
Nara menghembuskan napas lega saat mereka sudah sampai di rumah sakit. Kemacetan di jalan ternyata lumayan lama, Nara sampai gelisah tak karuan karena masih butuh waktu lama untuk sampai.
Beruntung lima belas menit setelah itu jalanan tidak lagi macet dan setengah jam kemudian mereka sudah sampai. Suhu tubuh Nevan masih terasa panas, Nara melihat kalau anaknya sedang tertidur.
Fahmi keluar dari mobil dan membuka pintu belakang, dia mengambil Nevan dan membawanya ke dalam gendongan. Nessa mengikuti mereka dari belakang, salah satu tangannya di gandeng Nara. Gadis kecil itu sejak tadi diam, dia ikut merasa khawatir dengan keadaan adiknya.
Beberapa perawat membantu Fahmi dengan menunjukkan jalan, mereka begitu terkejut saat mendengar suara teriakan Fahmi. Seakan kalau keadaan Nevan sangat kritis.
Sedangkan Nara dan Nessa, mereka di tahan oleh salah satu perawat dan menyuruh mereka mengisi formulir. Sungguh saat ini hati Nara sedang kacau, tapi dia menuruti permintaan perawat. Buru-buru Nara mengisinya, dia ingin segera menyusul Fahmi.
Bahkan air matanya masih terus keluar. Tanda tangan terakhir, Nara kembali menggandeng Nessa dan mereka berlari menyusul Fahmi. Sampai matanya tak sengaja melihat Fahmi yang sedang duduk di kursi tunggu depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.
Napasnya terengah-engah, begitu juga dengan Nessa. Kali ini Nessa merasa kalau bunda nya sama sekali tidak merasa kasihan padanya, Nessa merasa kalau Nara memperlakukan dirinya seperti orang dewasa, kecepatan berlari Nara yang sangat sulit Nessa imbangi.
"Bun... Bunda, kenapa tadi Nessa nggak Bunda gendong aja. Nggak kasihan apa sama Nessa, di suruh lari-lari muterin rumah sakit. Nessa 'kan jadi capek."
Masih berusaha mengatur napas yang sudah hampir habis, Nessa memegangi lututnya sambil berjongkok. Bunda kejam, pikirnya yang sedang menangis dalam hati.
Tak menghiraukan ucapan Nessa, Nara berjalan perlahan menghampiri Fahmi. Dia ikut duduk di samping Fahmi. Nara juga masih mengatur napas, dia lelah sama seperti Nessa. Hitung-hitung olahraga, batinnya.
"Kak, Nevan gimana?"
Fahmi mengangkat kepalanya mendengar suara Nara, dia melamun sampai tidak sadar kalau Nara sudah duduk di sampingnya. Di lihatnya kalau Nara sedang bersender pada dinding sembari menutupi kedua matanya dengan tangan.
"Nevan masih di periksa dokter di dalem. Semoga aja dia nggak kenapa-napa."
__ADS_1
Sampai matanya melihat ke arah Nessa yang sedang berjalan mendekat. Gadis kecil itu tidak cerewet seperti biasa, tapi Nessa terlihat sedang kelelahan.
"Kamu kenapa?" tanya Fahmi saat Nessa sudah duduk di lantai di bawah kakinya.
"Bunda jahat, Om. Bunda narik tangan Nessa buat ikutan lari. Masa Bunda lupa kalau aku masih anak kecil, aku 'kan jadi capek." Sungutnya, wajahnya cemberut menahan kesal.
"Bunda tadi panik, jadi lupa kalau kamu nggak bisa lari kenceng." Nara mencoba membela diri, posisinya masih sama seperti tadi.
Nara mencoba menahan air matanya agar tidak keluar, sebenarnya juga merasa bersalah karena kepanikannya membuat Nessa menjadi marah padanya. Seharusnya tadi dia menggendong Nessa tapi sekarang sudah terlanjur.
Melihat itu Fahmi mencoba menahan tawa, kelakuan Nessa ternyata bisa menghibur. Padahal Nessa tak berbuat apa-apa, tapi entah kenapa malah terasa lucu baginya.
Tidak ada lagi yang bicara di antara mereka, semuanya diam. Nessa sudah berpindah tempat duduk di samping Fahmi. Sesekali Nessa menghitung banyaknya orang-orang yang lewat di depan mereka, sampai akhirnya dia merasa bosan.
Cukup lama menunggu, hampir setengah jam. Dan akhirnya pintu ruangan terbuka, dokter keluar dari tempat itu. Menutup kembali pintu yang di dalamnya sedang di pakai Nevan.
"Dok, gimana keadaan anak saya?"
"Anak Ibu saat ini baik-baik saja, dia sedang tertidur akibat infus yang kami pasang. Dan kami mendiagnosis kalau anak Ibu mengalami Acute myeloblastic leukemia (AML) atau leukemia mieloblastik akut. Tapi kami masih perlu memeriksa lebih lanjut serta melakukan tes darah dan aspirasi sumsum tulang. Menurut gejala yang di rasakan anak Ibu, memang itu yang sedang dia alami."
"Ta... Tapi bagaimana bisa tiba-tiba dia memiliki penyakit seperti ini, Dok?" tubuhnya bergetar, harapannya yang ingin Nevan hanya sakit ringan kini pupus sudah.
Tubuhnya terasa lemas, sebisa mungkin Nara mencoba bertahan agar tidak terjatuh. Dia masih ingin penjelasan lebih lanjut, berharap kalau dokter di depannya ini salah mendiagnosa.
"Penyakit leukemia memang sering terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, penyebab mengapa bisa memiliki penyakit ini juga banyak, bisa jadi karena salah satu anggota keluarga anda ada yang pernah menderita leukemia. Atau menderita kelainan genetika, seperti Down Syndrome. Menderita kelainan darah, seperti sindrom mielodisplasia"
__ADS_1
"Atau anak anda pernah menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radioterapi. Masih banyak lagi kenapa bisa memiliki penyakit leukemia ini." Ucap dokter laki-laki itu panjang lebar.
"Lalu, apakah anak saya bisa sembuh kembali?" Perkataan panjang lebar dokter sama sekali tidak Nara pahami. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan putranya. Hanya itu yang Nara inginkan.
"Tentu bisa, banyak cara yang dapat di lakukan. Kemoterapi, yaitu metode pengobatan dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker, contohnya chlorambucil. Obat dapat berbentuk tablet minum atau suntik infus. Terapi imun atau imunoterapi, yaitu pemberian obat-obatan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu tubuh melawan sel kanker."
"Bisa juga dengan terapi target, yaitu penggunaan obat-obatan untuk menghambat produksi protein yang digunakan sel kanker untuk berkembang.
Radioterapi, yaitu metode pengobatan untuk menghancurkan dan menghentikan pertumbuhan sel kanker dengan menggunakan sinar radiasi berkekuatan tinggi. Atau kalau ingin menghilangkan kanker ini bisa juga dengan transplantasi sumsum tulang, yaitu prosedur penggantian sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat."
"Silahkan mengambil keputusan yang tepat dan juga agar kita bisa mengobati anak ibu dengan cepat agar tidak semakin parah. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter lalu melangkah pergi meninggalkan Nara dan Fahmi yang sedang mencerna penjelasan dokter barusan.
Setelah kepergian dokter, tubuh Nara terjatuh lemas. Dia terduduk di lantai yang dingin. Air matanya mengalir deras dengan suara tertahan. Nara memukul dadanya yang terasa sesak. Mengapa tiba-tiba begini?
Fahmi ikut terduduk, dia memeluk Nara dan mencoba menenangkan. Air matanya ikut mengalir, merasa sama rapuhnya dengan Nara.
Tidak peduli dengan tatapan iba dari orang-orang yang lewat di dekatnya, Nara terus menangis di pelukan Fahmi. Bahkan kemeja Fahmi sudah basah akibat air matanya yang sejak tadi keluar.
Nessa mendekat, dia yang masih kecil tidak mengerti dengan perkataan pak dokter. Tapi saat melihat bunda nya menangis Nessa tahu kalau bukan kabar baik yang di dapat.
"Bunda... "
.
.
__ADS_1
.
bersambungš¤§