
Malam harinya, di rumah tiga lantai milik Gavin. Ia baru masuk ke rumahnya setelah pergi dari kantor. Kepalanya terasa mau pecah, pusing menyerang karena banyak pikiran.
Kejadian tadi siang tidak bisa Gavin lupakan begitu saja. Perasannya jadi campur aduk, hal itu membuat Gavin memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bekerja dari pada kepalanya bertambah pusing jika di rumah terus.
Belum lagi dengan Nara yang saat ini sedang marah, Gavin sudah mencoba menelpon Nara tapi tidak di angkat, mengirim pesan pun tidak di balas, apalagi di baca.
“Vin!!”
“Psstt, Gavin!!” panggil Helen dari balik dinding kamarnya.
“Ada apa, Mah? Kenapa Mama sembunyi gitu?” tanya Gavin sambil berjalan mendekat.
Helen meraih tangan Gavin, membawa Gavin pergi ke kamarnya. Lalu ia mengintip ke luar sebelum menutup pintu, ada yang ingin di bicarakan dengan Gavin.
“Ada apa sih, Ma?” tanya Gavin bingung.
“Sebentar, Mama mau ngomong sama kamu.”
Helen membawa Gavin untuk duduk, menatap anaknya serius.
“Emh ... Itu, soal tadi siang yang Mama denger itu betulan?”
“Yang mana?”
__ADS_1
“Soal tadi siang yang nggak sengaja Mama denger dari kamu pas lagi berantem sama di Anka, emang beneran?” tanya Helen sekali lagi.
“Oh, aku pikir Mama beneran nggak sengaja lewat terus denger, tapi ternyata Mama emang nguping. Tapi kaki Mama udah di obatin?” seperti mengalihkan perhatian, Gavin malah menanyakan keadaan kaki Helen yang tadi siang tidak sengaja tersiram kopi panas.
“Apaan sih kamu,” memukul lengan Gavin, “Mama 'kan cuma penasaran kenapa tiba-tiba kamu berantem sama si Anka. Udah deh, buruan jawab pertanyaan Mama!!”
“Pertanyaan yang mana, Ma?” tanya Gavin pura-pura berpikir, Helen menatapnya kesal.
“Durhaka kamu!! Tadi siang Mama denger kalau Jovanka cuma jadi alat doang? Emang beneran ya? Keluarganya sejahat itu?” Helen menatap Gavin serius, soal ini bersifat pribadi, jangan sampai Jovanka mendengar kalah mereka sedang membicarakan dirinya.
“Lho? Gavin pikir Mama udah tau. Masa Mama nggak tau kalau pernikahan kayak gini cuma buat bisnis aja, Ma. Emang bener kalau kakek sama kakeknya Jovanka yang buat perjanjian pernikahan, tapi papa Heru nggak mau kalau ini cuma pernikahan”
“Namanya bisnis, harus ada untungnya jangan sampai ada ruginya. Mereka pengen aku nikah sama Jovanka cuma buat memperluas bisnis, kerja sama dua perusahaan, tapi juga bukan hal sepele”
“Walaupun aku CEO, tapi aku nggak bisa seenaknya sama perusahaan. Aku juga butuh pendukung, butuh saham lebih banyak biar bisa bertahan walaupun di perusahaan keluarga sendiri, aku nggak bisa seenaknya buat ngambil, atau bikin keputusan tanpa ada campur tangan dari pimpinan perusahaan yang sudah ada lebih lama bekerja di perusahaan ini, bahkan kedudukan mereka lebih tinggi dari aku”
“Papa udah nggak ada, aku belum lama jadi pimpinan. Belum banyak yang percaya sama aku, sedangkan aku sama Jovanka sudah nikah, dua keluarga udah jadi satu, jadi banyak juga dewan direksi yang ikut dukung papa Heru”
“Terlalu rumit, Ma kalau di jelasin gini. Aku juga udah capek, sakit kepala gara-gara banyak pikiran. Pengen tidur,” Gavin berdiri, hendak pergi keluar dari kamar Helen.
“Jadi intinya apa?” tanya Helen, Gavin menghentikan langkahnya, tiba-tiba merasa kesal pada mamanya sendiri.
“Aku udah ngomong panjang lebar, Ma. Tapi Mama sama sekali paham apa intinya, udah lah, aku capek!” Gavin melanjutkan langkahnya, dari pada berada di sini terus maka kepalanya akan bertambah sakit.
__ADS_1
Bicara dengan mamanya harus sangat detail dan jelas, kalau tidak pasti tidak akan paham. Gavin sampai lupa hal itu, jadilah akhirnya begini, ia sudah bicara panjang lebar tapi mamanya tidak paham sama sekali.
.
.
.
Gavin sudah selesai mandi dan berpakaian, rasa lelah di tubuhnya sudah mulai berkurang karena tadi mandi pakai air hangat. Malam ini ia ingin tidur sendiri, di kamar tamu Gavin merebahkan dirinya.
Bersandar pada headboard Gavin memainkan ponselnya. Ia ingin menelpon Nara, meminta maaf pada wanita itu untuk kejadian tadi siang.
Tapi sayang, tidak di angkat bahkan telponnya di reject, setelah beberapa kali mencoba tapi tetap tidak di angkat, akhirnya Gavin mengirimkan pesan sana pada Nara.
'Nara, maaf mengganggu. Untuk kejadian tadi siang saya sungguh minta maaf, saya tau kamu marah, tapi sungguh saya tidak tau kalau akan terjadi hal seperti tadi siang, maaf.'
Sebenarnya Gavin bingung, ingin meminta maaf bagaimana. Ia tidak bisa merangkai kata yang benar untuk minta maaf. Ingin di hapus tapi nanti ia tambah bingung lagi.
Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit menunggu tapi tidak ada balasan dari Nara. Huft ... Gavin menghela napas, Nara benar-benar marah padanya.
Ini juga salahnya, tidak bisa berhati-hati sampai Jovanka curiga padanya. Ia juga tadi hanya diam saja saat melihat Jovanka menampar Nara, pasti wanita itu sangat marah. Bahkan pesannya pun tidak di baca.
Saking lelahnya, Gavin tidak sadar kalau tertidur dalam posisi duduk. Memegang ponsel di tangannya, menunggu balasan dari Nara.
__ADS_1