Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Balasan


__ADS_3

Melihat Gavin memeluk anak Nara, amarah Jovanka semakin bertambah. Bukannya membela dirinya, Gavin malah menghampiri anak nakal yang selalu mengejeknya.


Jovanka kembali melihat ke arah Nara, wanita itu sedang di peluk oleh sahabatnya. Ia masih belum puas, Jovanka menarik tangan Nara, membuat Nara terkejut.


“Kamu wanita tidak tahu malu!” ucap Jovanka yang ingin kembali menampar Nara.


Tapi tangannya tertahan sehingga menggantung di udara, matanya menatap tajam ke arah Kiki yang sedang menahannya.


“Eh, anjirr lu udah berani nampar sahabat gue dan sekarang masih mau nampar lagi? Nggak cukup apa hah!! Dateng-dateng cuma bisa buat masalah. Sini, sekarang giliran gue yang nampar balik lu, ngewakilin Nara yang lagi kesakitan!”


Kiki mendekat, masih memegang tangan Jovanka yang barusan mau menampar Nara lagi. Dan ...


“PLAK!!”


Pipi kanan Jovanka terasa panas, tamparan dari Kiki lumayan keras, bahkan melebihi saat ia tadi menampar Nara.


“Brengs*k!” maki Jovanka lalu mengangkat tangannya, hendak membalas Kiki tapi sayangnya ia kalah cepat, Kiki sudah lebih dulu kembali menahan tangannya yang ingin menampar.


“Brengs*k? Lu ngatain gue?! Eh, nyadar nggak sih, lu? Elu tuh yang brengs*k, Anjin*,” Kiki mendorong Jovanka, melepaskan cengkramannya dengan kasar.


Jovanka terhuyung ke belakang, hampir terjatuh kalau dia tidak cepat berpegangan. Tapi sepertinya Kiki belum puas, ia mendekati Jovanka ingin membalas lagi, sayangnya Nara menahan tangannya.


“Ki! Udah, malu di liatin banyak orang.”


Kiki menatap Nara, dan tatapannya tertuju pada pipi Nara yang tadi di tampar, kini menjadi merah. Sesungguhnya hatinya masih belum puas, tapi ia juga menyadari kalau sedang banyak yang menonton.


“Huftt ... ” Kiki menghela napas, ia memutar langkahnya, tapi kembali berhenti saat mendengar suara teriakan Nessa.

__ADS_1


“Tante Kiki!! Semangat, Nessa dukung Tante buat ngalahin tante jahat,” Nessa masih berada dalam pelukan Gavin, anak itu sudah berhenti menangis saat melihat Kiki sudah membalas Jovanka.


Tanpa peduli dengan situasi di sekitar, Nessa malah berteriak menyemangati Kiki. Membuat Kiki kembali bersemangat, ia tidak jadi berbalik arah, malah kembali mendekati Jovanka.


“Kiki!!” teriakan Nara tidak di gubris oleh Kiki, gadis yang sudah menjomlo selama hampir 25 tahun itu tetap pada pendiriannya, ingin membalas Jovanka walaupun sudah ia tampar satu kali.


Lagian dia juga sudah mendapatkan pendukung, Nessa telah menyemangatinya, ia tidak lagi peduli jika banyak yang menonton. Agar saat Jovanka tewas Kiki puas. Eh, ngga sampai tewas juga sih.


“Kiki!!” teriak Nara lagi.


“Entar dulu, Ra. Gue belum puas buat ngasih nih Mak Lampir dugeman, dia udah berani nampar lu, ya berarti harus di bales, enteng banget tangannya tadi pas nampar lu, dia pikir nggak sakit apa?”


“Tapi 'kan tadi kamu udah nampar balik dia, Ki?” Nara sedikit putus asa, wajahnya masih terasa perih karena di tampar, tapi dia juga belum bisa menghentikan Kiki untuk tidak membalas lagi.


“Kurang, Ra. Gue tuh pengen bikin muka dia cacat dulu, bukannya dia artis? Pasti kalau mukanya udah cacat, dia nggak berguna lagi,” ucap Kiki dengan seringai jahatnya, menggosokkan kedua tangannya sambil menatap ke arah Jovanka.


“Berani kau—” Jovanka menunjuk ke arah Kiki, mendengar ucapan Kiki tadi ia merasa takut sebenarnya, tapi tidak mungkin ia akan menunjukkannya.


Tinggi badannya dan Kiki memang berbeda, Kiki lebih pendek darinya, tapi ternyata Kiki seperti harimau, kejam.


“Apa kau kau? Mau nampar gue? Nggak masalah, tapi itu kalau lu bisa.” Kiki semakin mendekat.


“Apa kau tau? Nara yang sudah merebut suamiku, aku hanya memberinya pelajaran, apa masalahnya?” tanya Jovanka.


“Lu tanya masalahnya? Masalahnya tuh ya elu beg*! Kalau lu mau ngasih pelajaran, ya yang di kasih pelajaran itu suami lu! Bukan Nara!!”


“Nara nggak salah, kalau lu pikir Nara mau ngerebut suami lu, lu yang gila kali! Lu pikir Nara mau jadi pelakor? Ogah lah pasti, di dunia ini laki-laki nggak cuma ada satu cuy, malahan di dunia ini populasi laki-laki lebih banyak dari perempuan.”

__ADS_1


“Mikir tuh pake otak bukan pake dengkul Maemunah!!” tangan Kiki sudah gemas ingin menjambak rambut Jovanka, ia meremas tangannya sendiri, menahan amarah.


Kiki masih ingin mengeluarkan kata-kata kasarnya, “Lu tau nggak sih? Selama ini Nara udah menderita gara-gara suami lu,” menunjuk ke arah Gavin.


“Gara-gara suami lu, Nara harus nahan hinaan orang-orang, untung aja mentalnya kuat, coba bayangin kalau nggak kuat, pasti Nara udah masuk rumah sakit jiwa karena depresi,” mata Kiki memerah, membicarakan sahabat saat masih dalam kesulitan membuatnya lemah seketika.


“Lu tuh harusnya mikir yang bener woy! Harusnya lu kasihan sama Nara, coba kalo lu yang ada di posisi itu, pasti lu udah bunuh diri. Ngurusin anak kembar sendirian, nggak ada suami yang bantu, tinggal pun di panti asuhan, hah, capek gue.” Kiki menjeda ucapan panjang lebarnya, niat awal ingin menampar Jovanka tapi tidak jadi karena tiba-tiba ia malah mengungkit masa kelam Nara.


“Dan sekarang lu malah dateng ke sini cuma buat ngehakimin Nara, Heh, lu siapa nya Nara bangk*, Mendingan lu urusin tuh suami lu, bilangin sama dia buat jangan gangguin keluarga Nara lagi.”


“Iya, gue tau kalau suami lu punya jasa besar gara-gara udah nolongin Nevan, tapi ya tolong dong, dia punya istri, elu! Dan lu istrinya, jadi tolong banget, kalian udah punya kehidupan masing-masing, jadi jangan suka ganggu hidup Nara yang baru aja tenang,” Kiki mengatupkan tangannya di hadapan Jovanka, sejujurnya ia sudah lelah bicara panjang lebar, tapi masih belum puas kalsu tidak di keluarkan semua uneg-uneg nya.


“Dan buat lu,” menunjuk ke arah Gavin, “gue capek nih, mendingan lu bawa istri lu pergi dari sini, obatin muka dia yang dari gue tampar tadi, gue juga mau ngobatin bestie gue, kasian dia udah nahan perih gara-gara istri lu!”


Kiki berbalik arah, mulutnya sudah terasa kebas karena kebanyakan bicara, hari ini adalah kali pertama Kiki bicara panjang lebar seperti ceramah dalam hajatan.


.


.


.


bersambung


maaf men-temen, bab ini mengandung banyak kata kasar🌚😅


dobel up, jangan lupa banyakin like ama komennya yah😚

__ADS_1


eh, kira-kira gimana ekspresi Gavin pas Kiki ngomongin Nara tadi?😜


__ADS_2