
“Ngomong-ngomong, Kak Fahmi bilang kalau ada urusan penting yang pengen di bicarakan, sebenarnya ada apa?” Nara menaruh nampan yang berisi beberapa gelas minuman dan sepiring camilan di atas meja.
Kemudian dia duduk di sofa, bersama dengan Kiki yang baru datang. Ia menatap Fahmi lalu berganti menatap ayahnya Fahmi, Irwan. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan ayahnya Fahmi, tapi entah kenapa, Nara melihat sepertinya ayahnya Fahmi selalu menatap ke arahnya.
“Begini, sebenarnya memang ada hal penting yang ingin kami bicarakan ... ” Fahmi berhenti sejenak, ia mengatur napasnya agar bisa lebih tenang.
Rasanya berdebar saat ingin memberitahu kebenaran ini pada Nara. Banyak bayangan yang terlintas di kepalanya, tentang reaksi Nara setelah mendengar hal penting ini.
Kiki dan tante Helen pun hanya diam, menjadi pendengar tanpa ada komentar. Sesekali tante Helen menyesap teh panas miliknya.
“Saya jadi bingung sendiri, mungkin hal ini nggak akan membuat kamu percaya secara langsung dan akan mengira kalau saya dan ayah berbohong. Tapi memang kenyataannya harus segera dibicarakan.”
Nara mengerutkan dahinya, Fahmi terlalu berbelit menurut Nara, "Sebenarnya ada apa sih, Kak?"
"Ra ... Sebenarnya, kamu adalah adikku, Ra, adik kandungku, dan ayah kandungmu juga adalah ayahku ... " ucap Fahmi yang sendirinya bingung bagaimana caranya agar bisa memberitahu Nara percaya dengan apa yang dia katakan.
Deg!
Sontak Nara tertegun, untuk sesaat ia mematung dengan mata melebar karena terkejut. Begitu pula dengan dua orang yang menjadi pendengar. Bahkan teh hangat yang sempat di minum tante Helen hampir menyembur keluar.
__ADS_1
“Ah, Kak Fahmi ada-ada aja, jangan bercanda gitu ...” ucap Nara sedikit terbata, bagaimanapun juga yang Nara ketahui, bahwa ia adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan selama 23 tahun hidupnya.
"Buat apa saya bercanda, Ra? Apa kamu nggak percaya?" tanya Fahmi, ia sudah menebak hal ini. Nara pasti tidak akan percaya dengan apa yang dia ucapkan. Tapi kenyataan ini memang benar adanya, Nara adiknya. Adik kandungnya.
"Nggak!!" tegas Nara, "Aku nggak akan percaya gitu aja, kalian pasti bohong, lagian kenapa tiba-tiba bilang kayak begini?" Nara meremas ujung pakaiannya.
Mana mungkin ia percaya, hal ini begitu tiba-tiba, pasti Fahmi berbohong, begitu isi benak Nara saat ini.
"Ra, aku beneran nggak bohong. Kamu mau bukti? aku ada buktinya ... " Fahmi mengeluarkan sebuah benda dari jasnya, dan memberikannya pada Nara.
Kiki yang duduk di sebelah Nara pun sontak menoleh, ingin melihat bukti yang Fahmi bawa. Ternyata itu adalah album foto yang ukurannya kecil. Dengan perlahan dan tangan gemetar, Nara pun membukanya.
Tapi, yang menjadi fokusnya adalah, foto bayi di keluarga itu, sangat mirip dengannya saat masih bayi. Ia ingat kalau ia punya fotonya dari ibu Mira. Tangannya semakin gemetar.
Lalu ia membuka lembar kedua album tersebut, sama seperti sebelumnya, masih tentang foto keluarga. Tiba-tiba matanya memanas, betapa ia ingin menangis saat membayangkan semua ini benar, kalau dia punya keluarga.
"Ra, ternyata Kak Fahmi lucu juga ya waktu kecil ... " celetuk Kiki, ia sama sekali tidak melihat kalau Nara sedang menahan tangis.
Sontak hal itu membuat Nara menginjak kaki Kiki di bawah meja, Kiki meringis, mengusap kakinya yang terasa perih, lalu memandang Nara kesal.
__ADS_1
"Ihh ... Kamu ini kenapa sih? Kayaknya banyak dendam sama aku ... " ucapnya dengan bibir yang mengerucut.
"Gimana, Ra? Kamu masih nggak percaya?" tanya Fahmi, ia memandang Nara penuh harap. Ada rasa lega juga di hatinya, akhirnya ia bicara jujur tentang identitas Nara sebenarnya.
Nara menunduk, tak menjawab juga tak merespon. Rasa tak percaya itu begitu besar, bagaimana kebenaran ini sama sekali tak pernah terlintas di benaknya sama sekali. Dan juga begitu tiba-tiba.
Jika memang benar ia adalah adiknya Fahmi, dan dia juga mempunyai ayah yang masih hidup, tapi kenapa mereka tidak bilang jujur padanya sejak awal. Malah membiarkan dirinya menderita seorang diri, mengurus anak-anak sendiri, mencari nafkah sendiri.
Bahkan dengan teganya, membiarkan dia hidup di panti asuhan, ia seperti yatim piatu, tak punya keluarga, dan seperti anak yang terbuang. Walaupun ia sama sekali tidak masalah dengan hal itu, karena nyatanya, ia bisa bahagia walaupun tinggal di panti asuhan.
Sementara tante Helen, beliau juga merasa tak percaya, teh yang tadi hampir menyembur kini sudah masuk ke perut. Gelasnya sudah hampir kosong.
Kebenaran yang barusan Fahmi ucapkan memang tidak bisa membuat mereka percaya. Tapi itulah kenyataannya.
Tante Helen tiba-tiba teringat masa lalu, sekitar sebelas tahun yang lalu, di mana keluarganya sangat dekat dengan keluarga Fahmi. Saat itu, istri dari Irwan baru melahirkan seorang putri.
Namun sayangnya, beberapa bulan kemudian, putri mereka hilang. Tak bisa di temukan sampai membuat ibunya Fahmi menderita sakit keras akhirnya meninggal.
Kini tante Helen tak menyangka, ternyata putri dari sahabatnya yang hilang itu adalah Nara, Nara tidak hilang untuk selamanya, dia di temukan walaupun sangat terlambat.
__ADS_1