
Tidak berbeda dengan Gavin, pria itu menghela napas lega setelah mendengar ucapan dokter. Tegang, awalnya ia tegang karena takut hasilnya tidak cocok dengan Nevan. Tapi ternyata Tuhan masih berpihak pada mereka, Nevan bisa sembuh.
Karena tubuhnya yang sudah terlalu pegal, Gavin dengan pelan mengangkat Nessa dari pangkuannya dan membaringkan Nessa di sofa dengan perlahan. Takut kalau anak itu akan terbangun.
Gavin berdiri, ia meregangkan kedua tangannya. Ya ampun, ternyata Nessa terasa berat juga. Ia pikir karena Nessa adalah anak kecil maka tidak akan terlalu berat, tapi ternyata ia salah.
Walaupun Nessa masih kecil tapi napsu makannya lumayan besar. Setelah membuat Nessa tertidur di pangkuannya lebih lama, ia baru menyadari hal itu. Sekarang ia butuh istirahat lebih banyak atau meminta seseorang memijatnya.
Gavin melihat Nara yang masih terduduk di lantai, ia berjalan menghampiri Nara. Lantai dingin, takut Nara masuk angin, Gavin berniat membantu Nara berdiri.
"Nggak usah, saya bisa sendiri." Menepis tangan Gavin yang sudah siap membantu. Nara akhirnya berdiri tanpa di bantu Gavin. Wanita itu berjalan menghampiri Nevan dan duduk di kursi yang sudah ada.
Sementara Gavin, tangannya masih mengudara. Ia seolah tak menyangka kalau Nara akan menolak bantuannya. Tapi ia mengerti dengan sikap Nara, ia hanya orang asing yang tiba-tiba menjadi ayah dari kedua anaknya.
Gavin menarik tangannya kembali, tak masalah jika di tolak satu kali tapi suatu saat pasti Nara tidak akan menolak bantuannya saat Nara sedang butuh.
Di liriknya jam di pergelangan tangannya, sudah semakin sore, hampir maghrib. Ia harus segera pulang kalau tidak maka sang istri akan mencarinya dan marah-marah tidak jelas. Gavin tidak ingin hal itu terjadi malam ini.
Sebenarnya tubuhnya sudah terasa lelah, saat melakukan tes tadi pagi juga bekasnya masih terasa pegal dan nyeri. Di tambah saat Nessa tertidur di pangkuannya, ah! Tubuhnya hampir mati rasa. Gavin ingin beristirahat yang cukup.
Ia berjalan menghampiri Nara, walaupun sepertinya Nara enggan menatap ke arahnya. Padahal tadi pagi wanita itu memohon di hadapannya tapi malah tidak saat ini. Gavin menghela napas, ia sungguh tidak mengetahui apa isi kepala wanita selain otak mereka dan bagaimana pemikiran mereka.
"Ehem... " Gavin berdehem, membuat Nara menatap ke arahnya. Nah, beginikan lebih enak. Bicara dengan lawan jenis tapi tanpa menatap wajahnya, sungguh rasanya seperti sedang berbicara dengan patung.
"Nara, saya pulang dulu. Sudah semakin malam, saya takut orang rumah khawatir."
"Oh, iya. Silahkan," jawaban Nara sangat singkat, Gavin menjadi canggung sendiri rasanya.
"Ya sudah. Saya pamit, besok saya akan ke sini lagi."
"Hm... Hati-hati, jaga kesehatan juga." Walaupun singkat tapi kalimat mengandung banyak arti. Gavin jarang di perhatikan begini, padahal Nara adalah orang asing yang telah melahirkan anaknya secara tidak sengaja.
__ADS_1
Padahal maksud Nara adalah, ia ingin Gavin menjaga kesehatan tubuhnya agar saat waktunya operasi maka akan berjalan lancar. Nara tidak mau, karena Gavin yang kurang gizi atau nutrisi sampai membuat pria itu sakit dan akhirnya operasi di tunda.
Itu berarti Nevan akan sembuh lebih lama, Nara tidak ingin itu terjadi. Setidaknya ia sudah mengingatkan Gavin untuk menjaga kesehatannya. Semoga pria itu mengerti maksud dari perkataan singkatnya, ucap Nara membatin.
_________
Gavin berjalan keluar rumah sakit, ia mengambil mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk. Pria itu menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju meninggalkan rumah sakit.
Jika di hari biasa ia akan pulang sekitar jam delapan malam, tapi hari ini ia pulang lebih awal. Jika istrinya bertanya maka hanya perlu menjawab lelah. Tidak mungkin ia akan bilang kalau baru saja dari rumah sakit. Bahaya, ia tahu persis seperti apa istrinya.
Walaupun wanita itu selalu bersikap baik di hadapannya, tapi yang jelas kalau Gavin juga mengetahui bagaimana sifat asli dari istrinya itu. Selain pemarah, Jovanka juga orangnya sangat pendendam.
Wanita itu sangat tidak suka miliknya di sentuh orang lain. Banyak wanita yang mendekati Gavin tapi mereka langsung di hilangkan oleh Jovanka.
Selama ini Gavin diam bukan berarti tidak tahu kelakuan Jovanka di belakangnya. Setiap gerak-gerik Jovanka, ia tahu semua. Maka dari itu Gavin tidak mungkin mau mencintai wanita yang lebih mirip dengan iblis tapi saat ini statusnya adalah istri sah dari Gavin.
Gavin terus melajukan mobilnya, di temani oleh keheningan malam. Jendela di tutup, AC dingin berhembus. Musik ia nyalakan untuk menemani perjalanannya menuju rumah.
"Ma... Mama... " Berteriak, Gavin berjalan kesana-kemari untuk menemukan mamanya.
Wanita yang sudah hampir berumur itu merasa sangat terusik mendengar suara teriakan putranya. Saat ini ia sedang maskeran di pinggir kolam renang. Sembari melihat matahari yang sudah tenggelam.
"Mamah di belakang, Vin." Ia juga ikut berteriak, sampai baru sadar kalau masker yang sedang di pakai rontok, terjatuh akibat wajahnya terlalu banyak gerak.
Ah, merasa menyesal, kenapa ia harus ikut emosi karena Gavin dan akhirnya ikut berteriak juga. Sekarang sudah terlambat, maskernya hampir terjatuh semua dari wajahnya.
Mendengar suara mamanya yang menjawab panggilannya, lantas Gavin langsung menghampiri dari mana suara itu berasal. Saat sudah sampai di dekat kolam renang samping rumah, Gavin melihat mamanya yang sepertinya ingin menangis.
Ya ampun, apa yang terjadi dengan mamanya?
"Mah? Kenapa? Kok nangis?"
__ADS_1
Saat itu juga jantungnya hampir copot, melihat mamanya yang menoleh ke arahnya sungguh membuat Gavin terkejut karena wajah sang mama sangat berantakan.
Berwarna putih, belum lagi rambutnya yang panjang terurai begitu saja. Pakaian yang di kenakan juga berwarna putih, Gavin sampai membayangkan yang tidak-tidak. Segera ia menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya tante Helen dengan ketus, ia masih kesal pada Gavin karena maskernya yang rusak. Padahal tante Helen sendiri yang berteriak menjawab panggilan Gavin.
"Aku mau ngomong." Wajah Gavin berubah serius. Sebelum kembali bicara, ia memperhatikan sekeliling. Takut kalau ada orang yang akan mendengar.
Gavin membawa mamanya untuk duduk di kursi panjang yang masih berada sekarang dengan kolam renang. Ia menceritakan semuanya mulai dari saat tadi pagi Nara datang tiba-tiba ke kantornya dan mengatakan hal yang mengejutkan serta keadaan Nevan saat ini.
Tidak menambahi juga tidak mengurangi, Gavin bicara dengan jujur pada sang mama. Raut wajah terkejut tergambar jelas di wajah tante Helen. Ia sungguh tidak menyangka kalau ternyata wanita yang di tiduri putranya lima tahun lalu adalah Nara, wanita dengan dua orang anak yang belum lama ia kenal.
Dan apa kata Gavin tadi? Dua anak Nara? bukankah itu berarti saat ini ia sudah memiliki cucu? Dan lagi dapat dua sekaligus. Ah, hatinya tiba-tiba berbunga juga sedikit sedih mendengarnya.
"Tapi, apa benar kalau mereka anak kandung kamu?" walaupun senang, tapi tante Helen belum sepenuhnya percaya kalau bukan Gavin sendiri yang mengetes.
"Mamah tenang aja, aku tadi sempet ngambil rambut Nessa sedikit waktu anak itu tidur. Jadi kita bisa tes DNA." Ucap Gavin seraya menunjukkan beberapa helai rambut milik Nessa yang tadi sempat ia ambil sebelum pulang.
Tentu Gavin tidak bodoh, walaupun yakin kalau memang benar mereka berdua adalah anaknya tapi kalau belum ia sendiri yang mengetes, maka Gavin belum sepenuhnya percaya, sama seperti mamanya.
"Good job!"
Tante Helen mengacungkan dua jempolnya di hadapan Gavin, putranya ternyata sangat pintar. Merasa bangga, tante Helen semakin senang. Akhirnya ia punya cucu, batinnya bersorak senang.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
maaf ya kalau banyak typo🤧, makasih udah mau mampir🤗 jangan lupa pencet jempolnya 😗👍