
“Naraaa ... ” suara Helen mengagetkan Nara yang baru saja ingin memejamkan matanya.
Nara membalik badan, ada Helen yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Ia pun segera mencoba bangkit untuk duduk, tapi segera Helen tahan pundaknya.
“Udah, tidur aja. Tante cuma pengen lihat keadaan kamu, Tante barusan dapat kabar dari Gavin jadi semaleman Tante belum tau kalau Nessa sama Nevan hilang,” ucap Helen sedih, matanya pun melirik ke arah Nara.
Semakin sedih hatinya saat melihat keadaan Nara seperti saat ini. “Udah periksa ke dokter belum?”
Nara menggeleng. Dia memang tidak ingin pergi ke dokter, hanya demam biasa karena masuk angin kemarin.
“Percuma, Tan. Ngajak Nara ke dokter itu butuh perjuangan, kalau mau gampangnya sih buat pingsan dulu baru bisa bawa Nara ke dokter,” celetuk Kiki yang kini sudah duduk di pinggir ranjang.
Nara menatap Kiki kesal, tapi ia tak membalas. Saat ini Nara sedang tidak punya tenaga untuk berdebat. Hatinya masih merasa khawatir dengan keadaan kedua anaknya.
Dimana mereka sekarang, sedang apa mereka, sudah makan atau belum, siapa sebenarnya yang menculik kedua anaknya. Masih banyak lagi pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
“Kamu udah dapat informasi dari Gavin belum?” tanya Helen pada Nara, lagi-lagi Nara menggeleng.
“Belum, Tan. Lagian Nara demam dari kemarin juga, saya aja udah kaya emaknya, ngurus anak yang lagi demam. Haduh, pusing, Tan. Nara nih ya, kalau udah sakit tuh kaya anak kecil, kalau tidur juga sukanya ngigau,” kata Kiki yang mewakili Nara untuk menjawab pertanyaan tante Helen.
Tante Helen mengangguk, “kalian udah makan?”
“Kalau sarapan udah sih, Tan. Tapi kalau makan siang belum, saya mau masak tapi males,” Kiki nyengir, sejak tadi yang menjawab pertanyaan Helen adalah dia, rasanya malu sendiri.
“Ya udah, kalau gitu biar Tante buatin makan siang yah? Kiki, kamu duduk di sini temenin Nara.”
“Siap, Tan!” ucap Kiki girang.
__ADS_1
Helen berjalan keluar, menuju dapur lalu ia mengambil ponselnya dari tas kecil dan menelpon seseorang.
“Halo, Mah?” tanya Gavin di sebrang sana.
“Kamu udah tau siapa yang culik cucu Mamah?”
“Udah, Ma.”
“Siapa?” tanya Helen penasaran.
“Itu ... Jovanka, Mah. Jovanka yang culik anak-anak,” jawab Gavin sambil menelan ludah kasar, saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju tempat Jovanka mengurung kedua anaknya.
“Apaa?!!”
Seperti tidak percaya dengan ucapan anaknya, tante Helen berdiri diam mematung di depan kompor, dapur Nara.
“Astaga Anka!!” Helen memijit pangkal hidungnya, merasa tidak menyangka Jovanka akan melakukan hal senekat ini.
“Kenapa sih aku harus punya menantu jahat begini.”
.
.
.
Tante Helen masuk kembali ke dalam kamar Nara setengah jam kemudian dengan membawa nampan berisi segelas air putih dan semangkuk bubur.
__ADS_1
Helen menaruhnya di atas nakas, lalu mengguncang sedikit tubuh Nara. “Ra, bangun. Makan dulu yah, habis itu minum obat,” ucapnya saat melihat Nara sudah membuka matanya.
“Nggak enak makan, Tan.” Nara menarik selimutnya sampai sebatas leher. Tubuhnya memang demam tapi Nara merasa sangat kedinginan.
Sakitnya ini karena ia belum sarapan kemarin dan belum makan siang. Di tambah rasa khawatir dengan keadaan kedua anaknya. Nafsu makannya pun sampai hilang, tidak merasa lapar sama sekali.
Semalam ia pun tidak makan, kemarin sore ia pingsan dan tengah malam baru sadar. Saat sadar, ternyata ia sedang di infus, saat itu rasa pusing menyerang sampai sekarang ia demam.
Dalam pikirannya masih terus terbayang bagaimana keadaan kedua anaknya. Tiba-tiba air matanya kembali mengalir. Rasa sesak memenuhi dadanya sampai rasanya sedikit sulit untuk bernapas.
Nara meremas ujung selimut, mencoba menahan suara tangis yang hampir pecah. Baru kehilangan semalam tapi rasanya sudah sangat lama, Nara benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah lebih lama dari pada satu hari ini.
“Eh, Tante udah selesai masaknya? Punya aku ada nggak, Tan?” celetuk Kiki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Nara segera mengusap air matanya, tidak ingin sahabatnya melihat dia menangis. Kiki baru selesai mandi, ia tak sempat pulang ke rumah jadi ia meminjam baju Nara. Beruntungnya ukuran bajunya pas, karena postur Nara dan Kiki hampir sama, hanya saja, Nara sedikit lebih tinggi sekitar tiga centimeter dari pada Kiki.
“Tante cuma bawa bubur buat Nara, kalau buat kamu ada di dapur,” tante Helen kembali mengambil semangkuk bubur.
“Ra, bangun dulu, setidaknya makan walaupun cuma satu sendok. Perut kamu harus di isi supaya kamu punya tenaga tambahan.”
“Ra, kalau kamu nggak mau makan bubur buatan Tante Helen, mending gue aja deh yang makan. Kayaknya enak tuh,” Kiki segera mendekat, mencium aroma bubur yang terlihat lezat.
Dengan sedikit malas Nara bangun, tidak ada lagi bekas air mata karena Nara hanya menangis sedikit.
“Ini punya gue!!” Nara menahan tangan Kiki yang hampir memegang sendok.
Sahabatnya ini sungguh tidak tahu malu, sudah minta di buatin orang lain, tapi punya sahabatnya sendiri pun masih di embat.
__ADS_1