
Masih dengan rasa terkejutnya, Nevan melihat Gavin yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Nevan tidak menyangka akan kedatangan Gavin, dan juga tidak mengerti kenapa Gavin mau menjenguknya yang hanya adalah orang asing.
Tapi siapa yang memberi tahu Gavin kalau ia sedang sakit? Apakah bunda Nara? mungkin. Banyak pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba di benak Nevan. Ingin bertanya tapi ia urungkan karena terlalu malas untuk bicara panjang lebar lagi.
Mulutnya terasa sedikit pegal, di tambah beberapa bagian tubuhnya yang juga sedang terasa pegal. Kepalanya masih berdenyut sakit, sebenarnya Nevan tidak terlalu kuat untuk menahan rasa sakit seperti ini.
Tapi Nevan tidak mau membuat bunda Nara khawatir.
Sedangkan Nara, saat melihat kedatangan Gavin, ia langsung berdiri dari duduknya. Berniat pindah tempat dan duduk di sofa saja. Nara tahu kalau Gavin pasti ingin bicara dengan Nevan.
Sebelum kakinya melangkah, Nara menatap Gavin dan tanpa sengaja keduanya saling bertatapan. Keduanya hanyut dalam tatapan yang saling diam itu. Entah apa yang ada di pikiran kedua orang itu.
Sampai Nara tersadar dan segera memalingkan wajah, begitupula dengan Gavin. Nara melanjutkan langkahnya dan duduk di sofa. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Gavin dengan putranya.
"Om Gavin ngapain ke sini?"
Gavin duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Nara, ia masih belum menjawab pertanyaan Nevan. Matanya menatap Nevan dengan berkaca-kaca, ternyata apa yang Nara ucapkan adalah benar, kalau saat ini Nevan sedang sakit.
Ia juga meneliti seluruh wajah Nevan, dan Gavin baru menyadari kalau wajah Nevan sangat mirip dengan wajahnya saat masih kecil. Kenapa dia baru sadar sekarang?
Tiba-tiba teringat ucapan mamanya yang bilang, kemungkinan wanita yang tidak sengaja ia tiduri memiliki seorang anak. Ternyata memang benar, sesuai dugaan mamanya kalau saat ini ia sudah memiliki seorang anak yang usianya belum genap lima tahun.
Tapi, Gavin masih belum melakukan tes DNA untuk memastikan semuanya. Juga ingin kembali menyelidiki kejadian lima tahun silam. Kenapa ia tidak bisa melacak keberadaan Nara. Sampai ia tidak tahu kalau selama ini mempunyai dua orang anak.
Jika ia tahu lebih awal, maka Gavin tidak mungkin mau menikah dengan Jovanka dua tahun lalu. Tapi semua sudah terlambat, takdir membuatnya bertemu dengan Nara dan anak-anaknya saat mereka sudah besar.
__ADS_1
Gavin tidak bisa melihat Nevan dan Nessa ketika masih bayi, ia tidak menggendong Nevan dan Nessa, juga tidak bisa melihat Nevan dan Nessa yang baru belajar berjalan. Dan Gavin tidak tahu apa kata pertama yang Nevan dan Nessa ucapkan.
Semua ini terlalu tiba-tiba, Gavin tidak akan menyangka akan adanya hari ini.
"Om?" Sentuhan tangan serta suara Nevan membuat Gavin tersadar dari lamunannya. Ia sampai melupakan pertanyaan yang di lontarkan Nevan padanya.
"Iya, kenapa?"
"Om Gavin ngelamun? Tadi aku tanya Om Gavin ngapain ke sini tapi Om nggak jawab."
Nevan menarik tangannya kembali, ia merubah posisi yang semula duduk kini berganti tiduran. Sudah terlalu lama Nevan duduk, membuat hampir semua bagian tubuhnya terasa pegal dan sedikit sakit.
Nevan tidak akan mengeluh karena tubuhnya sakit karena hanya akan membuat Nara merasa sedih, tapi ia juga tidak begitu tahan dengan apa yang kini ia rasakan.
Pertama kali Nevan merasakan rasa sakit seperti ini. Dua hari lalu saat sebelum di bawa ke rumah sakit, kepala Nevan terasa sangat berat, tubuhnya menggigil, dingin tapi suhu tubuhnya panas. Membuat ia tak menyangka kalau akan di bawa ke rumah sakit.
Bau obat yang menyengat seakan menusuk hidungnya, membuat perutnya terasa mual. Belum lagi dengan jarum infus yang kini menempel di pergelangan tangannya. Nevan sungguh merasa tidak nyaman dan tidak bisa bergerak dengan bebas.
Tapi bunda Nara belum memperbolehkannya untuk pulang, Nevan tidak ingin membantah meski ia tidak menyukai tempat ini.
"Ah, iya. Om mau jengukin Nevan. Kata bunda Nevan sakit, jadi om pengen lihat keadaan Nevan. Mengusap setitik air mata yang ada di sudut matanya, Gavin melukis senyum di bibirnya.
"Iya, Nevan nggak betah di sini, Om. Pengen pulang, tapi bunda bilang belum boleh."
Selain dengan Nara, Nevan lebih terbuka saat sedang bersama dengan Gavin. Menurutnya Gavin menyenangkan, padahal pria itu sangat kaku jika di ajak bermain. Tapi Nevan tetap menyukai Gavin, entah karena apa.
__ADS_1
Merengek pada Gavin mungkin bisa membantu dirinya untuk keluar dari rumah sakit ini.
"Benar kata bunda, Nevan belum boleh pulang. Kalau udah sembuh baru boleh."
Senyum Nevan yang awalnya terbit kini luntur, wajah kecewa ia tampilkan. Harapan ingin pulang ternyata sudah pupus lebih dulu sebelum ia kembali memohon dengan memelas.
Mereka berdua mengobrol lebih lama dari yang Nara duga. Ternyata Nevan sangat menyukai Gavin, terbukti saat Gavin menanyakan beberapa pertanyaan dan tanpa ragu Nevan langsung menjawab.
Seperti tidak ada bosannya, Nevan sangat antusias mendengar Gavin bercerita. Nara yang sedang duduk di sofa ikut merasa senang karena ternyata putranya tidak sependiam yang ia pikir.
Anak itu hanya butuh sebuah kenyamanan, yang mana jika ia sudah merasa nyaman maka akan terasa lebih tenang. Nevan merupakan pribadi yang tertutup, ia jarang mengungkapkan sesuatu yang bersifat pribadi bagi Nevan.
Nevan juga anaknya sangat pemilih, kecuali makanan.
Sampai tak terasa hari sudah semakin siang, matahari tepat berada di titik tertinggi. Panas matahari masuk melalui jendela yang tidak tertutup oleh tirai.
AC di ruangan terus menyala, hawa panas tidak membuat ruangan terasa panas dan pengap. Gavin yang saat itu masih terus bercerita tanpa melihat kalau Nevan sudah terlelap dalam mimpi.
Matanya terasa mengantuk mendengar Gavin bercerita dengan pelan dan mampu membuat Nevan ikut terbuai dan akhirnya tertidur.
Gavin yang baru tersadar itu mengulas sebuah senyuman, ia menarik selimut dan menutupi tubuh Nevan sampai sebatas dada. Anak laki-laki tampan yang kini wajahnya sedang pucat tertidur dengan tenang.
Dengkuran halus dari Nevan menandakan kalau anak itu sudah tertidur dengan nyenyak. Gavin terus menatap Nevan, pertama kali ia dekat dengan anak kecil seperti saat ini, di sudut hatinya ada sebuah perasaan yang sulit di jelaskan.
Tatapannya teralihkan saat pintu ruangan terbuka. Yang pertama muncul adalah Nessa dengan senyumannya yang tidak pernah luntur. Di susul di belakangnya, Fahmi juga datang dengan membawa beberapa kantung plastik.
__ADS_1
Senyumnya semakin merekah saat melihat adanya Gavin di ruangan itu, dengan langkah cepatnya Nessa langsung menghampiri Gavin tanpa melihat ke arah Nara.