Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Demi Nevan


__ADS_3

Mengetahui bahwa Nara tidak bisa menjadi pendonor untuk Nevan, Nara sangat sedih. Itu berarti, agar Nevan bisa sembuh, Nara harus pergi mencari Gavin. Ayah dari anaknya.


Entah bagaimana reaksi pria itu saat mendapat kabar dadakan yang mungkin saja akan membuatnya syok. Nara tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya.


Masih berada di ruangan dokter, Nara dan Fahmi duduk bersebelahan. Dokter yang merawat Nevan langsung pergi setelah membacakan hasil tes sumsum tulang Nara dan Fahmi.


Keduanya masih duduk diam dan belum ingin beranjak pergi. Nara menutup wajahnya menangis, beberapa hari ini air matanya terus keluar. Sampai membuat matanya terasa pegal, tapi Nara tidak bisa menghentikannya.


Kesedihan yang sama kini di rasakan Fahmi, dia sudah menduga hal ini. Tentang hasil tes yang tidak cocok dengan milik Nevan. Sama seperti ayahnya yang dulu pernah mengidap leukemia. Kecocokan sumsum tulang paling tinggi kebanyakan di miliki oleh ayah kandung.


"Ra, kita bisa coba cari pendonor yang cocok. Mungkin aja bisa walaupun bukan dari keluarga kandung." Ucap Fahmi seraya mengusap punggung Nara, mencoba menenangkan.


Nara mengangkat kepalanya, dia menatap Fahmi kemudian mengusap air matanya, "tapi butuh waktu lama, Kak. Belum tentu ada yang mau jadi pendonor, atau kita harus tes satu persatu orang yang mau? Nggak bisa, Kak. Nevan harus secepatnya di obatin, aku takut penyakitnya tambah parah."


"Terus kita harus gimana?" bukan Fahmi tidak mengerti maksud Nara, dia hanya ingin Nara mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangan darinya.


Nara kembali mengusap air matanya yang masih terus mengalir, "ada satu orang yang bisa, Kak. Ya cuma dia yang bisa bantu Nevan buat cepat sembuh."


Fahmi tertegun mendengarnya, "si-- siapa yang bisa bantu?"


"Ayah kandungnya Nevan, Kak. Cuma dia yang bisa bantu."


"Ka-- kamu tau siapa ayah kandungnya Nevan?" tenggorokannya terasa tercekat, debaran jantung Fahmi berpacu dengan cepat. Fahmi menunggu kalimat Nara yang selanjutnya.


"Iya, Kak. Gavin, Gavin ayah kandungnya Nevan. Cuma dia yang bisa bantu Nevan, pokoknya aku harus bisa bikin Nevan sembuh. Aku nggak peduli, gimanapun caranya, pokoknya Nevan harus sembuh." Ucap Nara seraya berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Tekadnya sudah bulat, dia akan pergi menemui Gavin dan meminta bantuan pria itu. Nara tidak peduli dengan dengan reaksi Gavin nanti, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan putranya.


Fahmi menahan Nara yang ingin pergi keluar, dia begitu terkejut saat tahu Nara sudah mengetahui siapa sebenarnya ayah kandung dari kedua anaknya. Fahmi tidak tahu bagaimana cara Nara bisa mengetahui kebenaran menyakitkan yang datang di masa lalu.


"Kamu tau dari mana kalau Gavin adalah ayah dari anak-anak?" pertanyaan pertama yang ada di benak Fahmi. Dia ikut berdiri dari duduknya dan menatap Nara dengan heran.


"Udah keliatan jelas dari mukanya, Kak. Nevan mirip banget sama Gavin. Aku juga sedikit ingat kalau mukanya mirip sama yang lima tahun yang lalu." Tanpa sadar Nara kembali membuka luka masa lalunya, cairan bening kembali keluar dari sudut matanya.


Mengingat masa lalunya yang menyakitkan masih membuat Nara tidak menyangka jika kejadian itu akan membuatnya memiliki dua buah hati. Dan sudah lima tahun berlalu tapi Tuhan membuat Nara bertemu kembali dengan ayah kandung kedua anaknya.


"Aku harus minta tolong Gavin secepatnya, Kak. Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi. Aku takut kalau Nevan nambah sakit." Nara melepas genggaman tangan Fahmi, dan langsung pergi keluar dari ruangan dokter.


Nara berjalan terburu-buru menuju ruang pasien yang di tempati Nevan. Sebelum memasukinya, Nara berhenti tepat di depan pintu. Nara sadar kalau saat ini wajah dan hidungnya memerah akibat menangis. Mungkin kedua matanya sudah membengkak.


Nara merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan perasaannya agar bisa terlihat lebih tenang. Di usapnya wajah, berharap bisa menghilangkan sedikit kemerahan akibat menangis.


Tadi, sebelum pergi ke ruangan dokter untuk mendapatkan hasil tes, Nevan mengalami mual dan kembali mimisan. Hati Nara teriris melihat anaknya yang bahkan usianya belum genap lima tahun, merasakan sakit yang luar biasa untuk anak seusianya.


Beruntung dokter dengan cepat memberikan obat, dan keadaan Nevan sudah kembali lebih baik. Itu sebabnya Nara ingin cepat-cepat mengobati Nevan, dia tidak sanggup lagi jika melihat Nevan terus merasakan sakit.


Nara berjalan mendekati ranjang pasien yang di tempati Nevan. Mengambil tas kecil yang ada di atas nakas.


"Nes, Van, Bunda mau pergi sebentar. Nanti kalian di temani sama om Fahmi. Bunda juga perginya nggak lama-lama. Nggak apa-apa ya Bunda tinggal." Nara mengusap kepala kedua anaknya, dia mengecupnya singkat.


"Iya, Bunda." Jawab dua anak itu serentak.

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari kedua anaknya, Nara langsung pergi keluar. Baru saja membuka pintu, Fahmi sudah berdiri tepat di depannya, mungkin ingin masuk juga.


"Kak, aku nitip anak-anak bentar, ya. Aku perginya nggak lama-lama, Kok."


"Iya, hati-hati." Fahmi menganggukkan kepalanya, dia tersenyum pada Nara dan mengusap kepala Nara sayang, layaknya seorang adik.


Nara membalas senyuman Fahmi, dia pun pergi. Meninggalkan rumah sakit dan berniat pergi ke rumah Gavin. Nara menaiki taksi untuk pergi, dia tidak sempat membawa motornya yang masih terparkir di rumah sejak kemarin.


Walaupun baru satu kali pergi ke rumah Gavin, karena ajakan tante Helen, Nara masih mengingat di mana alamat rumah Gavin. Ah, mengingat tante Helen, Nara baru menyadari kalau kedua anaknya adalah cucu dari tante Helen.


Tidak tahu bagaimana reaksi tante Helen saat mengetahui kalau beliau mempunyai dua orang cucu. Dan itu pun dari dirinya. Dan yang paling Nara khawatirkan adalah saat Jovanka, istri Gavin mengetahui kebenaran ini.


Yang paling Nara takutkan adalah kalau mereka akan mengambil Nessa dan Nevan untuk pergi darinya. Takut mereka akan memisahkannya dengan kedua anaknya. Buru-buru Nara menggeleng, pikirannya sudah terlalu jauh, saat ini yang paling penting adalah kesembuhan Nevan. Untuk yang lainnya urusan belakangan.


Setelah setengah jam perjalanan Nara sampai di depan rumah mewah Gavin, dia membayar supir taksi yang sudah pergi setelah menerima bayarannya. Nara mendekati gerbang tinggi yang tertutup rapat, di sana ada dua satpam yang berjaga.


"Permisi, Pak. Saya ingin bertemu dengan mas Gavin, apakah ada?" tanya Nara pada salah satu satpam yang sedang duduk santai sambil minum kopi.


"Mas Gavin sudah pergi ke kantor dari tadi pagi. Mbaknya kalau mau ketemu bisa langsung ke kantornya saja." Jawab satpam itu.


"Oh, kalau gitu kantornya ada di mana?"


"Sebentar... "


Satpam itu mengambil sebuah bolpoin yang berada di saku bajunya, dan menuliskan alamat kantor Gavin di selembar kertas. Kemudian memberikannya pada Nara.

__ADS_1


Nara menerimanya dengan harapan kalau setelah ini dia bisa bertemu dengan Gavin.


__ADS_2