hadiah yang spesial, lebih spesial dari hadiah Bunda kalian,” Gavin tersenyum menatap kedua anaknya, satu kunyahan terakhir cake langsung ia telan dengan susah payah, walaupun masih terasa lapar, ia jadi tidak berselera lagi.


"Bener yahh ... " Kedua mata Nessa sudah berbinar, Gavin mengangguk dengan tersenyum paksa.

__ADS_1


Sementara Nara, dia sejak tadi hanya diam. Ia pun sadar dengan perubahan raut wajah Gavin yang terlihat suram. Cake yang sedang di kunya tiba-tiba tidak ada rasa, hambar seperti perasaannya.


“Ehh ... Kalian sudah selesai belum makannya? Udah kesiangan ini, nanti kalian telat lagi ... ” Nara mencoba mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura melihat jam di pergelangan tangannya.


“Iyah, aku juga udah kenyang, cake-nya enak, nanti aku mau bilang sama om Joshua buat beliin cake kaya begini lagi ... ” belum selesai Nessa bicara, Gavin sudah memotong.


“Jangann...”


"Kenapa, Yah?" tanya Nessa, alisnya saling bertaut tanda bingung.


“Ehem ... Nanti Ayah aja yang beliin cake-nya. Ngga enak kalau minta sama tetangga baru. Sekalian Ayah juga mau beli buat makan di rumah, Ayah sama seperti kalian, suka rasa coklat.”


Nessa terlihat berpikir, sedangkan dua orang yang di bicarakan tiba-tiba tersedak air liur mereka sendiri. Ini kenapa pembahasannya jadi kemana-mana? Harus segera di hentikan, pikir Nara.


“Anak-anak, sebentar lagi kalian beneran bakal terlambat, Udah yuk, nanti lagi ngobrolnya. Bunda ke kamar dulu, ambil tas kalian ... ” Nara langsung berdiri dan pergi ke kamar anak-anak untuk mengambil tas sekolah mereka.


Setelah itu Nara mengantarkan anak-anak dan Gavin sampai depan pintu, baru saja keluar, orang yang membuat Gavin kesal tanpa alasan tiba-tiba muncul. Menyapa mereka bertiga.

__ADS_1


“Wahh ... Selamat pagi Nara," sapanya dari halaman rumah miliknya. Rumah Nara dan Rumah Joshua hanya terhalang oleh tembok yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa.


"Pagi ... " Nara tersenyum kikuk.


"Eh, ini anak-anak kamu?" Nara mengangguk, "Terus ini suami kamu?" Nara menggeleng, Joshua menatap bingung.


"Bukan suami saya," ucap Nara santai, tanpa melihat raut wajah Gavin yang kembali berubah masam. Lagian memang benar dia bukan suaminya tapi kenapa rasanya kesal begini.


"Ohh ... Kakak kamu?" Nara menggeleng lagi, "Bukan siapa-siapa saya, dia hanya orang asing yang tiba-tiba akrab sama anak-anak," Joshua hanya manggut-manggut mengerti.


Sementara Gavin semakin kesal, hatinya panas dengan tangan mengepal sampai memutih. Kalau anak-anak, mereka sudah ngacir duluan masuk ke dalam mobil. Bodoamat amat dengan urusan orang dewasa, yang penting mereka siap berangkat ke sekolah.


Obrolan singkat mereka berdua, antara Nara dan Joshua terputus saat suara cempreng dari Nessa terdengar. “AYAHH.... Kapan sekolahnya? Sebentar lagi kami telatttt ... ”


"Ah, iya iya ... Sebentar, Ra saya pergi dulu," Gavin tersadar dari rasa kesalnya.


“Hemm ... ” jawab Nara singkat, padat dan jelas. Gavin menghela napas lalu segera pergi menuju mobil. Sebelum berangkat dia menoleh kembali ke arah Nara, yang terlihat masih mengobrol santai dengan tetangga barunya yang membuat Gavin resah tanpa alasan.

__ADS_1


Sementara itu, Joshua semakin menatap bingung, "Lah? Itu kenapa anak-anak kamu manggil dia ayah?" tanyanya sambil menggaruk belakang kepalanya, ini seperti drama rumah tangga yang istrinya ngambek sama suami sampai suaminya tak di anggap.


“Oh itu, dia memang ayahnya anak-anak, tapi bukan siapa-siapa saya apalagi suami saya ... ” ucapnya lalu berbalik, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Meninggalkan Joshua dengan sejuta kebingungannya.


__ADS_2