
Jovanka langsung memutar kemudinya, membalik arahkan mobil ke tempat awal. Setelah mendapat telpon dari bawahannya barusan kalau mereka telah ketahuan, Jovanka ingin melihat langsung ke sana.
Dadanya berdebar dengan kencang, kenyataan pahit yang akan ia terima bahwa pasti Gavin akan marah besar padanya. Jovanka mencengkram erat kemudian sampai kuku-kukunya memutih.
Butuh setengah jam untuk balik lagi ke tempat itu, Jovanka langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat sudah hampir sampai, ia memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup jauh.
Cahaya remang-remang dari gubuk kumuh itu masih terlihat, dan juga setelah mendekat ternyata tempat ini sudah sepi. Hanya tersisa anak buahnya yang pingsan akibat di pukuli.
Dia meneguk ludah, dengan hati-hati Jovanka mulai masuk ke dalam.
Tanpa ia duga, tiba-tiba dari arah belakangnya ada seseorang yang memegang kedua tangannya, matanya melotot, terkejut melihat banyaknya polisi di tempat itu.
“Berengsek!” umpat Jovanka, ia merutuki dirinya sendiri karena telah ceroboh.
Jovanka mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman salah satu polisi itu, tapi sayang, karena polisi yang lain barusan memborgolnya.
“Lepaskan aku!!” teriak Jovanka kembali mencoba untuk memberontak.
__ADS_1
“Diam!! Jika Anda mencoba untuk kabur, kami terpaksa menggunakan senjata untuk menangkap Anda!” ancam salah satu polisi menunjukkan senjata api.
Jovanka diam, kilatan amarah terlihat jelas di kedua matanya, ia terlalu ceroboh kali ini. Ia tidak pernah berpikir kalau Gavin akan melaporkan ke polisi.
Dengan terpaksa Jovanka mengikuti kemana polisi pergi, kedua tangannya sudah di borgol, polisi yang di bawa Gavin pun jumlahnya tidak sedikit, mereka semua membawa senjata api. Saat berjalan pun Jovanka di kepung, tak ada celah untuk kabur.
.
.
.
Gavin tidak jadi untuk mengobati kedua anaknya di rumah, akan kelamaan karena jaraknya dari tempat ini ke rumah cukup jauh. Satu jam baru sampai. Dan ia takut kalau Nessa dan Nevan akan terus kesakitan.
“Rafli, ambilkan kotak obat!”
Dengan cepat Rafli mengambil kotak obat yang sudah di sediakan sebelum pergi ke sini. Gavin mengambil dengan cepat.
__ADS_1
Gavin segera mengobati luka Nessa, dan Fahmi mengobati luka Nevan. Kedua pergelangan tangan Nessa lecet, dan memerah akibat tali yang mengikat tadi.
Begitu juga dengan Nevan, keduanya mencoba untuk menahan rasa perih saat Gavin dan Fahmi mulai mengobati luka.
"Sakit?" tanya Gavin sambil meniup pergelangan tangan Nessa, ia sendiri bisa merasakannya.
"Iya, Yah. Perih, tapi aku tahan, kok!" ucap Nessa, tapi ia meringis saat Gavin mengoleskan kembali obat itu ke pergelangan tangannya.
“Jangan tahan, nangis aja. Ayah tau kalau kalian ketakutan,” Gavin mecoba untuk pelan-pelan agar Nessa tidak terlalu kesakitan.
"Kita nggak takut kok, Yah. Tadi aja talinya udah mau ke buka sama Nevan, tapi tante jahat itu balik lagi. Jadinya kita nggak bisa kabur," Nessa sudah merasa tidak terlalu sakit.
Kedua pergelangan tangannya di perban. Memang mereka berdua tidak takut, tapi saat hari sudah menjelang malam, rupanya tempat itu menjadi cukup seram.
“Sekarang kita pulang, kalian juga harus ganti baju. kotor banget, nenek sama bunda juga khawatir sama kalian.” Gavin memakaikan mereka berdua sabuk pengaman.
Mereka berlima pulang dari tengah hutan di pegunungan itu, melewati jalanan kecil yang sunyi dan gelap. Hanya ada cahaya lampu dari mobil mereka yang menjadi penerang.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Nessa dan Nevan tertidur karena lelah. Dalam pelukan Gavin, kehangatan mereka rasakan. Hal yang belum pernah mereka berdua dapatkan.