Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Ada Sesuatu


__ADS_3

Siang harinya, seperti biasa Gavin lah yang menjemput anak-anak. Saat mobil sudah hampir sampai di halaman rumah Nara, mata Gavin menyipit melihat Nara sedang bicara dengan seseorang.


Lagi-lagi hatinya di buat panas dengan kedekatan Nara dan tetangga barunya, Joshua. Genggaman erat di kemudi untuk menumpahkan rasa kesalnya, sampai tangan memutih saking kuatnya meremas kemudi.


Mobil jalan perlahan, lalu berhenti tepat di depan rumah Nara, membuat dua orang yang sedang mengobrol langsung menoleh ke arah mobil. Anak-anak turun dengan semangat, meninggalkan Gavin yang sedang panas hatinya.


Setelah menarik napas beberapa kali barulah Gavin keluar dari mobil, ia menghampiri Nara dan anak-anak. Joshua masih di sana, memberi senyuman pada Gavin, yang hanya di balas dengusan karena merasa senyuman itu menyebalkan.


"Halo, Om Joshua ... " sapa Nessa, wajahnya menampakkan senyuman termanis miliknya, setelah mendapat pelukan dari Nara, ide jahil muncul di kepalanya.


"Halo, wahh ... Ini Nessa yah?" Tangan Joshua terulur untuk mengelus pucuk kepala Nessa.


"Iya, Om. Aku Nessa, anaknya Bunda Nara yang paling cantik!" Nessa mengulurkan tangan kanannya, mengajak Joshua bersalaman. Dengan senang hati Joshua menerima salam perkenalan itu.


Sementara Nara hanya tertawa kecil melihat tingkah putrinya, ia sepenuhnya mengabaikan keberadaan Gavin yang saat ini sedang berdecak kesal, dalam hatinya mengumpat.


"Anak-anak, kalian sudah pada makan belum?" tanya Nara.


"Belum, Bun." jawab Nevan, Nara mengangguk lalu mengajak kedua anaknya untuk masuk.


"Mas, kami masuk duluan ya, terimakasih buat sarannya tadi ... " Joshua mengangguk, mempersilahkan ibu dan anak itu masuk ke dalam rumah. Gavin mengikutinya dari belakang, satu langkah sebelum benar-benar masuk Gavin menoleh ke belakang, melihat ke arah Joshua yang masih berdiri di depan rumah Nara, tatapan tajam Gavin seolah memberi peringatan untuk Joshua.


Sedangkan Joshua hanya menelan ludah, ia sendiri bingung dengan sikap Gavin. "Aduh, Tuan! Kenapa saya harus nurutin perintah Tuan sih?" ucapnya dalam hati sambil menggaruk belakang kepalanya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan rumah Nara.


Sementara di dalam rumah, dengan tidak tahu malu Gavin mengikuti ibu dan anak itu dan duduk di kursi meja makan. "Ra, kamu tadi minta saran apa sama dia?" tanya Gavin penasaran, hatinya kacau untuk saat ini tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


"Kenapa?" Nara malah balik bertanya.


"Aku kan tanya, kamu tadi bahas apa sama dia?" Gavin malas menyebutkan nama Joshua, mendengar namanya saja sudah cukup menyebalkan bagian pendengaran Gavin.


"Ouhh, itu aku cuma minta saran buat ulang tahun anak-anak saja," jawab Nara singkat, tangannya terampil mengambil nasi dan lauk kemudian di taruh di piring Nessa dan Nevan. Gavin mengangguk pelan mengerti, "Gimana kalau kita bikin acara ulang tahun anak-anak di rumahku? Kita bisa bikin acara yang meriah-- " belum selesai Gavin bicara Nara sudah memotong.


"Tidak terimakasih, lagi pula aku tidak mau anak-anak di permalukan karena statusnya. Nanti banyak orang yang akan bertanya, aku tak mampu menjawab... " seketika itu senyum di wajah Gavin luntur.


Kalau Nara sedang di sibukkan dengan acara ulang tahun anak-anaknya maka Gavin sedang merasa gelisah karena ucapan Nara tadi siang. Padahal Nara dan tetangga barunya itu baru berkenalan selama dua hari tapi Gavin merasa ini ancaman. Warning!!!


Untuk menenangkan hatinya, Gavin mengajak Helen bicara di ruang keluarga. "Mah, sebentar lagi anak-anak ulang tahun," ucap Gavin sambil menyesap kopinya.


"Ulang tahun?" Gavin mengangguk, Helen tersenyum senang, "Wahh ... Mamah nggak nyangka anak-anak sudah makin besar, Nara pasti lupa bilang sama Mamah tentang ulang tahun mereka." Helen terlihat antusias, Gavin memandang dengan sendu.


"Nggak apa-apa, Mah."


"Oya, kamu tahu nggak kira-kira Nara kapan nikahnya?"


"Nikah?" tanya Gavin terkejut.


Helen mengangguk, "Iya, Mamah dengar dari Ayahnya Nara, Mamah kan kenal sama ayah Nara, jadi Irwan bilang kalau sebentar lagi Nara mau nikah, kasihan dia ngurusin anak-anak sendiri, umurnya juga sudah masuk usia telat nikah."


Gavin diam mematung dengan napas tercekat, napasnya nyangkut di leher. "Kenapa Nara nggak bilang?"


"Lah? Memangnya kamu siapa?" tanya Helen sinis, Gavin hampir saja keselek kopi panas dengar mamanya ngomong gitu, tapi benar juga.

__ADS_1


"Memangnya Mama nggak mau Nara jadi menantu Mamah? Maksudku Mamah nggak mau tinggal bareng cucu-cucu Mamah?"


Helen menaikkan sebelah alisnya, "Mama sih pengen aja, tapi emangnya Nara mau? Kalau masalah anak-anak, Mamah bisa minta izin Nara buat ajakin mereka nginep di rumah."


Setelah itu Helen berdiri dari duduknya, pergi meninggalkan Gavin yang mematung masih dengan napas yang tercekat. Senyum tertahan saat berjalan pergi.


Sementara di rumah Nara, setelah makan malam Nara menghubungi Ibu Mira, meminta bantuannya untuk menyiapkan pesta ulang tahun anak-anaknya. "Nara minta tolong ya, Bu ... " Di sana ibu Mira hanya mengangguk, beliau juga ingin melepas rindu dengan cucu-cucunya dan Nara karena sudah lama tidak bertemu.


Setelah telepon di matikan, pintu rumah Nara di ketuk, Nara bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Ada Joshua di sana, "Ada apa, Mas?"


"Ehm ... Ra, tadi saya baru pulang kerja kebetulan mampir ke tempat jualan bakso di pertigaan depan. Terus ingat sama anak-anak, jadi saya sekalian beliin bakso buat kalian ... " ucapnya sambil menyerahkan satu kresek, yang di dalamnya ada tiga porsi bakso.


"Eh, nggak usah, Mas. Saya sama anak-anak juga sudah makan."


"Nggak apa-apa Ra, kebetulan juga hari ini gajian, biar kalian bisa nyicip. Udah ya terima aja, saya pamit dulu," Joshua langsung memaksa Nara untuk mengambil baksonya, setelah itu ia langsung pergi ke rumahnya membuat Nara kebingungan sekaligus merasa tidak enak.


Di dalam sebuah kamar, ada Nessa dan Nevan yang mengintip dari jendela. Matanya berbinar kalau mendengar nama bakso di sebut, tapi ia ingat dengan janjinya pada sang ayah.


"Ayo, bilang sama ayah, om Joshua ngasih kita bakso, terus di terima sama Bunda." ucap Nessa, di ikuti anggukan kepala oleh Nevan, mereka mengambil ponsel di atas kasur dan mengetik sebuah pesan.


"Lapor, baru saja Om Joshua datang dan ngasih kita bakso, udah di terima sama bunda. Tinggal di makan."


"Kayaknya enak, Yah!" isi pesan selanjutnya.


Gavin yang membacanya pun merasa kesal, ia semakin gelisah. Hatinya tak tenang sampai tidurpun tidak nyenyak. Mimpi buruk menghantui, dalam mimpinya Nara sedang duduk di pelaminan bersama dengan Joshua, sedangkan dirinya hanya sebagian tamu undangan.

__ADS_1


__ADS_2